Waktu saya tiba ke Jepang tahun 2004 lalu, saya dalam keadaan hamil (ini pun tahunya, ketika tes kesehatan sesudah saya dinyatakan keterima kerja di Kantor Walikota Kochi). Selain beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, yang saya lakukan pada ketika awal kedatangan yaitu mencari rumah sakit untuk kontrol kehamilan dan melahirkan nanti. Dalam investigasi rutin tersebut, saya sering mendapatkan nasihat-nasihat dari perawat maupun bidan di sana. Salah satunya yaitu “kalau bisa, baju bayinya nggak usah beli. Baju bekas dari kenalan saja, alasannya yaitu belum dewasa kan cepat besar. Makara sayang jikalau beli baru.”
Semula saya kaget, eits… di negara sebesar Jepang ternyata ada ya sistem melungsurkan barang. Mereka menyebutnya おさがり (osagari). Ternyata barang-barang lungsuran ini berputar. Sewaktu anak saya masuk 保育園 (hoikuen = prasekolah/penitipan), saya sering menerima barang bekas dari siswa yang lebih besar, atau memperlihatkan barang bekas anak saya kepada siswa yang lebih kecil. Biasanya sih, baju atau sepatu. Ketentuan di penitipan daerah belum dewasa saya yaitu memberi nama semua barang yang dibawa ke sekolah. Makara jikalau sepatunya dilungsurkan, nama yang usang akan dicoret, dan diganti dengan nama pemilik yang baru. Dan itu yaitu sesuatu yang wajar, bukan sesuatu yang dianggap memalukan. Di Jepang, biasanya orang-orang secara rutin mengganti baju yang dimasukkan lemari sesuai musimnya, hal itu disebut 衣替え(koromo gae). Nah, pada momen ini biasanya saling bertanya “Ini saya ada baju/sepatu ukuran sekian cm, mau pakai tidak?”
Saya suka cara ini, alasannya yaitu sanggup berhemat dan mengurangi sampah. Tapi sayangnya, sesudah saya balik ke Surabaya, saya tidak terlalu melihat kebiasaan memutar barang ini. Mungkin pada merasa segan memberi barang bekas ke orang lain… Padahal sih, tolong-menolong nggak masalah. Bagaimana berdasarkan kalian?
celana kera abang ketika beliau masih kecil.
celana kera abang dilungsurkan kepada adiknya krn kakaknya sudah tidak menggunakan lagi.
Jika kita pindah ke daerah baru, hampir dapat dipastikan kita akan menemui kebiasaan-kebiasaan gres yang berbeda dengan yang kita lakukan di daerah asal kita. Begitu juga ketika saya di Jepang. Saya mengalami hal yang berbeda dengan kebiasaan saya (saya tidak bilang berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia, alasannya Indonesia luas banget…). Kali ini, saya ingin menulis beberapa hal yang berbeda yang saya temui ketika saya di Jepang dan hal berbeda yang ditemui anak saya ketika mereka pertama kali ke Jawa.
※Disclaimer: Postingan ini sama sekali ditujukan untuk menilai budaya/kebiasaan mana yang lebih bagus.
1. Waktu mandi
Dari kecil saya biasa diajari oleh orang bau tanah saya, bahwa kalau mau ketemu orang, harus dalam keadaan, higienis dan rapi, untuk menghormati orang yang akan ditemui. Nah… suatu hari ketika saya di RS (rawat inap selama 1 ahad pas melahirkan), saya mau ke balai kota yang jaraknya 200 meter saja dari RS. Mau mengurus surat keterangan lahir si bayi, alasannya nggak mungkin mengirim pak suami yang gres 2 ahad menginjak tanah Jepang. Saya ke ruang perawat, minta izin nitip bayi alasannya saya mau mandi dan pergi. Eh perawatnya bilang, “Loh? Mandinya apa nggak sebaiknya nanti saja, sehabis dari balai kota? Makara pergi aja dulu…” Usul itu sangat tidak masuk nalar bagi saya. Mau ketemu orang kok nggak boleh mandi 😀 Rupanya, kebiasaan orang di Jepang, mereka mandi sehabis semua urusan di luar selesai, jadi ketika mereka di dalam rumah badannya dalam keadaan bersih. Meskipun tahu begitu, tetap saja saya “tidak hingga hati” untuk bertemu orang dalam keadaan belum mandi 😀
2. Seledri
Pekerjaan yang saya lakukan di Kantor Walikota Kochi selain mengurusi korespondensi terkait dengan Sister City antara kota Surabaya dengan Kochi, yaitu mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat Kochi. Saya sama sekali nggak ngerti kesenian tradisional Indonesia, jadi saya putuskan secara terjadwal membuka kelas bahasa Indonesia dan kelas memasak. Suatu hari saya mengajari mereka bikin soto ayam (pakai bumbu beneran, bukan instan). Salah satu kelengkapan soto kan daun seledri, jadi saya kasih lihat kalau daun seledrinya saja yang dicincang. Para penerima kaget. “Sensei, batangnya ini diapakan?” “Dibuang,” jawab saya. “Waaah… mottainai. Sarada ni shitara oishii desu yo,” kata mereka sambil menyarankan untuk menggunakan batang seledri sebagai adonan salad. Ah, jadi tahu kalau batang seledri dapat dimakan wkwkw.
3. Cara makan
Ini pengalaman anak saya. Sejak kecil, ketika mereka mulai dapat duduk, sudah dibiasakan untuk makan dengan duduk di dingklik menghadap ke meja dan duduk manis hingga akibat makan. Di day care mereka pun juga begitu. Semua duduk manis ketika jam makan. Nah, pas mereka pulang ke Indonesia, mereka terkejut ketika main di halaman melihat ada ibu-ibu pegang piring, sambil ngejar-ngejar anaknya. “Itu ngapain?” Waktu saya jelaskan bahwa si ibu itu ngasih makan anaknya mereka heran “Kok, makan nggak duduk ya…”
4. “aku pinjam ya…”
Saat di Kochi, bawah umur jarang main ke rumah temannya, dan temannya pun jarang main ke rumah. Biasanya mereka janjian ketemu di taman dekat rumah kemudian main di situ. Kadang-kadang saja sahabat yang benar-benar dekat yang main ke rumah. Ketika mereka balik ke Surabaya, mereka kaget ketika bawah umur tetangga yang gres kenal tiba dan masuk ke dalam rumah. Saat itu saya masih di Jepang, jadi mereka dongeng lewat telepon “Ibu chan, itu bawah umur Indonesia mainnya masuk ke rumah lo. Aku juga diajak main ke rumah mereka.” Di lain kesempatan, mereka dongeng lagi, “ternyata bawah umur Indonesia kalau pakai mainanku nggak pernah bilang, pribadi ambil saja.” Di Jepang mereka terbiasa minta izin dulu sebelum pegang mainan temannya, dan temannya pun juga selalu minta izin “kore kashite ne…”.
