Showing posts with label Penganggaran. Show all posts
Showing posts with label Penganggaran. Show all posts

Wednesday, April 4, 2018

√ Flexible Budget (Anggaran Variabel)

merupakan sebuah pendekatan yang lazim digunakan dalam perencanaan dan pengawasan biaya √ Flexible Budget (Anggaran Variabel)

Konsep anggaran variabel atau flexible budget merupakan sebuah pendekatan yang lazim digunakan dalam perencanaan dan pengawasan biaya, lantaran disini ditunjukkan dengan terang beban biaya yang seharusnya dikeluarkan pada banyak sekali tingkat kegiatan.

Anggaran variabel yaitu skedul biaya yang mengatakan bagaimana masing-masing biaya akan berubah dengan perubahan volume, output, atau aktivitas.

Dengan demikian, anggaran variabel menyatakan relasi antara volume dan biaya dalam suatu relevant range volume yang terbatas.
Anggaran variabel atau  Variable Budget dapat juga disebut :
  1. Flexible budget
  2. Sliding scale budget
  3. Step budget
  4. Expense formula budget
  5. Expense control budget

Tujuan Pendekatan Anggaran Variabel yang Utama

Tujuan utama pendekatan anggaran variabel secara khusus yaitu mengidentifisir bagaimana, dan seberapa jauh, masing-masing elemen biaya dalam suatu sentra pertanggungjawaban dipengaruhi oleh acara sentra pertanggungjawaban yang bersangkutan.

Dengan kata lain, anggaran variabel merupakan rumus atau petunjuk yang mempedomani bagaimana setiap elemen biaya akan berubah sehubungan dengan adanya perubahan dalam volume, output, ataupun tingkat kegiatan perusahaan.

Hubungan tersebut ditunjukkan oleh anggaran variabel dalam suatu relevant range tertentu.


Konsep Dasar yang Mendasari Anggaran Variabel

Anggaran variabel didasari oleh konsep variabilitas biaya.

Konsep variabilitas biaya yaitu biaya sanggup dikaitkan secara eksklusif dengan tingkat output atau tingkat acara perusahaan.

Dengan melihat hal tersebut, maka sanggup dikatakan bahwa faktor variabilitas biaya terjadi lantaran efek faktor waktu dan faktor aktivitas.

Hal-Hal Penting dalam Menyusun Anggaran Variabel

  1. Jenis biaya dihubungkan dengan tingkat output maupun tingkat kegiatan perusahaan.
  2. Pemilihan satuan kegiatan perusahaan (activity base) yang tepat, yang mengatakan tingkat output atau kegiatan secara jelas.
  3. Metode dalam menganalisa masing-masing elemen biaya, untuk menetapkan dengan betul berapa unsur tetap dan beberapa unsur variabelnya.
  4. Penggunaan dan penerapan konsep anggaran variabel.


Pengklasifikasian Biaya yang Sesuai dengan Konsep Variabilitas Biaya

1. Biaya tetap

Biaya tetap yaitu biaya yang tidak berubah lantaran perubahan output atau acara yang produktif.

Sehingga jumlahnya tetap konstan selama periode tertentu dalam suatu relevant range aktivitas.

Ciri-ciri biaya tetap antara lain :
  • Jumlah keseluruhan yang tetap dalam range acara yang relevan.
  • Penurunan biaya per unit kalau volume bertambah dalam range acara yang relevan.
  • Dapat dibebankan kepada departemen-departemen bedasarkan keputusan administrasi atau berdasarkan metode alokasi biaya.
  • Tanggung jawab pengendalian lebih banyak dipikul oleh administrasi direktur daripada penyelia operasi.

2. Biaya variabel

Biaya variabel yaitu biaya yang berubah searah dan sebanding dengan perubahan output atau aktivitas.

Ciri-ciri biaya variabel antara lain :
  • Perubahan jumlah total dalam proporsi yang sama dengan perubahan volume.
  • Biaya per unit relatif konstan meskipun volume berubah dalam range yang relevan.
  • Dapat dibebankan kepada departemen operasi dengan cukup gampang dan tepat.
  • Dapat dikendalikan oleh seorang kepada departemen tertentu.

3. Biaya semivariabel

Biaya semivariabel yaitu biaya yang berubah lantaran perubahan output atau aktivitas, akan tetapi perubahan tersebut tidak sebanding.

Ciri-ciri biaya variabel antara lain :
  • Biaya yang jumlahnya total akan berubah sesuai dengan perubahan volume aktivitas, akan tetapi sifat perubahan tidak sebanding.
  • Biaya satuan akan berubah terbalik dihubungkan dengan perubahan volume acara tetapi sifatnya tidak sebanding. Sampai dengan tingkat acara tertentu, semakin tinggi volume acara semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume acara semakin tinggi biaya satuan.

Faktor-Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Menetapkan Satuan Dasar Kegiatan/Aktivitas

  1. Suatu dasar kegiatan yang dipilih harus betul-betul mencerminkan dan menjadi ukuran kegiatan (secara keseluruhan) pecahan yang bersangkutan.
  2. Satuan dasar kegiatan yang dipilih harus bisa mengukur perubahan-perubahan tingkat output yang sanggup menjadikan perubahan-perubahan tingkat biaya.
  3. Satuan dasar kegiatan dipilih sedapat mungkin hanya dipengaruhi oleh tingkat output sebagai faktor variabel.
  4. Satuan dasar kegiatan yang dipilih harus gampang dipahami, gampang dihitung dan sanggup diaplikasikan dengan gampang dalam proses penganggaran.
  5. Satuan dasar kegiatan yang dipilih tidak mendatangkan biaya komplemen dalam perhitungan dan penggunaannya.


