Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts

Sunday, December 2, 2018

√ Sejarah Pembebasan Irian Barat

Irian barat adalah bab konflik antara bangsa Indonesia - Belanda yang telah berlangsung lebih dari tiga kurun semenjak kedatangan mereka sekitar kurun ke-16 sampai pertengahan kurun ke-20. Dalam kurun waktu itu telah banyak korban nyawa melayang dan harta yang hancur. Untuk mengakhiri konflik ini, atas jasa baik PBB diadakanlah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda 23 Agustus - 2 November 1945. Dari konferensi ini dihasilkan keputusan antara lain akreditasi kedaulatan negara Indonesia oleh Belanda atas seluruh wilayah bekas Hindia Belanda. Selain itu, disepakati pula bahwa perkara Irian Barat yang juga menjadi bab dan wilayah Hindia Belanda akan dibicarakan dan diselesaikan satu tahun sehabis akreditasi kedaulatan.
 bab konflik antara bangsa Indonesia  √ Sejarah Pembebasan Irian Barat
Dalam perkembangan selanjutnya, permasalahan ihwal Irian Barat tidak kunjung selesai. Belanda selalu menolak ketika diajak berunding untuk membicarakan perkara Irian Barat. Berbagai cara diplomatik dilakukan pemerintah Indonesia semoga Belanda segera membebaskan Irian Barat namun selalu gagal. Hal ini berlangsung sampai tahun 1969 ketika Belanda balasannya menyerahkan Irian Barat sehabis terjadi banyak sekali kejadian bersenjata.

Perjuangan Membebaskan Irian Barat

Sebagaimana daerah-daerah lain di Hindia Belanda, Irian Barat yaitu tempat jajahan Belanda. Namun, dalam kesepakatan penyerahan kedaulatan kepada Negara Indonesia, Irian Barat belum dimasukan sebagai wilayah Indonesia. Menurut Konferensi Meja Bundar, perkara ini gres akan dibahas satu tahun sehabis penyerahan kedaulatan tersebut. Dalam perkembangannya, Belanda tidak mau menyerahkan Irian Barat. Menanggapi hal tersebut, timbullah usaha-usaha pembebasan Irian Barat dari tahun 1950-1969. Usaha-usaha itu mencakup usaha diplomasi dan konfrontasi bersenjata.

Usaha Diplomasi

Sebagai negara yang cinta damai, Indonesia ingin semoga penyerahan Irian Barat sanggup dilakukan secara tenang melalui negosiasi atau diplomasi. Sejak tahun 1950, Indonesia mengajak Belanda untuk mulai merundingkan perkara Irian Barat. Pada bulan Maret 1950, Indonesia dan Belanda membentuk komite bersama untuk perkara Irian Barat. Namun, komite tersebut tidak berhasil mencapai kata sepakat. Pemerintah Belanda dengan persetujuan parlemennya kemudian memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Kerajaan Belanda pada bulan Agustus 1952. Tindakan Belanda ini memunculkan protes keras dari banyak sekali kalangan di Indonesia. Indonesia menyatakan penghapusan terhadap misi militer Belanda pada bulan April 1953.

Pemerintah Indonesia juga terus berusaha mencari pinjaman internasional semoga sanggup menekan Belanda. Salah satunya melalui Konferensi Asia-Afrika. Dalam KAA di Bandung tanggal 18-24 April 1955, pihak Indonesia menerima pinjaman negara-negara akseptor KAA. Dalam salah satu pernyataannya, KAA yang disponsori oleh negara Indonesia, Burma, Pakistan, dan Sri Lanka menolak segala bentuk penjajahan. Negara-negara tersebut menganggap bahwa penjajahan yaitu suatu tindakan kejahatan.

Usaha untuk menekan Belanda juga dilakukan melalui organisasi PBB. Indonesia yang didukung negara-negara sobat senantiasa membawa problem Irian Barat dalam sidang-sidang PBB. Namun, usaha tersebut tetap saja tidak berhasil memaksa Belanda meninggalkan Irian Barat. Belanda selalu berusaha meyakinkan anggota PBB bahwa perkara Irian Barat yaitu perkara bilateral antara Indonesia dan Belanda, yakni dalam lingkup Uni Indonesia-Belanda. Hal ini menerima pinjaman dari negara-negara lain, terutama negara anggota Nato di mana Belanda juga menjadi salah satu anggotanya. Akibatnya, resolusi ihwal Irian Barat pun gagal memperoleh bunyi mayoritas.

Indonesia pun secara sepihak membatalkan persetujuan KMB termasuk membatalkan Uni Indonesia-Belanda yang dikukuhkan melalui UU No. 13 tahun 1956. Dengan penghapusan tersebut, Indonesia tidak lagi terjalin dalam ikatan khusus dengan Belanda, termasuk dalam perkara Irian Barat. Indonesia kemudian membentuk Provinsi Irian Barat dengan ibukota di Soasiu (Halmahera). Gubernur pertama provinsi Irian Barat ini yaitu Zainal Abidin Syah yang yaitu Sultan Tidore.

Sementara situasi di Indonesia, perilaku anti Belanda terus meningkat. Rakyat Indonesia menggelar rapat-rapat umum untuk menggalang pinjaman terhadap Irian Barat. Pada tanggal 18 November 1957 berlangsung rapat umum pembebasan Irian Barat di Jakarta. Rapat ini berlanjut dengan agresi pemogokan yang dilakukan para buruh yang bekerja di perusahaan Belanda. Pemerintah Indonesia juga melarang perusahaan penerbangan Belanda KLM untuk mendaratkan pesawatnya di Indonesia. Pada tahun yang sama juga terjadi pengambilalihan semua perusahaan milik Belanda di Indonesia. Pengambilalihan mi diperkuat dengan adanya Peraturan Pemerintah No.23 tahun 1958. Sampai final tahun 1958, semua perusahaan Belanda di Indonesia sudah dinasionalisasikan. Pada tanggal 17 Agustus 1960, Presiden Soekarno mengumumkan pemutusan relasi diplomatik dengan Belanda. Semua warga negara Belanda yang bekerja di Indonesia dipecat. Pemerintah juga membentuk Front Nasional Pembebasan Irian Barat sebagai organisasi untuk menghimpun seluruh kekuatan bangsa Indonesia guna membebaskan dan mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia.

Konfrontasi Bersenjata

Usaha diplomasi pemerintah indonesia yang mengalami jalan buntu menciptakan Indonesia tetapkan untuk juga menempuh jalur konfrontasi bersenjata. Kebijakan pemerintah Indonesia tersebut kemudian diikuti dengan persiapan-persiapan militer. Indonesia tetapkan untuk membeli senjata dari Uni Soviet (Rusia). Pada bulan Desember 1960, pemerintah Indonesia mengutus Jendral A. H. Nasution sebagai Mentri Keamanan Nasional / Kasad ke Moskow. Nasution berhasil mengadakan perjanjian jual beli senjata dengan pemerintah Uni Soviet. Indonesia juga mendekati India, Pakistan, Australia, Selandia Baru, Thailand, Inggris, Jerman, dan Perancis dengan tujuan semoga negara-negara tersebut tidak akan memperlihatkan pinjaman terhadap Belanda bila perang benar-benar terjadi antara Indonesia-Belanda.