Itulah beberapa hal yang berbeda pada kehidupan sehari-hari di Jepang dan di Indonesia. Tapi sebisa mungkin kalau kita berada di daerah gres ikutilah kebiasaan orang setempat, biar lebih gampang diterima di lingkungan. Di Jepang, ada peribahasa yang berbunyi :郷に入れば郷に従え(goo ni ireba goo ni shitagae), yang artinya lebih kurang sama dengan peribahasa Indonesia “di mana bumi di pijak, di situ langit dijunjung”.
Bagaimana dengan Anda? Ada pengalaman menarik ketika berada di daerah baru? Bagi di sini yuuuk… → Facebook
Sambil menunggu materi yang gres keluar, saya ceritain ihwal kehidupan siswa SD, ya. Harap diingat, ini ialah dongeng menurut pengalaman saya, tidak mewakili realita di seluruh Jepang. Ini ihwal kehidupan siswa SD di sekolah dasar negeri di Kota Kochi. Tepatnya, di SD daerah Si Besar pernah bersekolah. Makara jangan protes kalau kondisinya berbeda dengan SD di daerah lain di Jepang. O ya, goresan pena ini akan sangat panjaaang. Makara kayanya sesudah Tanaka Sensei selesai koreksi pun, kalian belum selesai baca goresan pena ini wkwk…
Masa Awal Masuk Sekolah
Mungkin sudah pada tahu, tahun aliran di Jepang dimulai pada bulan April. Biasanya tahun aliran gres bersamaan dengan isu terkini sakura, sehingga foto keluarga pada ketika penerimaan siswa baru, kebanyakan berlatar belakang bunga sakura. (Yang suka nonton film/dorama atau anime Jepang niscaya mengangguk-angguk… “Oh, iya… pernah lihat…”)
Hari pertama masuk sekolah, diawali dengan upacara penerimaan siswa baru. Biasanya semua pada tiba dengan setelan jas yang rapi. Orang bau tanah yang mengantar pun, menggunakan setelan jas juga. Berbeda dengan setelan jas yang digunakan pada ketika perpisahan sekolah yang cenderung berwarna gelap, setelan jas yang digunakan pada upacara penerimaan siswa gres (terutama oleh para ibu) biasanya berwarna lebih cerah. Warna biru muda, peach, atau coklat muda.
Para siswa gres mendapatkan satu set buku paket, dan satu set alat peraga pelajaran. Karena semua anak mempunyai barang yang sama, jadi semua barang harus diberi nama. Dan itu buanyaaak sekali. Misalnya pensil warna, bukan hanya kotaknya yang diberi nama, tetapi setiap pensil. Pokoknya, semua barang yang dibawa ke sekolah harus diberi nama. Saya masih ingat, tangan saya rasanya kram alasannya ialah menulis nama entah berapa puluh kali.
Di sekolah anak saya, pada kelas 1-3 yang diutamakan ialah kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara berdikari dan menguasai tata krama dasar dalam bermasyarakat. Karena itu, pada beberapa hari awal, belum dewasa kelas 1 diberi kartu yang sudah diberi kotak-kotak. Fungsinya untuk ditempeli stiker oleh para sukarelawan yang mereka temui di sekitar sekolah bila mereka mengucapkan salam “Ohayou gozaimasu.” Nantinya jumlah stiker itu akan dihitung, dan yang mengumpulkan stiker terbanyak, akan sanggup penghargaan. Sekolah anak saya terletak di erat perempatan besar, dan setiap jam berangkat dan pulang sekolah, selalu saja ada orang yang berjaga untuk membantu belum dewasa menyeberang. Mereka ialah guru sekolah dan beberapa sukarelawan dari masyarakat sekitar.
Kegiatan di Sekolah
Rak sepatu di Sekolah
Jika kita memasuki gedung sekolah di Jepang, di lobbynya biasanya tersedia rak sepatu. Baik itu untuk seluruh penghuni sekolah, maupun untuk tamu (yang untuk tamu biasanya disediakan rak terpisah), jadi kita masukkan sepatu ke rak itu, dan mengambil sandal yang disediakan. Untuk para siswa, mereka menggunakan sepatu khusus dalam ruangan yang disebut “uwabaki”. Biasanya uwabaki ditinggal di sekolah, dan dibawa pulang seminggu sekali untuk dicuci.
Kyuushoku (makan siang tersedia di sekolah)
Si Besar & Ember. wkwk
Pelajaran di sekolah dimulai dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Karena sekolahnya dari pagi hingga sore, tentu saja disediakan makan siang. Di daerah anak saya bersekolah, makan siang disediakan di sekolah (給食 kyuushoku), jadi tidak perlu membawa bekal. Setiap bulan, diedarkan kertas sajian (献立 -kondate), jadi orang bau tanah bisa tahu sajian apa yang akan dikeluarkan, dan bisa memberi tahu pihak sekolah bila anaknya ada alergi materi kuliner tertentu. Setiap hari, secara bergantian para siswa melayani teman-temannya makan (biasanya rotasinya seminggu). Mereka menggunakan baju koki, mengambil kuliner di pantry, kemudian bergantian mengisi nampan milik temannya. Ada yang kebagian mengisikan nasi, sup, sayur…
Beberapa kali dalam 1 tahun, orang bau tanah boleh tiba meninjau pelaksanaan pelajaran (参観日= sankanbi – hari peninjauan), dan saya sempat shock ketika pertama kali melihat belum dewasa mengangkut sup dari pantry… pakai ember…. Duh, saya pribadi keingat sapi dan kambing peliharaan bapak saya di Blitar sana, makanannya juga diangkut pakai bejana 😀 Setelah makan siang selesai, biasanya mereka bahu-membahu membersihkan kelas. Menyapu dan mengepel.