Metode-Metode dalam Perhitugan Variabilitas Biaya

Perhitungan variabilitas biaya akan menghasilkan 2 kelompok biaya yakni kelompok biaya tetap per satuan waktu dan kelompok biaya variabel per satuan dasar kegiatan.

Dalam hal memisahkan biaya semivariabel, terdapat 3 metode yaitu :


1. Metode bedasarkan asumsi eksklusif (Direct Estimate Method)

Metode ini intinya hanya sanggup digunakan pada keadaan tertentu saja, dimana perhitungan unsur-unsur biaya secara kuantitatif tidak sanggup dilakukan lantaran sesuatu sebab.

Dalam dunia praktis, memang hal ini sering dijumpai dan bahkan lebih sering digunakan oleh para perencana biaya yang telah berpengalaman dan yang ingin menghindari perhitungan-perhitungan yang matematis.

Metode ini sanggup dilaksanakan dalam 2 bentuk, yaitu :
  • Bedasarkan asumsi pihak yang terlibat eksklusif dan bertanggung jawab di dalam proses produksi.
  • Dengan bedasarkan pada analisa data historis dan kebijaksanaan-kebijaksanaan manajemen.

Perkiraan eksklusif yang memakai kedua cara tersebut diatas sanggup digunakan sebagai alat penghitung tingkat biaya pada suatu tingkat kegiatan tertentu dalam relevant range.

Perkiraan eksklusif terhadap unsur biaya tetap dan variabel dibutuhkan dalam penyusunan anggaran biaya variabel yang berbentuk formula.

2. Metode titik tertinggi dan terendah (High and Low Point Method)

Metode yang kedua ini cenderung lebih bersifat kuantitatif dari pada metode pertama, yang bedasarkan pada perhitungan tingkat biaya pada 2 macam tingkat kegiatan tertentu (High and Low).

Asumsi garis lurus dipergunakan dalam perhitungan ini, lantaran dalam perhitungan ini tidak melihat semua data melainkan hanya data tertinggi dan terendah.

Komponen biaya tetap dan variabel dihitung dengan melaksanakan interpolasi kedua tingkat biaya dengan dasar asumsi tersebut.

Langkah-langkah untuk melaksanakan metode titik tertinggi dan terendah, mencakup :
  1. Pemilihan satuan dasar kegiatan yang tepat.
  2. Penentuan relevant range sebagai titik tertinggi dan terendah.
  3. Perkiraan biaya pada titik tertinggi dan terendah.
  4. Menginterpolasikan kedua tingkat biaya pada kedua tingkat kegiatan.


3. Metode relasi (Corelatian Method)

Metode relasi merupakan metode yang memakai salah satu alat analisa statistik.

Bentuk-Bentuk Anggaran Variabel

  1. Bentuk formula
  2. Bentuk tabel
  3. Bentuk Grafik


Manfaat Menyusun Anggaran Variabel

  1. Untuk memudahkan penyusunan anggaran biaya-biaya yang terjadi di semua pecahan yang ada pada perusahaan.
  2. Untuk memudahkan manajer mengetahui tingkat biaya yang akan ditanggung oleh perusahaan pada suatu tingkat kegiatan tertentu.
  3. Sebagai alat yang sanggup digunakan dalam persiapan penyusunan performance report.

Sumber http://www.dounkey.com

√ Master Budget

 Master Budget yaitu planning perjuangan untuk masa  √ Master Budget

Master Budget yaitu planning perjuangan untuk masa 1 tahun atau kurang dari satu tahun yang akan datang.

Master budget merangkum tujuan-tujuan semua sub unit di suatu perusahaan. Misalnya sub unit penjualan, produksi, distribusi, dan keuangan.

Master budget biasanya terdiri dari :
  1. Jumlah pendapatan yang diperkirakan akan diterima.
  2. Neraca.
  3. Laporan penerimaan dan pengeluaran kas.
  4. Laporan perubahan posisi keuangan serta daftar-daftar pendukung lainnya.

Master Budget VS Anggaran Barang Modal

Master Budget merupakan planning keseluruhan perusahaan untuk rentang waktu yang lebih pendek, dan biasanya disusun atas dasar tahunan.

Anggaran Barang Modal merupakan anggaran jangka panjang yang disusun untuk proyek-proyek khusus, contohnya pembelian peralatan, lokasi pabrik, dan perhiasan lini produk.

Klasifikasi Master Budget

1. Anggaran Operasional

Anggaran operasional yaitu anggaran yang memusatkan perhatiannya pada perhitungan laporan keuntungan rugi dan laporan-laporan tambahannya yang berkaitan dengan operasional perusahaan.

Contoh anggaran operasional menyerupai :
  1. Anggaran penjualan
  2. Anggaran produksi, mencakup :
    ➔ Anggaran materi baku yang dipakai dan dibeli.
    ➔ Anggaran biaya tenaga kerja langsung.
    Anggaran BOP (Biaya Overhead Pabrik)
    ➔ Perubahan tingkat persediaan barang.
  3. Anggaran harga pokok penjualan.
  4. Anggaran biaya penjualan.
  5. Anggaran biaya manajemen dan umum.
  6. Anggaran perhitungan keuntungan rugi.


2. Anggaran Keuangan

Anggaran keuangan yaitu anggaran yang memusatkan perhatiannya pada pengaruh terhadap kas yang ditimbulkan oleh anggaran operasional dan rencana-rencana lainnya.

Misalnya menyerupai pembelanjaan modal-modal menyerupai saham, obligasi, dll, serta pembayaran hutang-hutang perusahaan.

