Showing posts with label kisah teladan. Show all posts
Showing posts with label kisah teladan. Show all posts

Monday, May 14, 2018

√ Saya Lebih Menentukan Meninggal Daripada Berbohong

Suatu saat, tatkala api revolusi meletus untuk melawan penjajah Inggris di India, umat Islam menjadi pahlawan-pahlawan yang berada di barisan paling pertama. Mereka melawan kekuatan imperialis Inggris dengan penuh keberanian dan rela mati syahid demi membela agama dan Negara mereka.

Kemudian, suatu hari pada tahun 1857, Inggris berhasil menangkap seorang syekh besar muslim India, yang berjulukan Ridhallah al-Badawani, dengan tuduhan terlibat dalam agresi revolusi melawan kekuatan Inggris.

Lalu, syekh ditemani oleh seorang pengacara Inggris yang populer untuk membelanya dalam setiap persidangan. Pengacara ini sangat kagum dengan keberanian dan kegagahan syekh, sampai ia sangat berhasrat untuk menciptakan justifikasi hokum untuk membebaskan syekh tersebut. Pengacara itupun meminta santunan kepada para sahabat bersahabat syekh supaya mau membujuk syekh supaya mau menolak tuduhan yang dilemparkan dihadapan majelis persidangan Inggris nanti.

Tidak usang kemudian, syekh dipanggil dalam sebuah persidangan militer Inggris. Pengacara tsb masih saja menemani syekh. Tatkala ada kesempatan, pengacara itu membisiki syekh,
“Syekh, saya dengar bahwa Anda tidak pernah terlibat dalam agresi revolusi melawan kami, apabila saya dengar ini betul, maka saya akan segera membebaskanmu kini juga, walaupun tanpa imbalan”.


Namun syekh malah menjawab, “Pengacara, demi Allah tidak, saya mustahil mengingkari kemuliaan untuk ikut serta dalam memerangi kalian. Demi Allah apabila kalian membebaskanku sekarang, tak usang lagi saya akan kembali dituduh dengan tuduhan yang sama”.

Akhirnya, hakim Inggris tidak punya pilihan lain kecuali menawarkan sanksi hukuman mati kepada Syekh Ridhallah al-Badawani. Selanjutnya, sang syekh diseret ke tiang gantungan dan pengacara Inggris tetap mengikuti disampingnya. Dalam keadaan itu, syekh tetap saja membasahi bibirnya dengan dzikir dan memuji Allah sampai detik-detik kematiannya ada di depan mata. Saat itu juga, si pengacara tidak frustasi membisikinya untuk terakhir kalinya, “Syekh, selama masih ada waktu untuk bias membebaskanmu dari tiang gantungan, maka katakanlah kini juga bahwa Anda tidak terlibat dalam agresi revolusi melawan kami sehingga saya bias menunda pelaksanaan hukuman, menghapuskan tuduhan terhadapmu, dan segera membebaskanmu”.

Akan tetapi, sang syekh malah menatap tiang gantungan sembari tersenyum seraya menatap pengacara Inggris itu, lalu berkata, “Apakah kau mau saya berbohong supaya saya bias terbebas dari maut dan diampuni dari tuduhan? Tetapi sesudah itu, saya juga akan mati dan bertemu dengan Allah sedangkan semua amalku ikut terhapus juga alasannya ialah kebohonganku?!”

“Tidak, pengacara. Hal itu mustahil saya lakukan alasannya ialah saya tidak mau berbohong walaupun sekali. Aku telah ikut dalam agresi revolusi memerangi kalian alasannya ialah agamaku memerintahkanku untuk bernuat demikian, sementara kau silahkan berbuat sesuka hatimu”.

Setelah itu, hanya dalam hitungan detik. Jasad syekh p0juang, Ridhallah al-Badawani telah membumbung tinggi ke udara sebagai jagoan syahid di Jalan Allah…

100 Kisah Teladan Tokoh Besar; Gema Insani Press

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

Sunday, May 13, 2018

√ Allah Swt Kagum Dengan Perbuatan Kalian Berdua

Alkisah, seseorang mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasul, saya kelaparan”. Lalu Rasulullah SAW mendatangi salah seorang istri beliau, tetapi istri ia tersebut menjawab, “Demi Allah, saya tidak punya apa-apa dan yang ada hanya air”.