Kagikko (anak pembawa kunci) dan Jidou kurabu (klub anak-anak)
Kebanyakan keluarga di Jepang ialah keluarga inti, yaitu orang bau tanah dan anak saja. Jadi, kalau orang tuanya bekerja di luar rumah, pada ketika anak pulang sekolah di rumah tidak ada siapa-siapa. Untuk anak yang sudah besar (biasanya kelas 4 ke atas), mereka diberi kunci rumah sendiri, sehingga bisa pribadi pulang. Sebutan untuk mereka ialah 鍵っ子 (kagikko = anak pembawa kunci). Agar tidak hilang, biasanya mereka menggantungkan kuncinya di leher. Sedangkan bagi belum dewasa yang masih kecil (kelas 1-3), disediakan daerah untuk menunggu yang disebut 児童クラブ (jidou kurabu = klub anak-anak). Di situ mereka akan ditemani menciptakan PR, diberi kuliner kecil (おやつ = oyatsu), dan ditemani bermain hingga sekitar pukul 5 sore ketika orang tuanya pulang ke rumah. Di lingkungan daerah saya tinggal, selain jidou kurabu yang ada di sekolah, juga ada semacam jidou kurabu yang dikelola oleh masyarakat. Makara belum dewasa yang tidak bisa masuk di jidou kurabu alasannya ialah keterbatasan tempat, bisa menunggu orang tuanya di situ.
HP Khusus Anak-anak
O ya, di SD anak saya, tidak diperkenankan membawa hape. Kalau terpaksa harus membawa hape ke sekolah, orang tuanya harus menandatangani surat perjanjian (menjamin anaknya tidak main hape ketika pelajaran, tidak menuntut pihak sekolah bila terjadi kehilangan blablabla). Biasanya kalaupun mereka terpaksa bawa hape, itu hape khusus anak-anak, yang isi kontaknya cuma bisa 3 orang dengan kemudahan GPS sehingga orang bau tanah bisa memantau lokasi anaknya ketika main di luar.
Praktik daripada Teori
Yang saya suka pada SD di Jepang, mereka mempelajari sesuatu dengan praktik, bukan sekadar teori. Untuk pelajaran olahraga ada lapangan terbuka, lapangan tertutup dan kolam renang. Untuk pelajaran musik ada ruang musiknya. Untuk pelajaran kerumahtanggaan, ada dapur yang bisa digunakan untuk praktik memasak. Setiap menjelang simpulan tahun ajaran, biasanya mereka mengadakan semacam pentas seni. Masing-masing kelas mengatakan kemahirannya dalam bermusik. Saya kagum sekali, anak kelas 1 SD bisa kompak bermain musik menyerupai orchestra, tapi lebih kagum lagi pada guru pembimbingnya. Selain itu, setahun sekali diadakan juga pertandingan olahraga (運動会 = undoukai).
Partisipasi orang bau tanah dalam kegiatan sekolah
Untuk membantu kelancaran kegiatan di sekolah, biasanya pihak sekolah menghimbau orang bau tanah untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Selain membantu kegiatan tahunan sekolah menyerupai persiapan undoukai, pentas seni, menunggu kolam renang pada ketika liburan isu terkini panas, atau membantu pelaksanaan pameran sekolah, orang bau tanah juga bisa berpartisipasi dalam kegiatan rutin mingguan. Saya ikut dalam kegiatan 読み聞かせ (yomikikase = membacakan buku cerita). Meskipun belum dewasa sudah bisa membaca, mereka sangat menikmati bila dibacakan cerita. Mereka akan duduk di lantai, dan si pembaca dongeng akan membacakan buku di depan mereka. Waktunya tidak lama, sekitar 10 menit saja setiap minggunya. Makara saya mampir dulu ke sekolah sebelum berangkat kerja. Mencari bacaan yang sesuai untuk anak kelas rendah lebih sulit daripada untuk belum dewasa kelas atas. Harus mencari materi bacaan yang kata-katanya gampang dicerna dan biasanya hampir semua ditulis dengan hiragana, dan kadang saya gundah harus memberi jeda di mana. Karena itu, biasanya sehari sebelum ke sekolah, saya berlatih dulu di rumah. Asliii… lebih gampang baca novel, alasannya ialah ada aksara kanjinya, daripada baca buku belum dewasa yang tulisannya hiragana melulu. Eh, waktu saya mengajukan diri jadi anggota yomikikase, sempat dilihat dengan pandangan “Serius lo? Emang bisa?” dari orang-orang yang hadir.
Kali ini, saya mau menulis perihal “kekuatan impian”. Sebenarnya, saya mau nulisnya pas sesudah resolusi tahun baru dari anggota muncul di awal tahun tempo hari, tapi apa daya… kadang kala saya suka sok sibuk, jadinya banyak draft goresan pena yang mangkrak. Saya coba selesaikan 1 goresan pena malam ini, dan kayanya akan puanjang sekali… Ah, kapan ya saya bisa bikin goresan pena pendek… Semoga nggak bosan membacanya.
Membaca resolusi tahun baru dari anggota di sini, saya ikut bahagia ketika ada yang menulis perihal harapan dan mimpi-mimpi yang ingin dicapainya pada tahun ini. Namun dikala membaca, ada yang memberi komplemen “tapi tidak mungkin deh…” pada harapannya, kok saya merasa duka dan gimanaa gitu… Bagaimana mereka bisa memastikan sesuatu yang belum terjadi sebagai sesuatu yang “mustahil”? Apa sudah dicoba? Atau cuma dibayangkan saja??