Contoh anggaran keuangan menyerupai :
  1. Anggaran barang modal.
  2. Anggaran kas (penerimaan dan pengeluaran kas)
  3. Anggaran neraca.
  4. Anggaran perubahan posisi keuangan.

Sumber http://www.dounkey.com

Tuesday, April 3, 2018

√ Anggaran Produksi

 Setelah kita menyusun anggaran penjualan √ Anggaran Produksi

Setelah kita menyusun anggaran penjualan, maka langkah selanjutnya ialah menyusun anggaran produksi (Production Budget).

Anggaran produksi dalam arti luas ialah pembagian terstruktur mengenai dari planning penjualan menjadi planning produksi.

Dengan demikian, kegiatan produksi bukan merupakan acara yang bangun sendiri, melainkan acara yang menunjang planning penjualan.

Rencana produksi meliputi perencanaan perihal jumlah produksi, kebutuhan persediaan, materi baku, tenaga kerja, dan kapasitas produksi.

Anggaran produksi dalam arti sempit disebut juga anggaran jumlah barang yang harus diproduksi.

Makara fungsi menyusun anggaran produksi untuk merencanakan biar jumlah volume barang yang harus diproduksi oleh suatu perusahaan sesuai dengan volume tingkat penjualan yang telah direncanakan.

Perencanaan produksi meliputi duduk masalah perkara yang bersangkutan dengan penentuan :
  1. Tingkat produksi.
  2. Kebutuhan fasilitas-fasilitas produksi.
  3. Tingkat persediaan barang jadi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya jumlah barang yang harus diproduksi oleh perusahaan meliputi :
  1. Jumlah barang yang telah direncanakan untuk dijual, sebagaimana yang tercantum dalam anggaran penjualan.
  2. Kebijaksanaan tingkat produksi.
  3. Kebijaksanaan tingkat persediaan.
  4. Kapasitas mesin yang tersedia.
  5. Tenaga kerja yang tersedia, baik dalam jumlahnya maupun keterampilan dan keahliannya.
  6. Modal kerja yang dimiliki perusahaan.
  7. Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan yang berkaitan dengan kegiatan produksi.

Tujuan penyusunan anggaran produksi

  1. Menunjang kegiatan penjualan, sehingga barang sanggup disediakan sesuai dengan yang telah direncanakan.
  2. Menjaga tingkat persediaan yang memadai. Artinya : tingkat persediaan yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
  3. Mengatur produksi sedemikian rupa sehingga biaya-biaya produksi barang yang dihasilkan akan seminimal mungkin.

Penyusunan Anggaran produksi

Secara garis besar, anggaran produksi disusun dengan memakai rumus berikut :
Tingkat penjualanXXX
Persediaan akhirXXX +
Jumlah kebutuhanXXX
Persediaan awalXXX -
Tingkat produksiXXX

Langkah utama yang dilakukan dalan rangka menyusun anggaran produksi dan pelaksanaannya :
Tahap perencanaan
  1. Menentukan periode waktu yang akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan anggaran produksi.
  2. Menentukan jumlah satuan fisik dari barang yang harus dihasilkan.

Tahap pelaksanaan
  1. Menentukan kapan barang diproduksi.
  2. Menentukan dimana barang akan diproduksi.
  3. Menentukan urutan proses produksi.
  4. Menentukan standar penggunaan fasilitas-fasilitas produksi untuk mencapai efisiensi.
  5. Menyusun acara perihal penggunaan materi mentah, tenaga kerja, dan peralatan.
  6. Menyusun standar biaya produksi.
  7. Membuat perbaikan-perbaikan bilamana diperlukan.

Dalam memilih kapan barang akan diproduksi, terlebih dahulu harus diperkirakan :
  1. Lamanya proses produksi, yakni jangka waktu yang dibutuhkan untuk memproses materi mentah menjadi barang jadi.
  2. Jumlah barang yang akan dihasilkan selama satu periode, dengna melihat kembali anggaran penjualan.

Dalam memilih atau memperkirakan jangka waktu produksi dan jumlah barang yang akan dihasilkan, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, yaitu :
  1. Fasilitas pabrik.
  2. Fasilitas pergudangan.
  3. Stabilitas tenaga kerja.
  4. Stabilitas materi mentah.
  5. Modal yang digunakan.

Pendekatan dalam Menyusun Anggaran Produksi

Dalam menyusun anggaran produksi terdapat 3 kebijakan, yaitu :
  1. Kebijakan yang mengutamakan stabilitas tingkat produksi dengan tingkat persediaan barang yang dibiarkan mengambang.
  2. Kebijakan yang mengutamakan stabilitas tingkat persediaan barang dengan tingkat produksi yang dibiarkan mengambang.
  3. Kebijakan yang merupakan kombinasidari kedua kecerdikan tersebut diatas. Menurut kebijakan ini, baik tingkat produksi maupun tingkat persediaan sama-sama berfluktuasi.

Stabilitas tingkat produksi

Maksud dari stabilitas tingkat produksi ialah anggaran jumlah produksi yang jumlahnya sama atau tetap setiap periode dalam setahun.

Sesuai menyerupai yang sudah dijelaskan, pada pendekatan stabilitas tingkat produksi, ditetapkan terlebih dahulu jumlah kebutuhan selama 1 tahun kemudian memilih kebutuhan setiap bulanya.

Tingkat persediaan akan diadaptasi dengan tingkat kebutuhan biar produksi sanggup tetap stabil.

Pengalokasian tingkat produksi setiap bulan sanggup dilakukan dengan cara :
  1. Membagi tingkat produksi setahun dengan 12, dimana hasil bagi tersebut digunakan sebagai tingkat produksi per bulannya. Kelemahan cara ini ialah seringnya ditemukan bilangan yang tidak bulat.
  2. Membagi tingkat produksi setahun sedemikian rupa sehingga dihasilkan bilangan yang bulat. Kelebihan dari hasil pembagian akan ditambah ke periode dengan tingkat penjualan tertinggi.