Setelah itu, Rasul mendatangi istrinya yang lain tetapi dijawab juga dengan ucapan yang sama sampai ia mendatangi semua istri ia dan semuanya menjawab dengan tanggapan yang sama, “Demi Allah, saya tidak punya apa-apa dan yang ada hanya air saja”. Kemudian, Rasulullah SAW mengumumkan, “Siapa yang mau menjamu tamu pada malam ini? Semoga Allah merahmatinya”.

Tiba-tiba seorang lelaki dari kaum Anshar bangkit dan berkata,
“Saya, ya Rasul”. Lalu, lelaki Anshar itu bergegas pulang terlebih dahulu dan bertanya kepada istrinya di rumah, “Apakah kau mempunyai persediaan makanan?”. Istrinya menjawab, “Tidak, masakan yang ada hanyalah jatah makan anak kita”.

Lelaki Anshar itu lanjut berkata, “Kalau begitu, cepat tidurkan anak kita! Kemudian, jika tamu kita telah tiba maka kau nyalakan lampu biar ia melihat kita sedang makan. Lalu, dikala ia sudah bersiap makan, maka kau segera matikan lampu!”.

Setelah itu, sang istri menidurkan anaknya. Tatkala tamunya tiba lampu dirumahnya ia nyalakan sampai sang tamu masuk. Ketika si tamu mulai memakan menu yang disiapkan, lampu seisi rumah pun dimatikan. Sang tamu makan dan menyangka si pemilik rumah ikut makan sebab bunyi sendok dan piring yang didengarnya. Padahal itu berasal dari sendok dan piring yang dibunyi-bunyikan oleh lelaki Anshar tersebut. Ini berlangsung sampai si tamu menghabiskan hidangannya.

Keesokan harinya, lelaki Anshar tersebut menghadap Nabi SAW, kemudian dikomentari Nabi, “Allah sangat kagum dengan perbuatan kalian berdua semalam terhadap tamu kalian itu”.

Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa sahabat Anshar tersebut berjulukan Abu Thalhah Al-Anshariy dan istrinya Ummu Sulaim r.a.

100 Kisah Teladan Tokoh Besar; Gema Insani Press

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

√ Keadilan Islam Taklukkan Seorang Yahudi

Alkisah, tatkala Ali r.a. pergi ke perang Shiftrin, ia kehilangan baju besinya. Lalu, dikala perang usai dan pulang kembali ke kota Kuffah, ia melihat baju besinya sendiri sedang berada ditangan seorang Yahudi. Lalu ia pun berkata kepada Yahudi itu, “Baju besi itu milikku, dan saya tidak pernah menjual ataupun memberikannya”.

Yahudi menjawab, “Baju besi ini milikku dan ada di tanganku”.

Lalu Ali r.a. menimpali, “Kalau begitu, mari kita menuju hakim!”.

Kemudian, dikala berada di depan hakim, Ali r.a. maju dan duduk disamping Hakim Syuraih, seraya berkata, “Seandainya saja ia bukan seorang Yahudi pasti saya akan duduk disampingnya dalam pengadilan. Akan tetapi saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Hinakanlah mereka (Yahudi) alasannya Allah telah menghinakan mereka juga”.

Syuraih mulai berkata, “Sebutkan dakwaan Anda, Amirul Mu’minin!”


Beliau menjawab, “Baik. Baju besi yang berada di tangan Yahudi itu yaitu milikku. Dan saya tidak pernah menjual atau memberikannya kepada siapapun juga”.

Syuraih kembali berkata, “Apa pembelaanmu, Yahudi?”

Ia menjawab, “Baju besi ini yaitu milikku dan berada di tanganku”.

Syuraih berkata lagi, “Apakah Anda punya bukti, Amirul Mu’minin?”

“Ada, kesaksian Qunbur dan Hasan. Dua orang itu akan bersaksi bahwa baju besi itu yaitu milikku”, ujar Ali r.a.