Pengalaman Beasiswa di Jepang
Dulu, pada tamat masa kuliah, saya punya impian “ingin tinggal di luar negeri hingga umur sekian sekian.” Nah, impian itu yang memotivasi saya untuk berusaha mewujudkannya. Saya bukan dari keluarga kaya yang tinggal minta duit ortu untuk modal hidup di luar negeri. Makara kalau saya ingin tinggal di luar negeri, saya harus berusaha sendiri. Kenapa sih, saya ingin tinggal di luar negeri? Karena, dikala kuliah saya pernah sanggup beasiswa dari Kementrian Pendidikan Jepang untuk berguru selama 1 tahun di universitas di Jepang (saya menentukan Osaka University of Foreign Languange/ 大阪外国語大学 yang kini telah menjadi satu dengan Osaka University). Pengalaman selama 1 tahun itu sangat berkesan bagi saya. Saat itu saya mengumpamakan, Indonesia yaitu sebuah bola, dan selama ini saya hidup di dalam bola itu. Tinggal di Jepang, menciptakan saya bisa melihat bola itu secara utuh, bukan sekadar tanah datar yang bisa dilihat dengan tengok kiri tengok kanan saja. Perumpamaan yang aneh, ya? Tapi asli… dikala itu, itulah yang saya rasakan. Selain berkenalan dengan orang-orang Jepang, yang bahasanya saya pelajari di kampus, saya juga melihat pribadi apa yang sebelumnya hanya saya lihat di TV, saya baca di majalah atau buku-buku. Dan ada komplemen bonus, saya jadi bisa punya sobat dari banyak sekali negara.
Keinginan Saya Tetap “Tinggal di Luar Negeri”
Setelah lulus kuliah, saya sempat bekerja di beberapa tempat. Makara pengajar paruh waktu di universitas swasta, jadi pegawai di kantor rektorat sebuah universitas swasta, jadi biro asuransi, dan yang terakhir jadi koordinator kursus bahasa asing dan kursus bahasa Indonesia untuk penutur bahasa asing yang dikelola oleh Kantor Hubungan Internasional sebuah universitas yang berkampus di beberapa kawasan di Surabaya. Di gedung kawasan saya berkantor, ada beberapa perwakilan tubuh pendidikan dari beberapa negara. Saya sering bertanya ke sana sini, perihal warta sekolah di negara-negara itu. Keinginan saya yaitu “tinggal di luar negeri”, dan waktu itu, saya tidak membatasi harus ke Jepang. Pokoknya luar negeri ^^ Makara sambil bekerja, saya mencari info untuk bisa ke luar negeri. Saat ada pembukaan registrasi beasiswa, saya juga menyiapkan persyaratan yang diperlukan. Dokumen ini itu, ujian TOEFL, dll. Pas resah menentukan sekolah, sebuah kabar berhembus, “ada lowongan kerja sebagai penerjemah di kantor walikota Kochi, Jepang”. Saat itu, saya sama sekali tidak familier dengan kota Kochi. Karena waktu kuliah, paling mentok saya main hingga Tokushima.
Lulus dari JET Programme
Saya mendaftar kegiatan yang ditawarkan melalui Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Nama programnya yaitu JET Programme. Program ini tidak terlalu populer di Indonesia, alasannya memang hanya merekrut orang dalam jumlah sedikit. (Saat ini JET Programme telah berjalan selama 30 tahun, tetapi alumni dari Indonesia belum hingga 10 orang). Setelah ikut seleksi tertulis dan wawancara, ternyata saya lolos. Saat saya berangkat, hanya saya dan seorang instruktur bulu tangkis yang dari Indonesia. Padahal peserta dari seluruh dunia yang ikut pada tahun kedatangan saya (2004) ada sekitar 6.000 orang (dibagi menjadi 3 gelombang kedatangan). Ada 3 pekerjaan yang ditawarkan yaitu sebagai ALT (Assistant Language Teacher, membantu guru di sekolah mengajar bahasa asing), CIR (Coordinator of International Relations, membantu mengurusi hubungan internasional di instansi kawasan tugasnya, saya ikut ini), dan SEA (Sports Exchange Advisor, biasanya melatih olahraga di sekolah atau klub-klub).
Tinggal di Jepang sebagai Pekerja
Tinggal di Jepang sebagai pekerja, tentu saja berbeda dengan dikala saya tinggal di asrama sebagai mahasiswa. Saya harus mengurusi segala hal sebagai seorang dewasa. Membiasakan diri dengan pekerjaan dan sistem yang berlaku, bersosialisasi dengan orang-orang baru, membiasakan indera pendengaran dengan bahasa yang agak berbeda dari yang biasa saya dengar pada pelajaran 聴解 choukai = listening, benar-benar suatu pengalaman yang sangat berharga.
Tugas utama saya dikala itu yaitu membantu mengurusi sister city antara kota Kochi – Surabaya. Menjadi penerjemah baik verbal maupun tulisan. Selain itu, saya juga berkunjung ke institusi pendidikan (mulai SD hingga universitas, termasuk beberapa kali ke SLB), membuka kelas untuk warga masyarakat, untuk memperkenalkan Indonesia kepada mereka. Kalau saya kurang bisa memperlihatkan suatu materi, maka saya akan minta dukungan orang Indonesia yang ada di situ. Misalnya mengajar gamelan (kebetulan di Kochi ada 1 set gamelan), mengajar membatik, mengajar menari yang kesemuanya di luar keahlian saya^^ Kontrak kerja awal saya yaitu maksimal 3 tahun, tetapi menjelang tahun ketiga, ada peraturan baru, bahwa jikalau organisasi peserta dan peserta JET sepakat, kontrak bisa diperpanjang hingga 5 tahun. Jadilah saya di kantor walikota selama 5 tahun.
Habis Kontrak 5 Tahun, Tetapi Masih Ingin Tinggal di Jepang!
Setelah masa 5 tahun selesai, saya masih ingin tinggal di Jepang, alasannya kan saya maunya hingga umur sekian sekian, dan dikala itu masih umur sekian sekian kurang 5 tahun. Makara sesudah selesai masa kontrak JET, saya cari-cari kerja baru. Tidak pribadi dapat. Saya sempat menganggur selama hampir 2 bulan. Atas komitmen dengan pak suami, kalau sesudah 3 bulan saya tidak sanggup pekerjaan baru, kami pulang. Jadinya, nyari kerjaan sambil nyicil packing.