Stabilitas tingkat persediaan

Maksud dari stabilitas tingkat persediaan ialah anggaran jumlah besarnya persediaan yang digunakan pada setiap periodenya sama.

Jadi, dalam stabilitas tingkat persediaan, harus ditetapkan terlebih dahulu persediaan awal dan simpulan tahun, kemudian hitung selisihnya.

Untuk mendapat tingkat persediaan setiap bulanya, sanggup dilakukan dengna 2 cara :
  1. Selisihkan antara persediaan awal dan simpulan tahun, kemudian dibagi dengan 12. Kelemahan dari cara ini ialah seringkali ditemukan bilangan yang tidak bulat.
  2. Selisihkan antara persediaan awal dan simpulan tahun dibagi dengan suatu bilangan tertentu sehingga dihasilkan suatu bilangan yang bulat.

Cara Kombinasi

Pada cara ini, tingkat produksi maupun tingkat persediaan dibiarkan berubah-ubah. Meskipun tetap diusahakan biar terjadi keseimbangan yang optimum antara tingkat penjualan, persediaan, dan produksi.

Anggaran Produksi sebagai Alat Perencanaan, Pengkoordinasian, dan Pengawasan

Anggaran produksi disusun dengan bedasarkan pada anggaran penjualan yang telah disusun sebelumnya.

Hal ini menawarkan bahwa semua hal yang bekerjasama dengan produksi, menyerupai kebutuhan materi mentah, kebutuhan tenaga kerja, kapasitas mesin-mesin, penambahan modal, dan kecerdikan persediaan diselaraskan dengan kemampuan menjual.

Dengan demikian, anggaran produksi memiliki fungsi sebagai alat perencanaan.

Setelah direncanakan, anggaran produksi juga mengkoordinasikan berapa jumlah barang yang harus diproduksi dengan keadaan keuangan, permodalan, perkembangan produk, dan tingkat penjualan.

Kegiatan pengawasan berupa pengawasan produksi yang meliputi kegiatan pengawasan :
  • Kualitas.
  • Kuantitas.
  • Biaya.

Dalam halnya dengan fungsi pengawasan, ada juga beberapa hal yang perlu diperhatikan ialah :
  • Pengawasan materi mentah.
  • Penganalisaan proses produksi.
  • Penentuan routing (rute produksi)
  • Scheduling (jadwal produksi)
  • Pemberian perintah kerja (dispatching)
  • Follow-up

Sumber http://www.dounkey.com

√ Anggaran Tenaga Kerja

 Pada setiap perusahaan tentu ada biaya yang dikeluarkan untuk keperluan buruh √ Anggaran Tenaga Kerja

Perencanaan Tenaga Kerja

Pada setiap perusahaan tentu ada biaya yang dikeluarkan untuk keperluan buruh.

Buruh atau tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang utama dan selalu ada dalam perusahaan meskipun dalam perusahaan sudah dipakai mesin-mesin.

Anggaran tenaga kerja langsung adalah anggaran yang merencanakan secara lebih terperinci ihwal upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja pribadi selama masa waktu tertentu.

Dalam anggaran tenaga kerja pribadi didalamnya mencakup planning ihwal jumlah waktu yang dibutuhkan oleh tenaga kerja untuk menuntaskan 1 unit produk jadi, tariff upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja, dan waktu para tenaga kerja pribadi tersebut menjalankan aktivitas proses produksi, serta tampat dimana para tenaga kerja pribadi bekerja.

Anggaran tenaga kerja hanya merencanakan unsur-unsur dari tenaga kerja langsung.

Dimana, anggaran tenaga kerja selalu dikaitkan dengan anggaran produksi yang telah disusun sebelumnya.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam perencanaan tenaga kerja antara lain yakni :
  1. Kebutuhan tenaga kerja.
  2. Pencarian atau penarikan tenaga kerja.
  3. Latihan bagi tenaga kerja baru.
  4. Evaluasi dan spesifikasi pekerjaan bagi para tenaga kerja.
  5. Gaji dan upah yang harus diterima oleh tenaga kerja.
  6. Pengawasan tenaga kerja.

Tenaga kerja yang bekerja di pabrik dikelompokkan menjadi 2 yakni :


1. Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)

Tenaga kerja pribadi pada prinsipnya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang secara pribadi terlibat pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan.

Tenaga kerja pribadi memiliki sifat-sifat :
  1. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini bekerjasama secara pribadi dengan tingkat aktivitas produksi.
  2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya variabel.
  3. Umumnya dikatakan bahwa tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga kerja yang kegiatannya pribadi sanggup dihubungkan dengan produk simpulan (terutama dalam penentuan harga pokok)

Yang sanggup dikategorikan sebagai tenaga kerja pribadi yakni para buruh pabrik yang mengikuti aktivitas proses produksi dari materi mentah hingga berbentuk barang jadi.

2. Tenaga Kerja Tidak Langsung (Indirect Labor)

Tenaga kerja tidak pribadi pengertiannya terbatas pada tenaga kerja di pabrik yang tidak terlibat secara pribadi pada proses produksi dan biayanya dikaitkan pada biaya overhead pabrik.

Tenaga kerja tidak pribadi memiliki sifat-sifat :
  1. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini tidak bekerjasama secara pribadi dengan tingkat aktivitas produksi.
  2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya semi fixed atau semi variabel. Artinya biaya-biaya yang mengalami perubahan tetapi tidak secara sebanding dengan perubahan tingkat produksi.
  3. Tempat bekerja dari tenaga kerja jenis ini tidak harus selalu di dalam pabrik, tetapi sanggup di luar pabrik.