“Kesaksian anak tidak bias membela ayahnya”, kata Syuraih menyanggah.

Ali r.a. berkata lagi, “Seorang dari penduduk nirwana tidak diterima kesaksiannya? Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Hasan dan Husein dua pemimpin perjaka surga.’”

Lalu, hakim Syuraih tetap memutuskan bahwa baju besi itu yaitu milik Yahudi dengan ganjal an tidak adanya bukti yang sanggup diberikan oleh Amirul Mu’minin, Ali bin Abi Thalib.

Tetapi Yahudi itu malah berkata, “Amirul Mu’minin sendiri telah mengadukan saya ke hakim tetapi hakim malah menyalahkannya. Aku bersaksi bahwa ini yaitu benar dan saya bersaksi bahwa tiada yang kuasa kecuali Allah dan Muhammad yaitu Rasulullah. Adapun baju besi itu yaitu milikmu”.

100 Kisah Teladan Tokoh Besar; Gema Insani Press

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

Monday, May 7, 2018

√ Dongeng Tempe Setengah Jadi


Abah dan Emak tinggal di sebuah desa yang cukup terpencil. Setiap hari, mereka bekerja menciptakan tempe untuk lalu Abah menjualnya ke pasar. Jualan tempe merupakan satu-satunya sumber pendapatan mereka untuk bertahan hidup.

Pada satu pagi, Abah jatuh sakit, Emak pun mengambil alih kiprah menjual tempe. Saat tengah berkemas-kemas untuk pergi ke pasar menjual tempenya, tiba-tiba Emak sadar bahwa tempe buatannya hari itu masih belum matang, masih separah jadi.

Emak merasa sangat murung lantaran tempe yang masih muda dan belum matang pastinya tidak akan laku. Itu artinya, untuk hari itu, mereka tidak akan mendapat pemasukan. Ketika Emak dalam kesedihan, tiba-tiba Abah mengingatkan Emak bahwa Allah Swt bisa melaksanakan perkara-perkara aneh lantaran tiada yang tidak mungkin bagi-Nya.

Emak pun mengangkat kedua tangannya sambil berdoa, "Ya Allah, saya mohon kepada-Mu semoga kacang kedelai ini menjadi tempe, amin." Begitulah doa ringkas yang dipanjatkan dengan sepenuh hatinya. Emak sangat yakin Allah niscaya mengabulkan doanya.

Dengan tenang, Emak pun menekan-nekan bungkusan bakal tempe dengan ujung jarinya. Emak pun membuka sedikit bungkusan itu untuk menyaksikan keajaiban kacang kedelai itu menjadi tempe. Emak terdiam seketika
lantaran kacang itu masih tetap kacang kedelai yang belum matang benar.

Namun, Emak tidak putus asa. Dia berpikir mungkin doanya kurang terang didengar oleh Allah. Emak pun mengangkat kedua tangannya kembali dan berdoa lagi, "Ya Allah, saya tahu bahwa tiada yang tidak mungkin bagi-Mu. Bantulah saya supaya hari ini saya sanggup menjual tempe lantaran inilah mata pencarian kami. Aku mohon, jadikanlah kacang kedelaiku ini menjadi tempe, amin."

Dengan penuh harapan, Emak pun sekali lagi membuka sedikit bungkusan itu. Apakah yang terjadi? Emak menjadi heran lantaran kacang-kacang kedelai itu ... masih tetap ibarat semula!

Hari pun semakin siang. Artinya, pasar pun sudah ramai didatangi pembeli. Emak tetap tidak kecewa atas doanya yang belum terkabul. Berbekal akidah yang sangat tinggi, Emak memaksakan diri untuk tetap pergi ke pasar membawa barang jualannya itu. Emak berpikir, mungkin keajaiban Allah akan terjadi dalam perjalanannya ke pasar.