Kian panasnya relasi antara Indonesia dan Belanda menyebabkan negara-negara lain di dunia mendesak semoga permasalahan Irian Barat segera diamsukkan kembali ke dalam kegiatan Sidang Umum PBB. Dalam Sidang Umum PBB tahun 1961, perkara Irian Barat diperdebatkan kembali. Dalam sidang tersebut, Sekjen PBB U Thant, meminta kesediaan Ellsworth Bunker seorang diplomat Amerika Serikat untuk menengahi perselisihan antara Indonesia dan Belanda. Bunker mengajukan permintaan semoga Belanda menyerahkan wilayah Irian Barat kepada Indonesia melalui PBB dalam waktu dua tahun. Indonesia mendapatkan permintaan tersebut dengan catatan semoga waktu pengembalian diperpendek. Belanda sebaliknya berpendirian hanya akan melepaskan Irian Barat kepada perwalian PBB untuk kemudian membentuk negara Papua. Tampak terperinci bahwa Belanda tidak ingin semoga Irian Barat menjadi bab dari wilayah Indonesia. Bahkan Belanda kemudian tanpa sepengetahuan PBB mendirikan negara Papua, lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaan. Selain itu, Belanda juga menambah kekuatan militernya di Irian Barat dengan mendatangkan kapal induk Karel Doorman.

Tantangan Belanda ini dijawab Indonesia dengan mengumumkan Trikora. Bertepatan dengan ulang tahun Agresi Belanda II yang ke-13 pada tanggal 19 Desember 1961, Presiden Soekarno di alun-alun Utara Yogyakarta mengeluarkan Tri Komando Rakyat (Trikora). Isi Trikora tersebut adalah:
  • Gagalkan pembentukan negara boneka papua buatan kolonial Belanda.
  • Kibarkan Sang saka Merah Putih di seluruh Irian Barat.
  • Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.
Dengan keluarnya Trikora, maka usaha fisik membebaskan Irian Barat mulai dilakukan. Pada tanggal 11 Januari 1962, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat yang berkedudukan di Makassar. Mayor Jendral Soeharto diangkat sebagai Panglima Komando Mandala. Tugas Komando Mandala yaitu sebagai berikut.
  • Menyelenggarakan operasi militer untuk membebaskan Irian Barat. Operasi ini mencakup penyusupan (infiltrasi), serangan besar-besaran (eksploitasi), dan penegakan kekuasaan RI (konsolidasi).
  • Menggunakan segenap kekuatan dalam lingkungan RI untuk membebaskan Irian Barat. Kekuatan itu baik berupa tentara reguler, sukarelawan, dan banyak sekali potensi perlawanan rakyat lainnya.
Melihat situasi ini, Ellsworth Bunker kembali mengajukan permintaan yang dikenal sebagai Rencana Bunker. Isinya antara lain penyerahan pemerintahan Irian Barat kepada Indonesia, sehabis sekian tahun member kesempatan kepada rakyat Irian Barat untuk memilih pendapat tetap dalam wilayah Indonesia atau memisahkan diri, untuk menghindari bentrok diadakan masa masa peralihan di bawah pengawasan PBB selama satu tahun.

Rencana Bunker ini diterima dengan baik oleh Indonesia namun ditolak Belanda. Sikap keras Belanda ini mendorong Indonesia menggelar Operasi Jayawijaya berupa operasi besar-besaran untuk membebaskan Irian Barat. Dalam situasi panas ini, terjadi pertempuran Laut Aru yang melibatkan tiga kapal torpedo Angkatan Laut RI, yakni Macan Tutul, Macan Kumbang, dan Macan Harimau dengan kapal perusak serta Fregat Belanda yang dibantu pesawat udara. Dalam pertempuran itu Kapal Macan Tutul karam bersama Komodor Yos Sudarso, Kapten Wiratno dan awak kapal lainnya. Pasukan Indonesia juga melaksanakan penyusupan dengan menerjunkan penerbang-penerbang Indonesia menembus radar Belanda ke pedalaman IrianBarat.

Amerika Serikat khawatir konflik antara Indonesia dan Belanda akan mengganggu keamanan di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik. Amerika Serikat kemudian mendesak Belanda untuk berunding. Pada tanggal 15 Agustus 1962, negosiasi antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Dalam negosiasi tersebut, Indonesia diwakili oleh Dr. Subandrio, sedangkan Belanda diwakili oleh Van Roijen, dan Schurmann. Perundingan ini menghasilkan Persetujuan New York yang berisi tentang:
  • Penghentian permusuhan.
  • Paling lambat 1 Oktober 1962, UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) tiba di Irian Barat untuk melaksanakan serah terima kekuasaan dari pemerintah Belanda. Sejak dikala itu, bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera PBB.
  • UNTEA akan menggunakan tenaga-tenaga Indonesia baik sipil maupun militer. Tenaga militer dipakai sebagai penjaga keamanan bersama putra Irian Barat sendiri. UNTEA juga akan menggunakan sisa-sisa pegawai Belanda yang diperlukan.
  • Pasukan Indonesia tetap tinggal di Irian Barat yang berstatus di bawah UNTEA.
  • Angkatan Perang Belanda dan pegawai sipilnya berangsur-angsur dipulangkan dan harus selesai paling
  • lambat 11 Mel 1963.
  • Bendera Indonesia mulai berkibar 31 Desember 1962 di samping bendera PBB. Pemerintah RI mendapatkan pemerintahan di Irian Barat dari UNTEA pada tanggal 1 Mei 1963.
  • Pada tahun 1969, diadakan penetuan pendapat rakyat atau L’cpera (Ascertainnient of the WisIie of the People).
  • Antara Irian Barat dan tempat Indonesia lainnya berlaku kemudian lintas bebas.

Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA)

Sesuai dengan kesepakatan New York, pada tahun 1969 diselenggarakan Pepera yang disaksikan utusan Sekretaris Jendral PBB. Penyelenggaraan Pepera melalui tiga tahap, yaitu tahap konsultasi, pemilihan anggota dewan musyawarah, dan tahap pelaksanaan Pepera. Tahap konsultasi dimulai semenjak 24 Maret 1969, berupa konsultasi dengan dewan-dewan kabupaten ihwal tata cara Pepera. Pemilihan anggota dewan musyawarah berakhir pada bulan Juni 1969. Sementara pelaksanaan Pepera dilakukan perkabupaten mulai 14 Juli 1969 sampai 4 Agustus 1969.