Apabila tenaga kerja jenis ini bekerja dalam lingkungan pabrik, maka biaya yang dikeluarkan untuk mereka dikelompokkan dalam anggaran biaya overhead pabrik.


Manfaat Penyusunan Anggaran Tenaga Kerja Langsung

  1. Penggunaan tenaga kerja lebih efisien.
  2. Biaya tenaga kerja sanggup direncanakan dan diatur secara lebih efisien.
  3. Harga pokok produk sanggup dihitung secara tepat.
  4. Sebagai alat pengawasan biaya tenaga kerja.


Persiapan-Persiapan dalam Menyusun Anggaran Tenaga Kerja

Sebelum menyusun anggaran tenaga kerja, perlu ditentukan terlebih dahulu dasar satuan utama yang dipakai untuk menghitungnya.

Dalam kenyataan, sering diguanakan satuan hitung atas dasar jam buruh pribadi (Direct Labor Hour) dan biaya buruh pribadi (Direct Labor Cost).

Dalam persiapan menysusun anggaran ini, terlebih dahulu dibentuk Manning Table.

Manning Table merupakan daftar kebutuhan tenaga kerja yang menjelaskan :
  1. Jenis atau kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.
  2. Jumlah masing-masing jenis tenaga kerja tersebut pada banyak sekali tingkat kegiatan.
  3. Bagian-bagian yang membutuhkannya.

Anggaran tenaga kerja merupakan perencanaan khusus ihwal jam buruh pribadi (DLH) dan biaya buruh pribadi (DLC) berdasarkan waktu jenis barang yang diproduksi.

Apabila memungkinkan, anggaran tenaga kerja sanggup dibentuk terpisah, yakni :
  1. Anggaran jam buruh langsung.
  2. Anggaran biaya tenaga kerja.

Anggaran Kebutuhan Jam Tenaga Kerja Langsung

Secara terperinci pada anggaran ini harus dicantumkan :
  1. Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan.
  2. Bagian-bagian yang turut dalam proses produksi.
  3. Jumlah DLH yang dibutuhkan untuk tiap jenis barang.
  4. Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).

Kebutuhan jam tenaga kerja pribadi = jumlah jam produksi x standar jam tenaga kerja pribadi (LUR/Labor Usage Rate)


Anggaran Biaya Tenaga Kerja Langsung

Anggaran ini merupakan bab dari anggaran tenaga kerja, secara terperinci pada anggaran ini harus mencantumkan hal-hal sebagai berikut :
  1. Jumlah barang yang diproduksi, yang dilihat dari anggaran produksi.
  2. Jam buruh pribadi (DLH) yang dibutuhkan untuk mengerjakan 1 unit barang.
  3. Tingkat upah rata-rata per jam buruh langsung.
  4. Jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan.
  5. Waktu produksi barang (bulan atau kuartal).

Biaya tenaga kerja pribadi = kebutuhan jam tenaga kerja pribadi x upah standar tenaga kerja langsung.

Sumber http://www.dounkey.com

Monday, April 2, 2018

√ Anggaran Bop (Biaya Overhead Pabrik)

biaya dalam pabrik yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka proses produksi √ Anggaran BOP (Biaya Overhead Pabrik)

Biaya overhead pabrik (Factory overhead) yakni biaya-biaya dalam pabrik yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam rangka proses produksi, kecuali biaya materi mentah eksklusif dan tenaga kerja langsung.

Biaya overhead pabrik terdiri dari :
  • Biaya materi tidak eksklusif (Indirect material)
  • Biaya tenaga kerja tidak eksklusif (Indirect labor)
  • Semua jenis biaya yang berafiliasi dengan pabrik, menyerupai pajak, asuransi, penyusutan, persediaan, perbaikan, dan pemeliharaan.

Perencanaan Besarnya Biaya Overhead Pabrik

Di dalam memilih besarnya dana yang harus dianggarkan untuk anggaran biaya overhead pabrik, terdapat 2 permasalahan pokok yang perlu dipecahkan yakni :
  1. Masalah penanggung jawab dalam perencanaan biaya.
  2. Disini perlu diterapkan prinsip akuntansi penanggung jawab atau sering disebut prinsip biaya departemen eksklusif (direct departemental cost). Berdasarkan prinsip ini dikenal adanya pembagian menjadi departemen produksi dan departemen jasa untuk acara yang dilakukan di pabrik.

  3. Masalah memilih jumlah biaya (anggaran)
  4. Masing-masing departeneb (produksi dan jasa) berhak merencanakan biaya sesuai dengan jenis biaya yang menjadi tanggung jawabnya masing-masing.

Departemen produksi yaitu bab dari pabrik yang mengolah materi mentah menjadi barang jadi atau produk akhir.

Departemen jasa yaitu bab dari pabrik yang menyediakan jasanya dan secara tidak eksklusif ikut berperan dalam proses produksi.

Ditinjau dari bab yang bertanggung jawab, biaya overhead pabrik dikelompokkan menjadi :
  1. Biaya langsung, yaitu biaya yang semata-mata menjadi tanggung jawab bab yang bersangkutan dan tidak dibebankan ke bab lain.
  2. Biaya tidak langsung, yaitu biaya yang menjadi tanggung jawab beberapa bab dalam pabrik.


Pengawasan Biaya Overhead

Dalam rangka pengawasan biaya overhead, salah satu problem yang dihadapi yakni pengalokasian biaya bab jasa/pembantu (service) kepada bab produksi.