Selama masa menganggur, saya sanggup tunjangan alasannya selama saya bekerja saya membayar asuransi tenaga kerja. Secara rutin saya tiba ke kantor Hello Work (lembaga yang membantu menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja). Saat itu ada beberapa lowongan yang dirasa cocok untuk saya, yaitu sebagai tur guide. Akan tetapi dikala itu saya ada 2 balita, yang tidak mungkin saya tinggal bepergian terlalu sering, hasilnya saya putuskan untuk tidak melamar ke perusahaan itu. Saya juga melamar ke instansi pemerintah Indonesia di Tokyo, tapi sayang sekali dikala itu mereka sedang mengetatkan anggaran jadi tidak bisa merekrut karyawan baru.
Akhirnya Diterima sebagai Karyawan Tetap
Menjelang 2 bulan masa mengaggur, pada suatu hari saya ngobrol dengan salah satu walimurid sobat Si Besar. Ternyata dia sedang mencari karyawan yang ngerti bahasa Inggris. Langsung saja, saya bilang, kalau saya lagi nyari kerja. Saya diminta tiba ke kantornya untuk dikenalkan dengan orang besar kedua di situ. Setelah ngobrol ini itu, hasilnya mereka setuju mendapatkan saya, dan pak suami juga!! (Saya jadi pegawai tetap, pak suami kerja paruh waktu). Pekerjaan di kantor itu, selain pekerjaan kantoran biasa, mereka juga punya beberapa online shop, dan sering ada pembeli dari luar negeri atau orang asing yang tinggal di Jepang, jadi saya diminta menangani korespondensi itu. Saat saya bekerja memasuki tahun kedua, tiba-tiba ada telepon dari instansi pemerintah Indonesia yang pernah saya lamar di Tokyo, meminta saya untuk bekerja di sana. Laaah… piye to… saya sudah kadung kerja, nggak yummy kalau pindah-pindah. Akhirnya terpaksa saya tolak.
Hidup Berjauhan dengan Keluarga
Sejak awal saya tidak pernah punya keinginan untuk tinggal di luar negeri selamanya. Jadi, kalau sudah saatnya pulang, maka saya akan pulang ke Indonesia. Karena itu, dikala Si Nomor Dua menjelang masuk SD, pak suami dan bawah umur pulang ke Jawa duluan. Mumpung timingnya pas. Saya masih tinggal, alasannya belum umur sekian-sekian 😀 Jadilah kami sekeluarga berjauhan selama 3 tahun. Untung sekali dikala itu sudah ada internet wkwkw, jadi bisa video call sambil membantu bawah umur berguru pelajaran SD di Indonesia.
Pasca Tinggal di Jepang
Sepulangnya mereka ke Indonesia, saya melanjutkan kehidupan saya di Jepang. Sambil mempersiapkan kepulangan yang kurang 3 tahun, saya mencari-cari pekerjaan di Jepang yang bisa saya kerjakan dari mana saja (terutama dari rumah, alasannya saya sudah malas membayangkan kemacetan Surabaya). Akhirnya saya melamar ke beberapa biro penerjemahan di Jepang dan Vietnam. Saat saya mengajukan pengunduran diri di kantor kawasan saya bekerja alasannya saya sudah berumur sekian-sekian, saya sudah punya bayangan apa yang akan saya kerjakan di Surabaya nantinya.
Kekuatan Impian
Begitulah dongeng saya mengejar impian. Jadi, kalau kalian punya impian, berusahalah mencapainya. Soal itu akan terwujud atau tidak, bukan hak kita untuk memutuskan, apalagi hingga memvonis “mustahil” untuk sesuatu yang belum terjadi. Ada banyak jalan untuk mewujudkan impian. Terkadang jalan itu sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Bermimpilah, berusahalah, dan nikmatilah hasil usahamu itu. Doa saya bersama kalian yang mau bermimpi dan berusaha untuk mewujudkannya. Selamat malam… supaya mimpi indah.
Saya menikah ketika berumur 25 tahun, suami orang Jepang(kansai)kami bertemu semasa mahasiswa, lulus univ, bekerja sebentar, kemudian menikah dan pindah ke Yokohama, eksklusif masuk dalam perumahan perusahaan (shataku) yang keciiiiilll dan minimalis (^^), maklum suami ketika itu juga masih muda jadi kita sanggup kamar terkecil. Saya belum sanggup bicara Bahasa Jepang dan didaftarkan ke sekolah Bahasa intensive course di YMCA Yokohama, tetapi sayangnya saya tiba di bulan November, sedangkan sekolah Bahasa dimulai bulan April. Kaprikornus sambil menunggu saya berniat mencari sahabat gres dari tetangga2 terdekat (^O^). Ide yang anggun khan?
Saya senang sekali alasannya ialah saya mendapat seruan minum teh (ocha kai istilahnya) dari seorang tetangga Y san(yg pernah homestay di USA), walau secara terpatah-patah kita masih sanggup berkomunikasi dan Y san juga mengundang beberapa ibu lain. Mereka sangat halus dan maniiiissss. Saya pikir… wah saya sudah sanggup sahabat nih yeay (^^♪..shiawase…shiawase.
Ternyata Dia Lari!
Akan tetapi beberapa hari kemudian, ketika bertemu dengan sahabat gres di supermarket.. dia kaget dan lari menghindar (0^0)? Ah mungkin dia sibuk, besoknya lagi dengan sahabat gres yang lain begitu kita bertemu pandang dia juga larii dari saya… EEEEh kenapa ya? Apa yang salah dengan saya ini??? Dulu mereka manis sekali? Ahhh bingung, tapi bagaimana baiknya ya? Tanya Y san saja? Ah tapi malu!! Khan dia yang kenalkan, tanya suami??? Ah tetapi masa hal sepele ini curhat ke suami!! Tidak berasa waktu berlalu dan saya tidak ada sahabat dan terkurung di rumah kecil saya… pagi ngobrol ke tembok sebelah kiri, kemudian tembok kanan, depan belakang!! Aw saya yang selalu punya banyak teman, tiba2 merasa sangat kesepian “(_ _)”… waktu itu belum ada FB, Insta, Twitter… bahkan belum ada internet lho!!! Kanashii ( )
Mencari Pekerjaan di Jepang
Oh ya selain tembok, yang menemani saya hanya koran Japan Times, saya sanggup baca berjam-jam(@_@) dan suatu ketika saya berpikir, mencari jalan keluar. saya Kutak-katik kolom advertisement khususnya kolom “helper needed” Saya telfon kesana-sini dan saya mendapat hadiah terindah pertama ♪? Saya diminta tiba untuk interview untuk pekerjaan baby sitting anak bule umur 4 tahun horeeeee.