Hasil Pepera memperlihatkan bunyi bundar bahwa masyarakat Irian Barat ingin tetap menjadi bab dari Republik Indonesia. Hasil Pepera ini dibawa oleh diplomat PBB Ortis Sanz untuk dilaporkan dan disahkan dalam sidang Majelis Umum PBB ke-24. Irian Barat kemudian resmi menjadi provinsi ke-26 Republik Indonesia dengan nama Provinsi Irian Jaya. Pada tanggal 1 Januani 2000, Irian Jaya diganti menjadi Provinsi Papua.

Sekian uraian ihwal Sejarah Pembebasan Irian Barat, semoga bermanfaat. 

Referensi
  • Sri Pujiastuti, Dkk. 2007. IPS TERPADU untuk Sekolah Menengah Pertama dan MTS Kelas IX. Jakarta: Erlangga.

Sumber http://www.ilmusiana.com

Saturday, December 1, 2018

√ Isi Dan Kepanjangan Trikora 1961

TRIKORA ialah abreviasi dari kepanjangan Tri Komando Rakyat. Pelaksanaan Trikora telah merupakan bab dari sejarah nasional termasuk sejarah usaha bangsa Indonesia. Di lihat dari kepanjangannya, sanggup kita lihat terdapat tiga hal yang isinya menjadi komando dari rakyat. TRIKORA merupakan suatu perintah kepada Rakyat Indonesia untuk melakukan usaha Pembebasan Irian Barat secara resmi dan konsekwensi logis daripada politik Konfrontasi. Trikora kala itu menerima sambutan luar biasa dari rakyat Indonesia. Ribuan rakyat secara suka-rela meminta biar dikirim ke Irian Barat. Hal ini dikarenakan Trikora telah menjadi manifestasi tekad-kemauan Rakyat Indonesia untuk mengusir imperialisme dari Irian Barat selekas mungkin. Dengan dicetuskannya Trikora tersebut, maka konfrontasi antara Belanda dan Indonesia pun dimulai.
 Pelaksanaan Trikora telah merupakan bab dari sejarah nasional termasuk sejarah perjuan √ Isi dan Kepanjangan Trikora 1961

Isi Trikora 1961

Trikora pertama kali diumumkan oleh Presiden Soekarno dalam sebuah pidato di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1961. Hal ini sebagai bentuk respon cepat dari pemerintahan Indonesia atas tindakan kolonial Belanda yang mendeklarasikan kemerdekaan Negara boneka Irian Barat. Tiga komando yang dikenal sebagai Tri Komando Rakyat tersebut pada pada dasarnya berisi hal-hal sebagai berikut:
  • Gagalkan pembentukan Negara boneka Papua buatan Belanda Kolonial
  • Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia;
  • Bersiaplah untuk mobilisasi umum untuk mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa.
Langkah pertama untuk melaksanakan Trikora ialah membentuk komando operasi yang diberi nama Komando Mandala Pembebasan Irian Barat dengan markas besar di Makassar. Komando itu dibuat pada tanggal 2 Januari 1962, dipimpin oleh Soeharto dengan kiprah merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi-operasi militer untuk mengembalikan Irian Barat ke dalam wilayah Republik Indonesia. Operasi itu antara lain dalam bentuk inflitrasi, eksploitasi, dan konsilidasi kekuatan.
  • Tahap Infiltrasi dilaksanakan hingga tahun 1962. Pada tahap ini direncanakan penyusupan pasukan ke tempat tertentu guna membuat tempat bebas de facto.
  • Tahap Eksploitasi dimulai awal tahun 1963. Pada tahap eksploitasi direncanakan serangan terbuka terhadap induk militer lawan dan menduduki semua pos penting yang menjadi pertahan musuh.
  • Tahap konsilidasi dimulai awal tahun 1964. Pada tahap ini direncanakan penegakan kekuasan RI secara mutlat di seluruh Irian Barat.
Sekian uraian perihal Isi dan Kepanjangan Trikora 1961, semoga bermanfaat.

Sumber http://www.ilmusiana.com

Sunday, November 18, 2018

√ Insiden Rengasdengklok: Latar Belakang Dan Kronologis

Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang dan Kronologis - Rengasdengklok selalu jadi topipembicaraan terutama menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia. Rengasdengklok bekerjsama ialah nama sebuah kota kecil di Jawa Barat. Rengasdengklok menjadi menarik lantaran menjadi bab dari sejarah Proklamasi Indonesia. Di kota inilah kedua pemimpin Bangsa Indonesia ditempatkan setelah melewati insiden "penculikan" oleh para cowok di Jakarta. Peristiwa itulah yang umum dikenal dengan nama Peristiwa Rengasdengklok, yang terjadi sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada kesempatan ini, kami akan menceritakan kembali seputar insiden Rengasdengklok. Uraiannya kami bagi menjadi dua bagian, yaitu latar belakang terjadinya insiden Rengasdengklok dan kronologis jalannya insiden itu, selamat membaca. 

Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang dan Kronologis 

 selalu jadi topipembicaraan terutama menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia √ Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang dan Kronologis
Monumen Rengasdengklok

Latar Belakang Peristiwa Rengasdengklok

Peristiwa Rengasdengklok merupakan insiden penting yang mendorong percepatan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Kejadian ini juga memperlihatkan konflik dan perbedaan pendapat antarkelompok, terutama golongan renta dan golongan muda dalam menentukan waktu proklamasi. Namun, konflik tersebut berakhir dengan perilaku saling menghargai di antara mereka. Tanpa kiprah golongan muda, Indonesia mungkin belum memproklamasikan secepat itu. Hal itu memperlihatkan bahwa para cowok Indonesia bisa merespon keadaan secara sigap. Para cowok pun tetap menghormati golongan tua, dengan tetap memerhatikan para tokoh yang perlu dihormati.

Para cowok beropini bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan oleh kekuatan bangsa sendiri, bukan oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Menurut mereka, PPKI ialah buatan Jepang setelah mendengar Jepang mengalah kepada sekutu, Sutan Syahrir yang merupakan tokoh cowok segera menemui Moh. Hatta di kediamannya. Syahrir mendesak agar Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta yang sanggup disebut golongan renta belum bersedia. Mereka yakin bahwa bagaimanapun Indonesia tidak lagi tetap akan merdeka.

Pada Rabu, 15 Agustus 1945 sekitar jam 20.00, para cowok mengadakan pertemuan di sebuah ruangan di belakang Laboratorium Biologi Pegangsaan Timur 17 (sekarang FKM UI). Pertemuan dihadiri oleh Chaerul Saleh, Darwis, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, Aidit Sunyoto, Abubakar, E. Sudewo, Wikana, dan Armansyah.