Alokasi biaya overhead pabrik yakni pembagian biaya overhead pabrik departemen jasa ke departemen produksi, atau departemen jasa ke departemen jasa yang lain dan ke departemen produksi.

Ada 3 metode pengalokasian biaya departemen jasa, mencakup :
  1. Metode Langsung → Alokasi BOP dimana pengeluaran atau beban departemen jasa hanya ditransfer ke departemen produksi.
  2. Metode Bertahap → Alokasi BOP dimana mentransfer beban departemen jasa secara bertahap, yaitu bedasarkan urutan departemen yang telah ditentukan.
  3. Metode Aljabar → Alokasi BOP yang mengatakan suatu cara penyelesaian lengkap atas keterkaitan pelayanan diantara aneka macam departemen jasa (menggunakan teknik aljabar).

Tujuan dari pengawasan biaya overhead pabrik yakni untuk :
  1. Mengetahui sesuai tidaknya realisasi dengan yang direncanakan.
  2. Mengetahui besar kecilna biaya overhead.
  3. Menentukan biaya-biaya yang bertanggung jawab.

Masalah Satuan Kegiatan (Activity Base)

Satuan acara atau activity base adalah satuan yang digunakan untuk mengetahui jumlah acara yang telah dilakukan oleh bab produksi dan bab jasa, dalam rangka proses produksi.

Activity base sangat diharapkan dalam menyusun anggaran BOP (Biaya Overhead Pabrik) alasannya pada garis besarnya BOP merupakan hasil kali antara activity basedengan rupiah tertentu sebagai tarif BOP.

Satuan-satuan yang biasa sering digunakan pada bab produksi dan bab jasa atau pembantu yakni :

1. Bagian Prodksi :

  • Unit barang yang dihasilkan.
  • Jam buruh eksklusif (DLH)
  • Jam mesin eksklusif (DMH)
  • Biaya materi mentah.
  • Biaya tenaga kerja langsung.

2. Bagian Jasa :

  • Jam reparasi eksklusif (DRH)
  • Kilowatt hours, untuk bab pembangkit tenaga listrik.
  • Nilai pembelian materi mentah, untuk bab pembelian.
  • Jam buruh eksklusif dan jam tenaga kerja, untuk bab umum dan manajemen pabrik.


Macam Kapasitas Dalam Menyusun Anggaran BOP

  1. Kapasitas praktis, yakni kapasitas teoritis (yakni kapasitas pabrik untuk menghasilkan produk pada kecepatan penuh, tanpa berhenti selama jangka waktu tertentu) dikurangi dengan kerugian waktu yang tidak sanggup dihindari alasannya kendala intern perusahaan.
  2. Kapasitas Normal, yaitu kemampuan perusahaan berproduksi dan menjual produknya dalam jangka panjang.
  3. Kapasitas sesungguhnya, yaitu kapasitas yang sebetulnya yang diperkirakan akan sanggup dicapai dalam periode yang akan datang.

Sumber http://www.dounkey.com

√ Anggaran Materi Mentah

adalah semua anggaran yang bekerjasama dengan perencanaan secara terang perihal penggu √ Anggaran Bahan Mentah

Anggaran Bahan Mentah adalah semua anggaran yang bekerjasama dengan perencanaan secara terang perihal penggunaan materi mentah untuk proses produksi selama periode yang akan datang.

Bahan mentah yang digunakan dalam proses produksi dikelompokkan menjadi :
  1. Bahan mentah langsung
  2. Adalah semua materi mentah yang merupakan potongan barang jadi yang dihasilkan.

  3. Bahan mentah tidak langsung
  4. Adalah materi mentah yang ikut berperan dalam proses produksi, tetapi tidak secara pribadi tampak pada barang jadi yang dihasilkan.

Anggaran materi mentah hanya merencanakan kebutuhan dan penggunaan materi mentah langsung. Bahan mentah tidak pribadi akan direncanakan dalam anggaran biaya overhead pabrik.

Tujuan Penyusunan Anggaran Bahan Mentah

  1. Memperkirakan jumlah kebutuhan materi mentah.
  2. Memperkirakan jumlah pembelian materi mentah yang diperlukan.
  3. Sebagai dasar untuk memperkirakan kebutuhan dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelian materi mentah.
  4. Sebagai dasar penyusunan product costing, yakni memperkirakan komponen harga pokok pabrik lantaran penggunaan materi mentah dalam proses produksi.
  5. Sebagai dasar melaksanakan fungsi pengawasan materi mentah.

Anggaran Bahan Mentah

Anggaran materi mentah terdiri dari :
  1. Anggaran kebutuhan materi mentah
  2. Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah materi mentah yang dibutuhkan untuk keperluan produksi pada periode mendatang. Kebutuhan materi mentah diperinci berdasarkan jenisnya, berdasarkan macam barang jadi yang dihasilkan, serta berdasarkan bagian-bagian dalam pabrik yang memakai materi mentah tersebut.

  3. Anggaran pembelian materi mentah
  4. Anggaran ini disusun sebagai perencanaan jumlah materi mentah yang harus dibeli pada periode mendatang. Bahan mentah yang harus dibeli diperhitungkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor persediaan dan kebutuhan materi mentah.

  5. Anggaran persediaan materi mentah
  6. Jumlah materi mentah yang dibeli tidak harus sama dengan jumlah materi mentah yang dibutuhkan, lantaran adanya faktor persediaan. Anggaran ini merupakan suatu perencanaan yang terang atas kuantitas materi mentah yang disimpan sebagai persediaan.

  7. Anggaran biaya materi mentah yang habis digunakan dalam produksi
  8. Sebagian materi mentah disimpan sebagai persediaan, dan sebagian dipergunakan dalam proses produksi, anggaran ini merencanakan nilai materi mentah yang digunakan dalam satuan uang.