Dia pun berangkat ke pasar. Semua perlengkapan untuk menjual tempe, ibarat biasa, dibawa bersama. Sebelum keluar dari rumah, Emak sempat mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, "Ya Allah, saya percaya, Engkau akan mengabulkan doaku. Sementara, saya berjalan menuju ke pasar, karuniakanlah keajaiban ini buatku, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe, amin." Dengan penuh keyakinan, perempuan renta ini pun berangkat. Di sepanjang perjalanan, ia tetap tidak lupa membaca doa di dalam hatinya.

Sesampai di pasar, cepat-cepat, Emak meletakkan barang-barangnya. Emak betul-betul yakin bila tempenya kini sudah benar-benar matang dan siap untuk dijual. Dengan hati yang berdebar-debar, Emak pun membuka bakulnya dan menekan-nekan dengan jarinya setiap bungkusan yang ada. Perlahan-lahan, Emak membuka sedikit daun pembungkusnya dan melihat isinya. Apa yang terjadi? Tempenya benar-benar tidak berubah, masih ibarat semula!

Emak menarik napas dalam-dalam. Harapan dikabulkan-nya doa perlahan menipis. Emak merasa Allah tidak adil. Allah tidak kasihan kepadanya. Inilah satu-satunya sumber penghasilannya: berjualan tempe.

Dia pun hanya duduk saja tanpa membuka barang dagangannya itu lantaran ia yakin bahwa tiada orang yang akan membeli tempe yang gres setengah jadi. Hari pun beranjak petang dan pasar sudah mulai sepi, para pembeli sudah mulai berkurang.

Emak melihat para penjual tempe lainnya, jualan mereka sudah hampir habis. Emak tertunduk lesu ibarat tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ia pulang tanpa membawa hasil jualannya hari itu.

Namun, jauh di sudut hatinya, Emak masih menaruh keinginan terakhir kepada Allah, niscaya Allah akan menolongnya. Walau tahu bahwa hari itu ia tidak akan mendapat pendapatan langsung, tetapi Emak berdoa untuk terakhir kali "Ya Allah, berikanlah penyelesaian terbaik terhadap tempeku yang belum jadi ini."

Tiba-tiba, Emak dikejutkan oleh teguran seorang wanita. "Bu ...! Maaf ya, saya ingin bertanya, apakah Ibu menjual tempe yang belum jadi? Dari tadi, saya sudah pusing berkeliling pasar ini untuk mencarinya, tapi tidak ketemu juga."

Emak eksklusif termenung, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Betapa tidak terkejut, semenjak sepuluh tahun ia menjual tempe, tidak pernah ada seorang pun pelanggan yang mencari tempe belum jadi.

Sebelum Emak menjawab sapaan perempuan di depannya itu, cepat-cepat Emak berdoa di dalam hatinya "Ya Allah, ketika ini saya tidak mau tempe ini menjadi matang. Biarlah kacang kedelai ini tetap ibarat semula, amin."

Sebelum menjawab perempuan itu, Emak pun membuka sedikit daun penutupnya. Alangkah senangnya hati Emak, ternyata memang benar, tempenya masih ibarat semula! Hati Emak pun bersorak gembira. "Alhamdulillah," ucapnya.

Wanita itu pun memborong semua tempenya yang belum jadi itu. Sebelum perempuan itu pergi, Emak sempat bertanya mengapa ia membeli tempe yang belum jadi. Wanita itu menunjukan bahwa anaknya yang tengah sekolah di Inggris ingin makan tempe dari desa.

Karena tempe itu akan dikirimkan ke daerah anaknya itu, si Ibu pun membeli tempe yang belum jadi. Harapannya, apabila hingga di Eropa nanti, akan menjadi tempe yang sempurna. Kalau dikirimkan tempe yang sudah jadi, sesampainya di sana, tempe itu sudah tidak yummy lagi dimakan.


Demi Allah, tiada seorang pun yang berbaik sangka kepada Allah, melainkan niscaya akan memperlihatkan kepadanya apa yang ia sangkakan. Sebab, semua kebaikan itu ada dalam genggaman Allah.

Maka apabila Allah sudah memberi husnuzan-Nya, berarti Allah akan memberi apa yang disangkakannya itu. (Abdullah bin Mas'ud)


Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

Sunday, May 6, 2018

√ Cerita Nenek Pemungut Daun


Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek bau tanah penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, sesudah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melaksanakan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid.

Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak usang ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya. Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya.

Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum wanita bau tanah itu datang. Pada hari itu, ia tiba dan pribadi masuk masjid. Usai salat, dikala ia ingin melaksanakan pekerjaan rutinnya, ia terkejut.
Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.”

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu ibarat biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada wanita itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan bau tanah itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat, pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, diam-diam itu dihentikan disebarkan dikala ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda sanggup mendengarkan diam-diam itu.

“Saya ini wanita bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya mustahil selamat pada hari selesai tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad saw. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jikalau saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

Perempuan bau tanah dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menawarkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah SWT. Lebih dari itu, ia juga mempunyai kesadaran spiritual yang luhur. Ia tidak sanggup mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semesta alam selain Rasulullah SAW.

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

√ Air Mata Rasulullah Saw.....


Ada sebuah dongeng ttg cinta yg sebenar-benar cinta yg dicontohkan Alloh melalui kehidupan Rasul-Nya.

Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap, Rasul SAW dg bunyi terbatas memperlihatkan khutbah,

"Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Alloh dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kpd-Nya. Kuwariskan dua perkara pd kalian, Al-Qur'anul Karim dan sunnahku. Brgsiapa menyayangi sunnahku, berarti menyayangi saya dan kelak org-org yg mencintaiku akan msk nirwana gotong royong aku". Khutbah singkat itu diakhiri dg pandangan mata Rasul SAW yg hening dan penuh ksh menatap sahabatnya satu per satu.

Abu Bakar r.a. menatap mata itu dg berkaca-kaca, Umar r.a.dadanya bergemuruh, naik turun menahan tangisnya, Usman r.a. menghela nafas panjang, dan Ali r.a. menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "Rasulullah akan meninggalkan kita semua" keluh hati semua sahabat di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat,
tatkala Ali dan Fadhal dg cergas menangkap Rasul SAW yg berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di ketika itu, kalau mampu, seluruh sahabat yg hadir di sana niscaya akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasul SAW masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasul SAW sdg terbaring lemah dg keningnya yg berkeringat dan membasahi pelepah kurma yg mjd ganjal tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang yg berseru mengucapkan salam,"Bolehkah saya msk?" tanyanya. Tapi, Fatimah Azzahra, putri Rasul SAW, tdk mengizinkannya msk,"Maafkanlah, ayahku sdg demam" kata Fatimah yg membalikkan tubuh dan menutup pintu.

Kemudian, ia kembali menemani ayahnya yg ternyata sdh membuka mata dan bertanya pd Fatimah,"Siapakah itu, wahai anakku?". "Tak tahulah ayahku, org yg tampaknya gres sekali ini saya melihatnya" tutur Fatimah lembut. 

Lalu, Rasul SAW menatap putrinya itu dg pandangan yg menggetarkan, seperti bahagian-bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

"Ketahuilah, dialah yg menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yg memisahkan pertemuan di dunia. Dialah Malakul Maut" kata Rasul SAW.

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut dtg menghampiri, tapi Rasul SAW menanyakan kenapa Jibril tdk ikut menyertainya. Kemudian, dipanggillah Jibril yg sebelumnya sdh bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Alloh dan penghulu dunia ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Alloh?" tanya Rasul SAW dg bunyi yg amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua nirwana terbuka lebar menanti kedatanganmu" kata Jibril. Tapi itu ternyata tdk menciptakan Rasul SAW lega, matanya msh pnh kecemasan. "Engkau tdk sng mendengar kbr ini?" tny Jibril lagi.
"Kbrkan kpdku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jgn khawatir, wahai Rasul Alloh, saya pernah mendgr Alloh berfirman kpdku 'Kuharamkan nirwana bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya'," kt Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melaksanakan tugas. Perlahan ruh Rasul SAW ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasul SAW bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakitnya sakaratul maut ini" perlahan Rasul SAW merintih menahan sakit. Fatimah terpejam, Ali yg di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kamu melihatku, sampai kamu palingkan wajahmu Jibril?" tny Rasul pd malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yg sanggup 
melihat kekasih Alloh direnggut ajal?" kt Jibril.