Pertemuan yang dipimpin Chairul Saleh tersebut tetapkan bahwa "kemerdekaan Indonesia ialah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak sanggup digantung-gantungkan pada orang atau kerajaan lain. Untuk menyatakan bahwa Indonesia sudah sanggup merdeka, dan sudah tiba ketika merdeka, baik berdasarkan keadaan atau kodrat maupun histroris. Dan jalannya hanya satu, yaitu: dengan proklamasi kemerdekaan oleh bangsa Indonesia sendiri, lepas dari bangsa asing, bangsa apapun juga". Segala ikatan dan kekerabatan dengan kesepakatan kemerdekaan dari Jepang harus diputuskan. Sebaliknya dibutuhkan diadakannya negosiasi dengan Soekarno dan Hatta semoga mereka diikutsertakan menyatakan Proklamasi mengingat perjuangan Sutan Syahrir belum berhasil.

Untuk memberikan hasil putusan Perundingan Pegangsaan ini kepada Soekarno, maka pada pukul 22.00 Wikana dan Darwis tiba ke rumah Sukarno di Pegangsaan Timur 56. Namun Soekarno tetap pada pendiriannya bahwa Jepang masih berkuasa secara de facto. Soekarno bahkan mengingatkan bahwa musuh mereka bukan lagi Jepang, tetapi Belanda yang niscaya segera tiba setelah Jepang menyerah. Akhirnya pada pukul 24.00 para cowok meninggalkan kediaman Soekarno. Akibat perbedaan tersebut, maka terjadilah insiden Rengasdengklok.

Mereka eksklusif mengadakan pertemuan di Jl. Cikini 71 Jakarta (seperti Sukarni, Yusuf Kunto, Chairul Saleh, dan Shodanco Singgih). Rapat memutuskan, menyerupai diusulkan Djohar Nur, "Segera bertindak, Bung Karno dan Bung Hatta harus kita angkat dari rumah masing-masing" . Chaerul Saleh yang memimpin rapat, menegaskannya sebagai keputusan rapat dengan berkata, "Bung Karno dan Bung Hatta kita angkat saja. Selamatkan mereka dari tangan Jepang dan laksanakan Proklamasi tanggal 16 Agustus 1945." Rencana mengamankan Sukarno dan Moh. Hatta pun disepakati. Shodanco Singgih ditunjuk untuk memimpin pelaksanaan planning tersebut.

Kronologis Peristiwa Rengasdengklok

Pada dinihari sekitar pukul 03.00 itu terjadilah sepeti yang mereka rencanakan. Peristiwa ini kemudian populer sebagai Peristiwa Rengasdengklok. Segera kelompok yang diberi kiprah mengamankan Soekarno melakukan tugasnya. Singgih meminta Bung Karno ikut kelompok Pemuda malam itu juga. Bung Karno tidak menolak keingingan para cowok dan minta semoga Fatmawati, Guntur (waktu itu berusia sekitar delapan bulan) serta Moh. Hatta ikut serta. Menjelang subuh (sekitar 04.00) tanggal 16 Agustus 1945 mereka segera menuju Rengasdengklok. Perjalanan ke Rengasdengklok dengan pengawalan tentara Peta dilakukan setelah makan sahur, lantaran waktu itu memang bulan Puasa.

Para cowok menentukan Rengasdengklok sebagai tempat membawa Soekarno dan Moh. Hatta dengan pertimbangan bahwa kawasan itu relatif aman. Hal itu lantaran ada Daidan Peta di Rengasdengklok yang hubungannya sangat baik dengan Daidan Jakarta. Para cowok menyadari Soekarno dan Moh. Hatta ialah tokoh penting sehingga keselamatannya harus dijaga. Jarak Rengasdengklok, sekitar 15 km dari Kedunggede, Kerawang. Sesampainya di Rengasdengklok, Sukarno dan Rombongan ditempatkan di rumah seorang keturunan Tionghoa Djiaw Kie Siong. Beliau ialah seorang petani kecil keturunan Tionghoa yang merelakan rumahnya ditempati oleh para tokoh pergerakan tersebut. Rumah Djiaw Kie Siong berlokasi di RT 001/09 Nomor 41 Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
 selalu jadi topipembicaraan terutama menjelang HUT Kemerdekaan Indonesia √ Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang dan Kronologis
Rumah Djiaw Kie Siong
Para cowok berharap tanggal 16 Agustus 1945 itu Bung Karno dan Bung Hatta bersedia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan. Ternyata Sukarno tetap pada pendiriannya. Soekarno tidak memenuhi ultimatum para cowok yang menginginkan proklamasi kemerdekaan tanggal 16 Agustus. Namun, para cowok inipun tidak memaksakan kehendak. Mereka mengamankan kedua tokoh itu semoga bisa berdiskusi secara lebih bebas, dan sedikit memperlihatkan tekanan tanpa bermaksud menyakiti kedua tokoh.

Pada 16 Agustus 1945 semestinya diadakan pertemuan PPKI di Jakarta, tetapi Soekarno dan Moh. Hatta tidak ada di tempat. Ahmad Subarjo segera mencari kedua tokoh tersebut. Setelah bertemu Yusuf Kunto dan kemudian Wekana terjadilah kesepakatan, Ahmad Subarjo diantara ke Rengasdengklok oleh Yusuf Kunto. Mereka tiba di Rengasdengklok pukul 17.30 WIB. Kemudian Ahmad Subarjo berbicara kepada para cowok dan memperlihatkan jaminan, bahwa proklamasi akan dilaksanakan tanggal 17 Agustus sebelum pukul 12.00. Akhirnya Shodanco Subeno mewakili para cowok melepas Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, dan rombongan kembali ke Jakarta, maka berakhirlah Peristiwa Rengasdengklok.

Sekian uraian perihal Peristiwa Rengasdengklok: Latar Belakang dan Kronologis, semoga bermanfaat.

Sumber http://www.ilmusiana.com

√ Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Indonesia

Perumusan teks Proklamasi menjadi awal bangsa Indonesia memasuki pintu kemerdekaan. Teks Proklamasi tersebut dirumuskan oleh para tokoh bangsa dengan satu tujuan, yaitu untuk mempercepat kemerdekaan Indonesia. Apa yang sering kita baca setiap 17 Agustus merupakan hasil rumusan Proklamasi di masa itu. Rumusan yang hanya terdiri beberapa baris itu menjadi menandakan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka. Pada kesempatan kali ini, kami akan menceritakan kembali seputar sejarah permusan teks proklamasi Indonesia. Kronologis, proses, dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perumusan teks Proklamasi tersebut akan kami ceritakan di sini secara lengkap, selamat membaca.

 menjadi awal bangsa Indonesia memasuki pintu kemerdekaan √ Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Indonesia
Ilustrasi