Waktu saya dongeng ke suami, dia kaget sekali dia bilang “di Jepang ini ada yang namanya commitment, tidak sanggup eksklusif berhenti jikalau bulan April mulai sekolah Bahasa. Itu namanya merepotkan” Yaaa saya tidak betah dirumah melulu… saya perlu keluar dan bertemu orang… saya tidak sanggup menunggu hingga tahun depan, jikalau memang jodoh saya harus baby sit niscaya diterima, saya tanggung jawab, jikalau tidak jodoh, niscaya mereka akan tolak saya pada ketika interview, apa boleh buat.” Mendengar itu suami saya jadi mengerti dan malah berusaha membantu.
Mendapat Teman Baru ^^;
Dengan diantar & ditemani suami, saya bertemu mereka. Ternyata saya diterima, Ren Tanaka ialah nama anak itu(half & bilingual inggris jepang), Suatu kebahagian yang besar bagi saya untuk mendapat part time baby-sitting itu. Ren ialah sahabat kecil saya yang pertama di Jepang, Saya sanggup bermain, berlari2, ikut main salju, setiap hari kita jalani dengan penuh tawa. Saya harus menjemput Ren dari kindergarden, bawa pulang ke rumah dan menunggu hingga salah satu dari orang renta (Tanaka san /Tanya) pulang. Kita bicara dalam Bahasa Inggris (karena Bahasa Jepang saya masih sangat limit) dan kadang sahabat kecilku ini merangkap guru kecil Bahasa Jepang. Saya mulai masuk sekolah Bahasa, walau tidak tiap hari saya tetap meneruskan part baby-sitting itu. (^^)❤❤❤ kenangan indah hingga sekarang… 大切な錬君
Pelajaran yang sanggup diambil dari kisah ini adalah
“ Hidup itu tidak mudah, tetapi kebahagiaan ada di tanganmu. Raihlah!!”
Psst; sehabis saya sanggup Bahasa Jepang, saya undang ochakai teman2 Jepang maniiis yang pernah lari menghindar dari saya, dan bertanya kenapa mereka menghindar /lari dari saya “(- -)” ternyata…. Mereka takut jikalau harus bicara dalam Bahasa Inggris!!!!! Sekarang mereka happy dan tidak takut lagi dengan saya (^^♪? OMG (^O^) jadi tembok bahasa ialah factor yang penting, わかった 。。。あ、そう?? ごめんね~。。でしょうね~ dll… no more English… wakaranakutemo nihonggo…nihonggo… わらなくても~えがおで ❤…(^o^)…❤
Q&Aタイムです! OK, kini waktunya tanya jawab!
Pengalaman saya diatas itu sudah puluhan tahun yang lalu, jadi kondisi berbeda dengan kondisi sekarang. Tetapi seandainya kamu2 kini iniiii sanggup persoalan yang samaaa, “ketemu orang (yang benar2kamu harapkan) tetapi dia malah lari menghindar!!”
2. Curhat & nulis status di FB/twitter/Medsos lainnya.
3. Cuek bebek, tidak hanya dia didunia ini ! (O^O) !
4. Tidur2an sambil mikirin akhir sadiiiiissss untuk dia.
5. Lain dr diatas (Silahkan isi) _____________________.
おしまい。 Sekian.
Contributor: Guru Niko-Niko*
*Beliau ialah seorang Indonesia yang sudah usang tinggal di Jepang, dan ngajar bahasa Indonesia di sebuah Universitas di Jepang. Oleh alasannya ialah tidak bermaksud “tebar pesona”, dia tampil di sini dengan nama pena, yaitu ニコニコ先生 (Guru Niko2).
Halo, salam kenal dari Niko2 sensei, terimakasih atas tanggapan & respon adik2 maniiiss atas cerita saya sebelumnya♪ Kali ini saya teruskan saja dengan Part II (serasa penulis cerbung ♪♪) Selamat membaca…
Niko2 sensei part II:
長い冬の後、春が来ました。 -Musim Dingin dan Musim Semi di Jepang-
Pengalaman Salju Pertama di Jepang
Jepang memiliki 4 musim. Namun, tidak setiap tahun di trend dingin salju turun, kemudian jikalau salju yg turun tidak lebat, maka salju akan pribadi meleleh menjadi ibarat air hujan. Saya beruntung sekali karena di trend dingin pertama saya di Jepang, di kawasan Tokyo dan sekitarnya (Kanto) turun hujan salju yang sangat lebat sehingga taman2 dan jalan2 dilapisi salju putih yg indah♪ Saya cukup sabar menunggu hingga hujan salju reda, setelah itu, saya dan Ren, anak asuh (Lihat dongeng sebelumnya) keluar supaya sanggup main salju di sekitar rumah, memang dingin sekali tetapi siapa takuuttt!! Namanya juga pertama kali(dlm hidup ) sanggup main salju di tengah hujan rintik kecil… saya pribadi mangaap (buka mulut) ke atas, Ren tanya “ngapain? Niko2; “ makan salju!” R;” lapar ya?” N;bukan lapar, senang saja!!! R”Apa rasanya? N; “ Coba saja sendiri” R”oh ,ok! Yeay!” kita mangap2 ibarat ikan maskoki wkwkwk (^O^). Selain itu, kita menciptakan mini snowman yg genduuut dan snowkid imut, dll, dll.