Sebentar kemudian terdgr Rasul SAW memekik alasannya yakni skt yg tdk tertahankan lg. "Ya Alloh, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kpdku, jgn pd umatku". Bdn Rasul SAW mulai dingin, kaki, dan dadanya sdh tdk bergerak lg. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, segera Aisyah r.a. yg memangku kepala Rasul mendktkan telinganya.

"Uushiikum bis sholati, wa maa malakat aimanuku".

"Peliharalah sholat dan org-org yg lemah di antaramu".

Di luar pintu, tangis mulai terdgr bersahutan, sahabat slg berpelukan. Fatimah menutupkan tgn di wajahnya, dan Aisyah kmbali mendktkan telinganya ke bibir Rasul SAW yg mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatii".

"Umatku, umatku, umatku".

Dan, berakhirlah hdp insan mulia yg memberi sinaran itu.

Kini, mampukah kita menyayangi sepertinya? Allohumma sholli 'alaa Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi.. Betapa cintanya Rasul SAW kpd kita..

Sebarkan riwayat ini ke sebanyak org kalau antum menyayangi Rasulullah SAW..

taken from: rohis.org

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com

Friday, May 4, 2018

√ Dikala Kehendak Allah Swt Tak Sanggup Kita Pahami


Simaklah dongeng menarik ini,

Dahulu ada dua orang raja: raja mukmin dan raja kafir. Raja yang kafir sakit, ia membutuhkan sejenis ikan bukan pada musimnya sebagai obatnya. Waktu itu, jenis ikan tersebut berada di dasar samudra. Para tabib yang frustasi menasehatkan semoga raja segera menentukan penggantinya...

“Obat baginda pada ikan tersebut, kita tak mungkin mendapatkannya,” kata mereka.

Allah kemudian mengutus salah seorang malaikat untuk mengiring ikan itu keluar dari lubangnya di dasar maritim supaya orang gampang menangkapnya. Ikan itupun kemudian ditangkap. Raja kafir memakannya dan ia segera sembuh.

Kemudian raja yang mukmin jatuh sakit, ia menderita sakit yang sama menyerupai yang diderita raja kafir.
Tetapi ia sakit pada waktu ikan yang menjadi obatnya berada di pemukaan laut. “Bergembiralah, kini ini ekspresi dominan munculnya ikan itu.” Ucap para tabib.
 
Lalu Allah mengutus para malaikat untuk menggiring ikan ikan itu dari permukaan maritim hingga masuk kembali ke lubang-lubang di dasar laut. Orang-orang tak bisa menangkapnya. Hingga raja mukmin itu terpaksa meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.

Para Malaikat langit dan penduduk Bumi keheranan, mereka kebingungan. Kemudian Allah mewahyukan kepada para malaikat langit dan kepada para Nabi di zaman itu.

“Inilah Aku yang Maha Pemurah, pemberi karunia, MahaKuasa. Tidak menyusahkan Aku apa yang Ku berikan, tidak bermanfaat bagi Ku apa yang Ku tahan sedikitpun, Aku tidak menzalimi siapapun.

Adapun raja yang kafir itu, Aku mudahkan baginya mengambil ikan bukan pada waktunya, dengan begitu, Aku membalas kebaikan yang pernah ia lakukan.

Aku balas kebaikan itu sekarang, suapaya saat ia tiba pada hari kiamat, tidaklah ada kebaikan pada lembaran-lembaran amalnya. Ia masuk neraka alasannya yakni kekufurannya...

Adapun raja yang jago ibadah itu, Aku tahan ikan itu pada waktunya. Dia pernah berbuat salah. Aku ingin menghapus kesalahannya itu dengan menolak kemauannya dan menghilangkan obatnya, supaya kelak ia tiba menghadapKu tanpa dosa. Dan beliau pun masuk nirwana dalam keadaan suci”

Selalu Ada Harapan. Bang Din

Sumber http://arief-ardiansyah.blogspot.com