Kronologis Perumusan Teks Proklamasi

Setelah peristiwa Rengasdengklok, rombongan Ir. Soekarno segera kembali ke Jakarta sekitar pukul 23.00 WIB pada 16 Agustus 1945. Semula kawasan yang dituju ialah Hotel des Indes (Duta Indonesia). Namun, tidak jadi alasannya pihak hotel tidak mengizinkan acara apa pun selepas pukul 22.30 WIB. Di hotel yang terletak di Jalan Gajah Mada ini, pada pagi sebelumnya juga telah direncanakan pertemuan anggota PPKI, tetapi pihak Jepang melarangnya. Dalam keadaan demikian, Achmad Soebardjo membawa rombongan menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Setelah tiba di Jl. Imam Bonjol No. 1, Soekarno dan Moh. Hatta kemudian diantarkan Laksamana Maeda menemui Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer Jepang) Mayor Jenderal Hoichi Yamamoto. Akan tetapi, Gunseikan menolak mendapatkan Soekarno - Hatta pada tengah malam. Dengan ditemani oleh Maeda, Shigetada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penterjemah, mereka pergi menemui Somubuco (Direktur/ Kepala Departemen Umum Pemerintah Militer Jepang) Mayor Jenderal Otoshi Nishimura. Tujuannya untuk menjajaki sikapnya terhadap pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
 menjadi awal bangsa Indonesia memasuki pintu kemerdekaan √ Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Indonesia
Di rumah inilah teks Proklamasi dirumuskan
Pada pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat antara Soekarno - Hatta di satu pihak dengan Nishimura di lain pihak. Soekarno - Hatta bertekad untuk melangsungkan rapat PPKI pada pagi hari tanggal 16 Agustus 1945 Rapat PPKI itu tidak jadi diadakan alasannya mereka dibawa ke Rengasdengklok. Mereka menekankan kepada Nishimura bahwa Jenderal Besar Terauchi telah menyerahkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada PPKI. Di lain pihak, Nishimura menegaskan garis akal Panglima Tentara ke-XVI di Jawa, bahwa dengan menyerahnya Jepang kepada Sekutu berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo.

Berdasarkan garis akal itu, Nishimura melarang Soekarno - Hatta untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangkan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Sampailah Soekarno - Hatta pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi membicarakan soal kemerdekaan Indonesia dengan pihak Jepang. Mereka hanya berharap pihak Jepang supaya tidak menghalang-halangi pelaksanaan Proklamasi oleh rakyat Indonesia sendiri.

Proses Perumusan Teks Proklamasi

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Di rumah Maeda telah hadir, para anggota PPKI, para pemimpin pemuda, para pemimpin pergerakan dan beberapa anggota Chuo Sangi In yang ada di Jakarta. Setelah berbicara sebentar dengan Soekarno, Moh. Hatta, dan Achmad Soebardjo, maka kemudian Laksamana Maeda minta diri untuk beristirahat dan mempersilahkan para pemimpin Indonesia berunding di rumahnya. Para tokoh nasionalis berkumpul di rumah Maeda untuk merumuskan teks proklamasi. Kemudian di ruang makan Maeda dirumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ketika insiden bersejarah itu berlangsung Maeda tidak hadir, tetapi Miyoshi sebagai orang akidah Nishimura bersama Sukarni, Sudiro, dan B. M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Achmad Soebardjo membahas perumusan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Soekarno pertama kali menuliskan kata pernyataan Proklamasi sebagai judul pada pukul 03.00 WIB. Achmad Soebardjo memberikan kalimat “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”. Moh. Hatta menambahkan kalimat: “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya”. Soekarno menuliskan: Jakarta, 17 – 8 – 05 Wakil-wakil bangsa Indonesia sebagai penutup.
 menjadi awal bangsa Indonesia memasuki pintu kemerdekaan √ Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Indonesia
Perumus Teks Proklamasi; Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo
Pada pukul 04.00 WIB dini hari Soekarno meminta persetujuan dan tanda tangan kepada semua yang hadir sebagai wakil-wakil bangsa Indonesia. Para cowok menolak dengan alasan sebagian yang hadir banyak yang menjadi kolaborator Jepang. Sukarno mengusulkan supaya teks proklamasi cukup ditandatangani dua orang tokoh, yakni Soekarno dan Moh. Hatta, atas nama bangsa Indonesia. Usul Sukarni diterima. Dengan beberapa perubahan yang telah disetujui, maka konsep itu kemudian diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik.  Perubahan dalam naskah Proklamasi terdiri dari:
  • Kata tempoh diubah mendai tempo
  • Kata-kata "wakil-wakil bangsa Indonesia" pada bab tamat naskah diubah menjadi "atas nama bangsa Indonesia".
  • Perubahan penulisan tanggal, yaitu "Djakarta, 17-8-05" menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Tahun 05 merupakan abreviasi dari tahun Jepang (Sumera), yakni tahun 2605 yang bertepatan dengan tahun 1945 Masehi.
Pertemuan dini hari itu menghasilkan naskah Proklamasi. Agar seluruh rakyat Indonesia mengetahuinya, naskah itu harus disebarluaskan. Timbullah problem perihal cara penyebaran naskah tersebut ke seluruh Indonesia. Sukarni mengusulkan supaya naskah tersebut dibacakan di Lapangan Ikada, yang telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah Proklamasi. Namun, Soekarno tidak oke alasannya lapangan Ikada merupakan kawasan umum yang sanggup memancing bentrokan antara rakyat dengan militer Jepang. Ia sendiri mengusulkan supaya Proklamasi dilakukan di rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Usul tersebut disetujui dan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakannya bersama Hatta di kawasan itu pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.

Sekian uraian perihal Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Indonesia, semoga bermanfaat. 

Sumber http://www.ilmusiana.com

Thursday, November 15, 2018

√ Pemberontakan Di/Tii Di Banyak Sekali Daerah

Pemberontakan DI/TII pernah terjadi di banyak sekali tempat di Indonesia. Gerakan DI/TII bahwasanya sudah usang ada, yaitu semenjak lahirnya Komite Pembela Kebenaran PSII sebagai tanggapan dari perpecahan yang terdapat dalam Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII). Perpecahan itu menciptakan Kartosuwiryo mendirikan perguruan tinggi Suffah yang ada pada masa pendudukan Jepang dikembangkan menjadi sentra latihan kemiliteran bagi pemuda-pemuda Islam, terutama Hizbullah dan Sabilillah. Pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) ialah suatu gerakan yang menginginkan berdirinya sebuah negara Islam Indonesia. Pemberontakan DI/TII bermula di Jawa Barat, kemudian menyebar ke daerah-daerah lain, menyerupai Jawa Tengah, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan.

 pernah terjadi di banyak sekali tempat di Indonesia √ Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah

Pemberontakan DI/TII di Daerah

Berikut ini akan dijelaskan latar belakang dan proses pemberontakan DI/TII di beberapa daerah.

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat

Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo (S.M. Kartosuwiryo). Pada zaman pergerakan nasional, Kartosuwiryo merupakan tokoh pergerakan Islam Indonesia yang cukup disegani. Selama pemerintahan Jepang, Kartosuwiryo menjadi anggota Masyumi. Bahkan, ia terpilih sebagai Komisaris Jawa Barat merangkap Sekretaris I. Dalam kehidupannya, Kartosuwiryo memiliki keinginan untuk mendirikan Negara Islam Indonesia. Untuk memujudkan cita-citanya, Kartosuwiryo mendirikan sebuah pesantren di Malangbong Garut, yaitu Pesantren Sufah. Pesantren Sufah selain menjadi tempat menimba ilmu keagamaan juga dijadikan sebagai tempat latihan kemiliteran Hizbullah dan Sabillah. Dengan pengaruhnya, Kartosuwiryo berhasil mengumpulkan banyak pengikut yang kemudian dijadikan sebagai bab dari pasukan Tentara Islam Indonesia (TII). Dengan demikian, kedudukan Kartosuwiryo semakin kuat.