Dimarahi Suami ^^; Tapi Kenangan Pertama yang Enaaak
Waktu saya dongeng ke suami, saya dimarahi… “anak orang diajari makan salju ketika hujan salju, jikalau dia sakit bagaimana, jikalau dilihat tetangga gimana?”Lho? Banyak yang ngeliatin kita berdua, mereka ikutan ketawa2 tuh!!wkwkwk… Saya gres sadar, mungkin saya masih ibarat anak kecil juga mmhh jadi kuatir, memang semua sudah terjadi, aduh supaya R tidak sakit mmhh (_ _); tetapi untung R tidak sakit!! Ok. Lain kali saya harus hati-hati supaya sahabat kecil saya selalu kondusif dan bahagiaaaa (^O^)
初雪の思い出は美味しかったです。
Kenangan wacana salju pertama yakni “Enaaaaak!!!”
Pelajaran yg sanggup diambil “Think Twice!! Before doing something”. Pikir dua kali sebelum melaksanakan sesuatu!
Bunga Sakura dan Hanami
Sesudah trend dingin yang panjang, trend semi datang, udara mulai menghangat dan bunga2 mulai berkembang dengan cantik, tetapi yang paling cantik, indah & heboh (untuk saya) yakni “Bunga Sakura” ❤❤❤. Satu pohon penuh bunga2 kecil berwarna pink muda… satu pohon saja sudah cantik, apalagi biasanya aneka macam pohon sakura, hati ini serasa menjadi lebih ringan dan senang dengan melihat keindahan sakura. Sayangnya bunga Sakura biasanya hanya bertahan selama 2 minggu, kemudian dia gugur digantikan oleh daun2 pohon Sakura. Acara menikmati keindahan bunga sakura ini disebut Hanami. (hana花=bunga, mi 見=lihat)
花見(hana-mi) & “花マン見(hana-man-mi)*
*hana-man-mi → istilah buatan saya, man=org => melihat orang2 berhanami
Selain lihat bunganya, lihat juga orang2 nya wkwkw, seru sekali melihat orang2 bersuka-ria dibawah pohon Sakura, di siang hari (keluarga, mahasiswa, ibu2&anak dll) dan di malam hari (salaryman/OL=Office Lady, orang2 kantor, dll) di siang hari banyak yg piknik sambil main2, tidur2an, pacaran, dll di malam hari banyak yg nyanyi, makan, minum bir, dll, dll. Di sekitar taman besar yang penuh pohon sakura biasanya ada stand2 yg menjual makanan yakisoba, takoyaki, karaage, nomimono (minuman), watagashi, dll, Orang2 (Jepang) secara otomatis antri! antri beli takoyaki, antri beli minuman, bahkan antri ke toilet. Mmmhhh saya yang gres tiba dari Indonesia kadang ndesonya kelihatan, 1. salah antri 2. sudah antri eeeh lupa bawa dompet, 3. mau nyerobot eeeh tertangkap berair yang jual. (tidak dimarahi, cukup dilirik dan diplototi!! Yg menciptakan jantung rasanya hampir copot)
Ikut Acara Hanami dengan Orang2 Kantor Suami
Teman2 kantor suami belum pernah bertemu dengan saya (pengantin gres plus orang asing, otomatis banyak yg ingin tahu/bertemu saya) Kaprikornus mereka mengundang saya untuk ikut berhanami. Saya senang, tetapi grogi juga. Ah tidak apa mereka sangat baik (kata suami) Ok, saya harus cantik, rapih, elegant, chic, tidak pakai minyak telon tapi parfum(^O^), mandi 7 sabun dll, dll (dalam hati). Kata suami (yg herannya sanggup baca hati saya) iya mau dandan 24 jam boleh, pokoknya sempurna waktu ya, kita janjian di stasiun. Ok jangan kuatir, saya on time, saya juga berguru あいさつaisatsu ringan dalam Bahasa Jepang! OK persiapan matang hahaha! Saya niscaya kelihatan dewasa!! Istri yang cantik, berakal dsb, dst. (hayalan (^^♪)Akhirnya kita bertemu, teman2 kantor dan para boss. Suasana pribadi ramai dan hangat alasannya yakni mereka pribadi bagi2 minuman dan “kanpaiii” Sambil minum2 kita makan2 diatas tikar biru yang besaaar, saya tidak sanggup problem alasannya yakni hampir semua orang sanggup Bahasa Inggris dan ada translator tercinta(suami) disebelah saya. Acara hanami sangat berkesan untuk saya, dan saya pribadi jatuh cinta dengan Hanami ini. (sampai sekarang)
Psst:
Tetapi hayalan saya (di atas) pribadi kandas di 5 menit pertama!!! (- -) !!! pada ketika boss suami bilang “ Kita pernah bicara di telepon (dia tersenyum lebar) saya yang pernah ajarin cara masak kare Jepang lewat telepon, waktu itu kau panik ya?” AAAAWW OMG jadi orang yg sangat baik yang suka beri saya advise masak itu boss suami saya!!! Aduuuuuh mau taro dimana muka saya yah… apanya yang dewasa, elegant, chic dll,dll mungkin titel yg sempurna yakni “pengantin gres yang suka panik waktu masak & tekan tombol SOS ke suami”.
Contoh percakapan pengantin gres ❤…(^o^)… ❤
Niko2: Besok ingin makan apa?
S(uami): Kamu sanggup masak apa?
N: (dalam hati? masak air, masak super mie, goreng telor)
Saya bawa buku masakan.
S: Kare Jepang! (sesudah pilih2 dr buku)
Besoknya sore2 S masih di kantor kerja.
N: Maaf, SOS !!, bumbu kare tidak ketemu di supermarket.
S: tunggu sebentar….
B(oss suami): kenapa? aduh kasian, saya bantu ya… bilang saja “Kare ruu sagasu”, pilih merek SB.”
Terdengar bunyi tawa S dan B… saya pikir B itu bawahan suami (yg baik) ternyata boss yg rendah hati.
Pelajaran berkesan yang saya sanggup dari Hanami pertama yakni budaya antri dan rendah hati, atau jangan lupa berguru masak sebelum ke Jepang!!
おしまい。❤
Q&Aタイムです! OK, kini waktunya tanya jawab
Pengalaman saya diatas itu sudah puluhan tahun yang lalu, tetapi budaya disiplin antri dan rendah hati ini tetap berlangsung hingga kini di Jepang(saya sebut budaya alasannya yakni dari anak kecil hingga nenek melakukannya tanpa diperintah) ♪♪ Bagaimana dengan adik2 ? angan2 belum pernah antri wkwkwk Belum usang ini ada video antri dari Madura tetapi bukan orang2 yg antri malah sandal jepit !!