Anggaran Kebutuhan Bahan Mentah

Anggaran kebutuhan materi mentah disusun untuk merencanakan jumlah fisik materi mentah pribadi yang diperlukan, bukan nilainya dalam rupiah. Pada anggaran ini harus dicantumkan :
  1. Jenis barang yang dihasilkan
  2. Jenis materi mentah yang digunakan
  3. Bagian-bagian yang digunakan dalam proses produksi
  4. Strandar penggunaan materi mentah
  5. Waktu penggunaan materi mentah

Standar penggunaan materi mentah (Standard Usage Rate) yaitu bilangan yang menunjukkan berapa satuan materi mentah yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan barang jadi.
Contoh : SUR = 40, untuk barang jadi buku dan materi mentah kertas.
Artinya untuk menghasilkan 1 unit buku dibutuhkan 40 unit materi mentah kertas.

Jumlah materi mentah yang dibutuhkan untuk proses produksi dalam suatu periode waktu tertentu sanggup ditentukan dengan banyak sekali cara, yakni :
  1. Perkiraan langsung
  2. Cara ini mengandung banyak resiko lantaran hanya berupa perkiraan. Oleh lantaran itu, cara ini lebih baik diserahkan pada pihak-pihak yang telah berpengalaman dalam produksi barang yang sama pada waktu-waktu sebelumnya. Bagi mereka cara ini lebih menguntungkan lantaran :
    ➔ Lebih mudah
    ➔ Lebih cepat
    ➔ Lebih ringan biayanya

  3. Bedasarkan perhitungan standar penggunaan bahan
  4. Stadar penggunaan dihitung dengan banyak sekali cara, ibarat dengan melaksanakan percobaan-percobaan di labolatorium dengan melaksanakan percobaan-percobaan khusus di dalam pabrik, dengna mendasarkan diri pada pemakaian faktual waktu yang kemudian yang tercatat pada bill of material, dan dengan melihat angka penggunaan rata-rata yang ditentukan secara statis.

Anggaran Pembelian Bahan Mentah

Anggaran pembelian materi mentah berisi planning kuantitas materi mentah yang harus dibeli oleh perusahaan dalam periode waktu mendatang. Ini harus dilakukan secara hati-hati terutama dalam hal jumlah dan waktu pembelian.

Apabila jumlah materi mentah yang dibeli terlalu besar akan menjadikan banyak sekali resiko ibarat :
  • Bahan baku pribadi banyak yang menumpuk di gudang, yang kemungkinan sanggup menjadikan kualitas menurun.
  • Bahan baku pribadi terlalu usang menunggu giliran untuk diproses.
  • Meningkatnya biaya penyimpanan.

Apabila jumlah materi mentah yang dibeli terlalu kecil dari kebutuhannya maka konsekuensinya yaitu :
  • Proses produksi terhambat oleh lantaran kehabisan materi baku langsung.
  • Timbul biaya pemanis untuk mencari materi baku pengganti dalam jangka waktu secepat mungkin.

Anggaran Persediaan Bahan Mentah

Kebijaksanaan dalam evaluasi persediaan sanggup dikelompokkan menjadi :
  1. FIFO (First in First Out).
  2. Dalam budi ini, materi mentah yang lebih dahulu digunakan untuk produksi yaitu materi mentah yang lebih dulu masuk ke gudang. Dengan kata lain, evaluasi materi mentah digudang nilainya diurutkan berdasarkan urutan waktu pembeliannya.

  3. LIFO (Last in First Out).
  4. Dalam budi LIFO, materi mentah yang masuk ke gudang lebih selesai justru digunakan untuk mennetukan nilai materi mentah yang digunakan dalam produksi, meskipun pemakaian fisik tetap diurutkan berdasarkan urutan pemasukannya.

  5. Average.
  6. Kebijaksanaan ini memakai nilai rata-rata materi mentah yang diolah, didasarkan pada nilai rata-rata pembelian-pembelian materi mentah yang pernah dilakukan oleh perusahaan, semenjak awal hingga akhir.

Tujuan penyusunan anggaran persediaan materi mentah yaitu untuk mengendalikan tingkat persediaan materi mentah yang terdapat dalam gudang sehingga sanggup diketahui penggunaan materi mentah yang masih tersisa sebagai persediaan dengan planning semula.

Besarnya materi mentah yang harus tersedia untuk kelancaran proses produksi tergantung pada beberapa faktor, ibarat :
  1. Volume produksi selama satu periode waktu tertentu.
  2. Volume materi mentah minimal, yang disebut safety stock.
  3. Besarnya pembelian yang ekonomis.
  4. Estimasi perihal naik turunnya harga materi mentah pada waktu-waktu mendatang.
  5. Biaya-biaya penyimpanan dan pemeliharaan materi mentah.
  6. Tingkat kecepatan materi mentah menjadi rusak.

Safety Stock adalah tingkat persediaan materi mentah yang paling minimal yang harus dipertahankan untuk menjamin kelangsungan proses produksi.

Besarnya safety stock dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut :
  1. Kebiasaan leveransir (orang yang bertugas menyediakan bahan-bahan keperluan) menyerahkan materi mentah yang dipesan, apakah selalu sempurna waktu atau tidak.
  2. Jumlah materi mentah yang dibeli setiap kali pemesanan.
  3. Dapat diperkirakan atau tidaknya kebutuhan materi mentah secara tepat.
  4. Perbandingan antara biaya penyimpanan materi mentah dan biaya ekstra lantaran kehabisan materi mentah.