Pada bulan Februari diselenggarakan sebuah konferensi di Casayong, Jawa Barat. Dalam konferensi itu diputuskan untuk mengubah ideologi Islam dari partai menjadi Negara. Masyumi Jawa Barat dibekukan dan sebagai gantinya diangkat Kartosuwiryo sebagai imam bagi umat Islam Jawa Barat. Untuk menyempurnakan keputusan itu, maka dibentuklah Tentara Islam Indonesia (TII) dan sebagai puncaknya pada tanggal 7 Agustus 1949 diadakan Proklamasi pendirian Negara Islam Indonesia (NII).

Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah

Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah dipimpin oleh Amir Fatah dan Mahfu’dz Abdurachman (Kyai Somalangu). Amir Fatah ialah seorang komandan laskar Hizbullah di Tulangan, Sidoarji, dan Mojokerto. Setelah menerima pengikut, Amir Fatah kemudian memproklamasikan diri untuk bergabung dengan DI/TII pada tanggal 23 Agustus 1949 di Desa Pengarasan, Tegal. Amir Fatah Kemudian diangkat sebagai Komandan Pertempuran Jawa Tengah dengan pangkat Mayor Jenderal Tentara Islam Indonesia.

Selain itu, di Kebumen muncul pemberontakan DI/TII yang dilancarkan oleh Angkatan Umat Islam (AUI) yang dipimpin oleh Kyai Somalangu. Kedua gerakan ini bergabung dengan DI/TII Jawa Barat, pimpinan Kartosiwiryo. Pemberontakan di Jawa Tengah ini menjadi semakin berpengaruh sehabis Batalion 624 pada Desember 1951 membelot dan menggabungkan diri dengan DI/TII di tempat Kudus dan Magelang.

Untuk mengatasi pemberontakan-pemberontakan tersebut, Pemerintahan RI membentuk pasukan khusus yang disebut dengan Banteng Raiders. Pasukan Raiders ini melaksanakan serangkaian operasi kilat penumpasan DI/TII, yaitu Operasi Gerakan Banteng Negara (OGBN) di bawah pimpinan Letkol Sarbini, kemudian diganti oleh Letkol M. Bachrun, dan selanjutnya dipegang oleh Letkol A. Yani. Berkas operasi tersebut, pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah sanggup ditumpas pada 1954. Adapun yang mengatasi pembelotan Batalion 624, pemerintah melancarkan Operasi Merdeka Timur yang dipimpin oleh Letkol Soeharto.

Pemberontakan DI/TII di Aceh

Pada tanggal 20 September 1953 terjadi proklamasi bahwa Aceh merupakan bab dari Negara Islam Indonesia pimpinan Kartosuwiryo. Pernyataan itu diberikan oleh Daud Beureueh sehabis dikecewakan pimpinan Republik Indonesia yang menghapuskan status Aceh sebagai Daerah Istimewa. Daud Beureueh yang menjabat sebagai ketua PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh)  serta bekas Gubernur Militer Daerah spesial Aceh di masa Revolusi menjadi banyak yang mendukung gagasannya.

Pemberontakan DI/TII di Kalimantan Selatan

Pernyataan sebagai bab dari NII pimpinan Kartosuwiryo juga terjadi di Kalimantan Selatan pada bulan Oktober 1950. Ibnu Hajar alias Haderi bin Umar alias Angli ialah bekas Letnan Dua Tentara Nasional Indonesia yang bersama anggota kesatuannya melaksanakan desersi dan menyatakan bergabung dengan gerakan Kartosuwiryo. Bahkan Ibnu Hajar diangkat menjadi Menteri Negara oleh Kartosuwiryo.

Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan

Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan juga melaksanakan hal yang sama sehabis dikecewakan oleh Pimpinan RI. Sebagai ketua Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) yang beranggotakan sekitar 15.000 gerilyawan menuntut pemerintah semoga semua anggotanya diangkat menjadi tentara pemerintah, Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS), dengan nama Brigade Hasanuddin. Tuntutan ditolak, alasannya keanggotaan APRIS melalui seleksi. Penolakan itu mengecawakan, alasannya yang lolos seleksi justru Andi Aziz dan anak buahnya yang bekas tentara KNIL. Kekecawaan memuncak saat Letkol Warouw diangkat sebagai komandan Korps Cadangan Tentara Nasional (CTN), sehingga Kahar Muzakkar melarikan diri ke hutan dan memproklamasikan diri sebagai bab dari NII pimpinan Kartosuwiryo.

Gerakan DI/TII secara sedikit demi sedikit sanggup dipadamkan. Operasi militer yang paling usang ialah pengkapan Kartosuwiryo yang gres memperoleh hasil pada tanggal 14 Agustus 1962. Melalui pengadilan Mahkamah Angkatan Darat, Kartusowiryo dijatuhi eksekusi mati.

Sekian uraian wacana Pemberontakan DI/TII di Berbagai Daerah, semoga bermanfaat. 

Sumber http://www.ilmusiana.com

Sunday, November 4, 2018

√ Sejarah, Isi, Teks Sumpah Pemuda

Sumpah perjaka adalah suatu teks perjanjian yang isinya memuat tekad dan semangat persatuan perjaka Indonesia. Sejarah lahirnya sumpah ini bermula dalam suatu kongres perjaka yang terjadi pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928, di Jakarta. Kongres ini mempertemukan pemuda-pemuda dari banyak sekali pelosok nusantara yang sebelumnya menggabungkan diri dalam organisasi perjaka daerah. Dalam kongres tersebut, semua perjaka setuju untuk bersatu tanpa memandang asal, agama, organisasi, maupun suku. Persatuan ini diikat dalam sebuah sumpah bersejarah, yang berjulukan sumpah pemuda. Sejak dikala itu, persatuan Indonesia terus didengungkan oleh para perjaka untuk mencapai impian Indonesia merdeka. Hari pembacaan sumpah perjaka itu selanjutnya kita peringati setiap tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda.

Sejarah, Isi, Teks Sumpah Pemuda

 suatu teks perjanjian yang isinya memuat tekad dan semangat persatuan perjaka Indonesia √ Sejarah, Isi, Teks Sumpah Pemuda
Artikel Terkait: Isi dari Piagam Jakarta

Seperti apa isi dari sumpah perjaka tersebut? Nah, bahan inilah yang akan kami sajikan kepada pembaca. Namun, sebelum kita melihat isi sumpah pemuda, tidak lengkap rasanya jikalau kita tidak membicarakan terlebih dahulu sejarah yang mengiringi lahirnya sumpah ini. Olehnya itu, pembahasan akan kita bagi menjadi dua bagian, yaitu potongan pertama wacana sejarah yang melatarbelakangi terjadinya sumpah perjaka dan potongan kedua wacana isi dari sumpah perjaka tersebut. Tak perlu berlama-lama lagi, berikut inilah ialah bahan lengkapnya.

Sejarah Sumpah Pemuda

Sejarah sumpah perjaka dilatarbelakangi oleh munculnya dorongan untuk bersatu dalam diri perjaka Indonesia. Bagaimana tidak, semenjak zaman dahulu bangsa kita terpecah belah akhir perbedaan suku, agama, dan ras/golongan. Pemuda menganggap keadaan tersebut menciptakan penjajah semakin gampang untuk melaksanakan politik memecah-belah atau yang terkenal dikenal dengan nama politik "Devide et Impera". Perlawanan terhadap penjajah pun sangat sulit untuk dilakukan. Hal ini disebabkan oleh perlawanan bangsa Indonesia yang kala itu lebih banyak bersifat fisik dan kedaerahan sehingga sangat gampang dipatahkan oleh penjajah. Para perjaka cerdik menyadari kondisi ini dan mereka mulai berpikir untuk mengubah taktik perlawanan, dari gerakan fisik menjadi gerakan politik.

Maka bermunculanlah bermacam-macam organisasi-organisasi kepemudaan di daerah. Beberapa di antaranya yang cukup terkenal ialah sebagai berikut:
  1. Jong Java (Pemuda Jawa)
  2. Jong Sumatra Bond (Pemuda Sumatra)
  3. Jong Minahasa (Pemuda Minahasa)
  4. Jong Celebes (Pemuda Sulawesi), dan lain-lain
Menyadari pentingnya persatuan, mereka menginginkan semoga organisasi-organisasi yang bersifat kedaerahan itu melebur diri menjadi satu organisasi yang bersifat nasional, untuk bahu-membahu melawan penjajah. Sebab, pengalaman mengajarkan, bahwa organisasi bersifat kedaerahan sangat gampang dipatahkan oleh penjajah. Mereka semua alhasil bersepakat untuk melaksanakan kongres pemuda. Kongres itu dilakukan untuk menyatukan organisasi-organisasi kepemudaan yang saat  itu terpecah belah.

Kongres perjaka itu sendiri diselenggarakan di Jakarta dan terjadi sebanyak dua kali, yakni Kongres Pemuda I berlangsung pada tanggal 30 April - 2 Mei 1926 dan Kongres Pemuda II berlangsung pada tanggal 27 - 28 Oktober 1928. Pada Kongres Pemuda II itulah, mereka mengeluarkan sebuah ikrar, yang dikenal dengan nama "Sumpah Pemuda".

Isi Sumpah Pemuda

Isi sumpah pemuda terkandung dalam putusan hasil kongres perjaka dikala itu. Sumpah tersebut berintikan satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Berikut ini selengkapnya isi dari sumpah perjaka tersebut:
  1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia.
  2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
  3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Dan, dibawah inilah ialah naskah orisinil putusan kongres perjaka yang di dalamnya memuat sumpah pemuda:

 suatu teks perjanjian yang isinya memuat tekad dan semangat persatuan perjaka Indonesia √ Sejarah, Isi, Teks Sumpah Pemuda
Ikrar sumpah perjaka di atas, menjadi tonggak usaha bangsa Indonesia secara nasional untuk bahu-membahu melawan penjajah, guna menjadi bangsa yang merdeka dan bebas dari segala bentuk penjajahan dan penindasan.

Sekian uraian wacana Sejarah, Isi, Teks Sumpah Pemuda, semoga bermanfaat. 

Sumber http://www.ilmusiana.com

Wednesday, October 10, 2018

√ Arti Semboyan Bhineka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika, tentunya semua mengenal semboyan ini. Tahukah Anda arti dari semboyan tersebut? Kalimat Bhinneka Tunggal Ika sanggup kita lihat terpampang terang pada lambang Garuda Pancasila, yakni pada pita di bab kakinya. Menurut sejarah, peletakan semboyan Bhineka Tunggal Ika pada kaki burung garuda tersebut merupakan gagasan dari Presiden Soekarno. Semboyan ini telah mengakar berpengaruh dalam jiwa masyarakat Indonesia, jauh sebelum Negara ini terbentuk. Bukan sekedar kalimat biasa, tetapi kalimat semboyan ini mempunyai arti penting bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang majemuk.  Dalam kemajemukan itulah, Bhineka Tunggal Ika memainkan peranannya sebagai semboyan pemersatu.

Arti Semboyan Bhineka Tunggal Ika

 sanggup kita lihat terpampang terang pada lambang Garuda Pancasila √ Arti Semboyan Bhineka Tunggal Ika

Nah, pada kesempatan ini kami akan menjelaskan kepada Anda arti dari semboyan Bhineka Tunggal Ika dan seberapa penting posisinya bagi bangsa Indonesia, selamat membaca.

Sejarah Bhineka Tunggal Ika

Kalimat semboyan Bhinneka Tunggal Ika pertama kali dimuat dalam sebuah karya berjudul Kekawin Purusadasanta (Kitab Sutasoma), yang ditulis oleh Mpu Tantular tujuh kurun silam pada zaman kerajaan Majapahit. Kalimat tersebut bergotong-royong dibentuk Mpu Tantular untuk menyatukan perbedaan yang ada dalam dua agama besar ketika itu, yakni Buddha dan Hindu. Bunyi lengkap Bhinneka Tunggal Ika, ibarat yang termuat dalam kitab tersebut ialah sebagai berikut:
Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wisma, Bhinneki rakwa ring apan kena parwanosen, Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal, Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mengrwa. Artinya: bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa ialah tunggal. Tercepah belah, tetapi satu jua, artinya tidak ada dharma yang mendua.
Moh. Yamin merupakan tokoh yang pertama kali mengusulkan semoga semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut diadopsi menjadi semboyan Negara. Usul ini diterima oleh Soekarno dan ikut menjadi pembahasan dalam rapat BPUPKI. Akhirnya, semuanya setuju untuk mengakibatkan kalimat ini sebagai semboyan bangsa Indonesia bantu-membantu dengan burung Garuda yang ditetapkan sebagai lambang negara Indonesia.

Arti Bhineka Tunggal Ika

Lantas, apa arti dari semboyan Bhineka Tunggal Ika? Kalimat Bhinneka Tunggal Ika terdiri dari tiga suka kata, yakni Bhinneka, Tunggal, dan Ika. Dalam ungkapan Jawa Kuno, masing-masing kata tersebut mempunyai arti; "Bhinneka" berarti "beragam", "Tunggal" berarti "satu", dan "Ika" berarti "itu". Sekarang ini, adonan dari semua kata tersebut umum diartikan sebagai "Berbeda-beda tapi tetap satu jua".