Dalam anggaran persediaan materi mentah perlu diperinci hal-hal sebagai berikut :
  1. Jenis materi mentah yang digunakan.
  2. Jumlah masing-masing jenis materi mentah yang tersisa sebagai persediaan.
  3. Harga per unit masing-masing jenis materi mentah.
  4. Nilai materi mentah yang disimpan sebagai persediaan.

Anggaran Bahan Mentah yang Habis Digunakan

Tidak semua materi mentah yang tersedia akan habis digunakan untuk produksi. Hal ini disebabkan lantaran :
  1. Perlu adanya persediaan akhir, yang akan menjadi persediaan awal periode berikutnya.
  2. Perlu adanya safety stock agar kelangsungan produksi tidak terganggu akhir kehabisan materi mentah.

Manfaat disusunnya anggaran biaya materi mentah yang habis digunakan yaitu :
  1. Untuk keperluan product costing, yakni perhitungan harga pokok barang yang dihasilkan perusahaan.
  2. Untuk keperluan pengawasan penggunaan materi mentah.

Anggaran materi mentah yang habis digunakan perlu memperinci hal-hal berikut :
  1. Jenis materi mentah yang digunakan.
  2. Jumlah masing-masing materi mentah yang habis digunakan untuk produksi.
  3. Harga per unit masing-masing jenis materi mentah.
  4. Nilai masing-masing materi mentah yang habis digunakan untuk produksi.
  5. Jenis produk jadi yang memakai materi mentah.
  6. Waktu penggunaan materi mentah.

Sumber http://www.dounkey.com

Sunday, April 1, 2018

√ Eoq - Economic Order Quantity

adalah jumlah materi baku pribadi yang harus dibeli setiap kali dilakukan pembelian sehing √ EOQ - Economic Order quantity

EOQ (Economic Order Quantity) adalah jumlah materi baku pribadi yang harus dibeli setiap kali dilakukan pembelian sehingga akan menimbulkan biaya yang paling rendah akan tetapi tidak akan mengakibatkan kekurangan materi baku langsung.

Terdapat 2 jenis biaya yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung EOQ :
  1. Biaya Pemesanan (Procurement Cost atau Set-Up Cost)
  2. Biaya pemesanan ialah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan materi mentah. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pemasanan, semakin tinggi frekuensi pemesanannya semakin tinggi pula biaya pemesanannya.

    Sebaliknya, biaya ini berbanding terbalik dengan jumlah materi mentah setiap kali pemesanan. Hal ini disebabkan lantaran semakin besarnya jumlah setiap kali pemesanan dilakukan, berarti frekuensi pemesanan menjadi semakin rendah.

  3. Biaya Penyimpanan (Carrying Cost atau Storage Cost)
  4. Biaya penyimpanan ialah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan penyimpanan materi mentah yang sudah dibeli. Biaya ini berubah-ubah sesuai dengan jumlah materi mentah yang disimpan.

    Semakin besar jumlah materi mentah setiap kali pemesanan maka biaya penyimpanan semakin besar pula. Biaya penyimpanan mempunyai sifat yang berlawanan dengan biaya pemesanan.

Rumus EOQ

Rumus yang dipakai untuk menghitung EOQ ialah sebagai berikut :
  • Apabila Cc (Carrying Cost) dalam bentuk satuan mata uang :
  • adalah jumlah materi baku pribadi yang harus dibeli setiap kali dilakukan pembelian sehing √ EOQ - Economic Order quantity

  • Apabila Cc (Carrying Cost) dalam bentuk persentase :
  • adalah jumlah materi baku pribadi yang harus dibeli setiap kali dilakukan pembelian sehing √ EOQ - Economic Order quantity

Dimana :
Ru = kebutuhan materi mentah selama setahun.
Co = Biaya pemesanan setiap kali pesan.
Cc = Biaya simpan.
Cu = Harga materi mentah per unit.

Bahan mentah yang tiba terlambat akan mengakibatkan terganggunya kelancaran proses produksi. Kadang-kadang perlu dicari materi mentah pengganti semoga proses produksi tidak terhenti. Biaya yang terpaksa dikeluarkan lantaran keterlambatan datangnya materi mentah disebut Stock Out Cost.

Sebaliknya, biaya materi mentah yang tiba terlalu awal (terlalu cepat) akan menimbulkan persoalan pula. Harus disediakan kawasan penyimpanan, dan harus ditanggung pula biaya pemeliharaan ekstra. Biaya-biaya yang terpaksa dikeluarkan lantaran materi mentah tiba terlalu awal disebut Extra Carrying Cost.

Karena itu dalam memilih waktu pemesanan materi mentah perlu diperhatikan faktor Lead Time.

Lead Time adalah jangka waktu semenjak dilakukannya pemesanan hingga dikala datangnya materi mentah yang dipesan dan siap untuk dipakai dalam proses produksi.

Setelah diperhatikan faktor Lead Time, sanggup ditentukan Reorder Point.

Reorder Point (ROP) adalah dikala dimana harus dilakukan pemesanan kembali materi mentah yang diperlukan.

Jika digambarkan dalam grafik maka grafiknya akan sebagai berikut :
adalah jumlah materi baku pribadi yang harus dibeli setiap kali dilakukan pembelian sehing √ EOQ - Economic Order quantity

Makara faktor-faktor yang perlu diperhatikan untuk merencanaan dikala pemesanan materi mentah pada periode mendatang, antara lain :
  1. Lead time
  2. Extra carrying cost
  3. Stock out cost

Anggaran pembelian materi baku sanggup disusun apabila total kebutuhan materi mentah untuk satu periode telah ditentukan, dengan perhitungan sebagai berikut :

Sumber http://www.dounkey.com