Bagi bangsa Indonesia, kalimat ini merupakan kalimat pengikat atau pemersatu. Kalimat tersebut mempunyai makna semoga masyarakat utuh dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Negara yang bersatu tidak gampang terpecah belah serta kokoh dalam menghadapi ancaman. 
Baca Juga:
Demikianlah uraian wacana Arti Semboyan Bhineka Tunggal Ika, semoga bermanfaat.  

Sumber http://www.ilmusiana.com

Sunday, July 29, 2018

√ Inilah Aktivis Insiden Rengasdengklok

Tahukah kamu, siapakah yang mempelopori insiden Rengasdengklok? Bagi kau yang belum tahu, insiden rengasdengklok yaitu mengacu pada insiden diculiknya Soekarno dan Hatta oleh beberapa orang dari golongan pemuda. Kedua tokoh proklamator ini di bawa ke satu tempat yang berjulukan Rengasdengklok, sebuah desa di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Para cowok menganggap perlu untuk melaksanakan tindakan ini supaya Bung Karno dan Hatta terlepas dari imbas Jepang dan segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Siapakah pencetus pandangan gres penculikan ini?

siapakah yang mempelopori insiden Rengasdengklok √ Inilah Pelopor Peristiwa Rengasdengklok
Rumah yang ditempati Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok
Ide wacana penculikan muncul dalam sebuah rapat yang dilakukan oleh Yusuf Kunto, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Shodanco Singgih di Jalan Cikini 71 Jakarta., sehabis sebelumnya tidak tercapai janji dengan Bung Karno wacana proklamasi kemerdekaan Indonesia. Para cowok menginginkan supaya Indonesia secepatnya melaksanakan proklamasi mengingat Jepang sudah mengalah kalah kepada sekutu.

Bacaan Terkait:
Namun, Bung Karno berpandangan lain, Ia tetap pada pendiriannya bahwa Jepang masih berkuasa secara de facto di Indonesia. Soekarno bahkan mengingatkan para cowok yang malam itu berkunjung ke rumahnya, bahwa musuh mereka bukan lagi Jepang, tetapi Belanda yang sebentar lagi tiba sehabis Jepang menyerah.

Para cowok tidak terima dengan pendirian Soekarno ini, kemudian melalui rapat Cikini malam itu, disepakatilah pandangan gres wacana mengasingkan Soekarno dan Hatta ke suatu tempat di luar jangkauan Jepang. Para cowok mempunyai Rengasdengklok sebagai tempat mengasingkan Soekarno dan Hatta dengan pertimbangan bahwa tempat itu relatif kondusif alasannya ada Daidan PETA di Rengasdengklok yang hubungannya sangat baik dengan Daidan Jakarta.

Penculikan itu dipimpin oleh Shodanco Singgih yang dilaksanakan pada pukul 04.00 subuh tanggal 16 Agustus 1945, Bung Karno dan rombongan pun segera di bawa ke Rengasdengklok. Golongan muda menyadari bahwa Soekarno dan Hatta yaitu tokoh penting sehingga keselamatannya harus terjaga. Setibanya di Rengasdengklok, Soekarno dan Hatta ditempatkan di rumah seorang keturunan Tionghoa Djiaw Kie Siong.

Jadi, kalau terdapat pertanyaan siapakah yang mempelopori insiden Rengasdengklok? Maka jawabannya yaitu golongan cowok yang melaksanakan rapat di Cikini itu, yaitu Yusuf Kunto, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Shodanco Singgih.

Demikian penjelasannya, silahkan bagikan bahan ini kepada teman yang membutuhkan. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber http://www.ilmusiana.com

√ Inilah Yang Terjadi Di Rengasdengklok

Apa yang terjadi di Rengasdengklok? Mengapa nama daerah ini begitu populer semenjak zaman kemerdekaan hingga kini dan masuk dalam buku sejarah? Untuk diketahui, Rengasdengklok yaitu nama sebuah desa di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Di daerah ini, pernah terjadi sebuah kejadian besar jelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bisa dikatakan bahwa alasannya yaitu kejadian inilah proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945, yang hampir saja gagal untuk dilaksanakan.

 Mengapa nama daerah ini begitu populer semenjak zaman kemerdekaan hingga kini dan masuk √ Inilah yang Terjadi di Rengasdengklok

Yah, kami menyebut proklamasi Indonesia kemungkinan besar gagal seandainya saja cowok tidak berinisiatif menculik Soekarno ke Rengasdengklok. Para cowok tampaknya paham betul situasi ketika itu, bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera dilaksanakan, alasannya yaitu kalau sekutu telah tiba otomatis Jepang akan menyerahkan Indonesia ke tangan sekutu sebagai pemenang perang.

Situasi akan menjadi sulit kalau keadaan itu terjadi. Bisa saja sekutu tidak akan membiarkan Indonesia merdeka. Hal ini terbukti, sesudah proklamasi Kemerdekaan, pihak sekutu melalui Belanda terus melaksanakan rongrongan ingin mengambil alih Indonesia melalui aksi militer 1 dan 2.

Apa yang Terjadi di Rengasdengklok?

Inti dari kejadian Rengasdengklok yaitu terjadinya penculikan kepada Soekarno dan Hatta, yang dilakukan oleh beberapa orang dari golongan cowok dengan tujuan membersihkan Soekarno Hatta dari dampak Jepang dan mendesaknya semoga segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Para cowok tidak oke dengan alasan Soekarno yang selalu menunggu aba-aba Jepang gres kemudian mau memproklamasikan Indonesia. Golongan muda tidak ingin, proklamasi kemerdekaan Indonesia terkesan sebagai hadiah sumbangan Jepang. Olehnya itu, tercetuslah wangsit untuk membersihkan Soekarno dari segala dampak Jepang dengan cara mengasingkannya sementara waktu semoga sanggup dilakukan negosiasi.

Materi Terkait:
Para penggagas wangsit wacana penculikan ini antara lain, Yusuf Kunto, Sukarni, Chaerul Saleh, dan Shodanco Singgih, melalui sebuah rapat yang dilaksanakan malam hari di Cikini 71, Jakarta. Pelaksanaannya sendiri dipimpin oleh Shodanco Singgih. Rencana ini kemudian berhasil dijalankan pada subuh pagi pukul 04.00 pada tanggal 16 Agustus 1945, di mana Soekarno, Hatta, Fatmawati, dan Guntur, di bawa ke suatu desa berjulukan Rengasdengklok. 

Jadi, kalau terdapat pertanyaan apa yang terjadi di Rengasdengklok? Maka jawabannya adalah terjadinya penculikan kepada Soekarno, Hatta, Fatimah, dan Guntur, yang dilakukan oleh golongan cowok dengan tujuan mendesak Soekarno semoga segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Demikianlah klarifikasi kali ini, silahkan bagikan kepada temanmu yang membutuhkan. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Sumber http://www.ilmusiana.com