1. Pengalaman antri apa dan bagaimana yg pernah adik2 lakukan di tempat masing2?
2. Seandainya (imajinasi saja ya) adik2 sedang di Jepang & ingin buang air kecil (ehem ehem ) tetapi ternyata di depan toilet antrian panjang!!Dalam situasi ini apa yang dilakukan?
Terima kasih.
Contributor: Guru Niko-Niko*
*Beliau yakni seorang Indonesia yang sudah usang tinggal di Jepang, dan ngajar bahasa Indonesia di sebuah Universitas di Jepang. Oleh alasannya yakni tidak bermaksud “tebar pesona”, dia tampil di sini dengan nama pena, yaitu ニコニコ先生 (Guru Niko2).
Kehidupan saya mulai di isi dengan orang-orang dari Negeri matahari terbit di mulai semenjak tahun 2012 ketika saya tetapkan untuk pergi ke jepang sebagai peserta magang dan berlanjut hingga detik ini, ya saya menyukai mereka. Kesan pertama yang saya dapatkan ketika pertama kali menginjakan kaki di jepang yaitu kedisiplinan mereka yang terlihat dari kemudian lintas kendaraan di jalanan yang terlihat menyerupai di kendarai oleh robot, sungguh menciptakan saya harus memastikan beberapa kali apakah mobil-mobil tersebut di kendarai oleh insan atau bukan. Jalanan di Indonesia yang biasa saya lihat acak-acakan alasannya yaitu pergerakan aneka macam jenis kendaraan yang saling mendahului, berhenti sembarangan dan kecepatan mengemudi kendaraan yang tidak beraturan berbanding terbalik dengan kondisi di sana yang sangat teratur dengan kecepatan mengemudi yang sama dan tidak ada yang mendahului sehingga sanggup berhenti serentak ketika lampu merah.
Kesan kedua yaitu pekerja keras, di tempat saya bekerja sebagai peserta magang, semua orang bekerja dengan semangat dan cepat, tidak ada perbedaan antara perempuan maupun pria semuanya sanggup mengerjakan pekerjaan yang sama dan kecepatan serta sasaran yang sama. Saya berusaha keras semoga sanggup menyesuaikan diri di lingkungan kerja di sana.
Kaka orang jepang
Foto masakan ringan manis yang di posting di twitter
Setelah lebih dari setahun bekerja, saya mulai bisa mengikuti keadaan dengan lingkungan kerja dan melaksanakan dialog ringan dengan orang jepang yang bekerja di sekitar saya. Kebanyakan dari mereka yaitu perempuan cerdik balig cukup akal dan lansia, jarang sekali yang seumuran dengan saya yang gres lulus SMA. Hingga pada suatu hari saya menyadari ada seorang cewe yang usianya mungkin hanya beda beberapa tahun dengan saya di line kerja yang berbeda dengan saya.
Dia benar-benar penampakan dari seorang cewe jepang yang cool, dengan style nya yang agak tomboy alasannya yaitu berambut pendek dan mengendarai vespa ketika berangkat kerja. Dia sangat dingin sehingga seakan-akan tidak menyadari kehadiran seseorang di dekatnya, saya fikir dia akan menabrak saya jikalau saya bangun di depannya ketika dia berjalan atau hanya menghindar seolah saya yaitu tembok. Tapi dengan sikapnya yang menyerupai itu saya malah sangat tertarik untuk sanggup berteman dengannya.
Selanjutnya hari-hari saya di sibukan dengan berangkat kerja di pagi hari menyamakan jam berangkat si kaka alasannya yaitu hanya ingin bertemu dia di tempat parkir (saya membawa sepeda) dan menyapa nya di pagi hari dengan sapaan “Ohayou gozaimasu” balasan “Ohayou” dari si kaka sudah cukup untuk menciptakan saya bersemangat untuk berteman dengannya. Biasanya sesudah itu kita akan bertemu lagi di toilet ketika dia mencuci tangan dan hanya menyerupai itu hari-hari selanjutnya.
Berteman dengan dia yaitu salah satu sasaran yang harus saya capai hingga saya pulang ke indonesia dalam 3 tahun. Sehingga saya terus berusaha tidak frustasi untuk menyapa dan membagikan masakan kecil, coklat, kue-kue yang saya buat sendiri dan alhasil saya memberanikan diri untuk menanyakan alamat line nya dannnnn alhasil dia memperlihatkan alamat line nya kepada saya.
Hari-hari selanjutnya hampir setiap pulang kerja saya mengirim chat hanya untuk mengobrol ringan dengan nya, dia menceritakan kegiatannya, apa yang dia lakukan di simpulan pekan hingga pembicaraan mengenai harapan yang ingin dia lakukan. Saya sangat bahagia dengan pertemanan singkat kami alasannya yaitu di tahun ketiga saya harus pulang ke indonesia, di tahun terakhir sebelum saya pulang saya menyempatkan diri memperlihatkan kejutan pesanan masakan ringan manis ulang tahun yang bisa dia ambil sendiri di toko masakan ringan manis kesukaan dia, di hari ulang tahunnya ketika saya sudah kembali ke indonesia dia memposting masakan ringan manis yang saya pesan di twitter dengan caption “Oishii, Arigatou” Enak, Terima kasih. Simple, menyerupai pertemanan kami. 🙂
BAP di kantor polisi di jepang
Foto saya dengan icon polisi di daerah saya tinggal
Salah satu pengalaman asing saya di jepang yaitu pernah melaksanakan BAP di kantor polisi di jepang, jadi ketika saya di sana selain bekerja sebagai peserta magang juga mencar ilmu bahasa jepang dengan guru volunteer bahasa jepang di malam minggu, mencar ilmu dari sekitar pukul 8 malam hingga 10 malam. Ketika itu, saya pulang kerumah dari tempat mencar ilmu dengan mengendarai sepeda seorang diri alasannya yaitu teman-teman saya yang lain makan malam bersama di sebuah restaurant. Saya yang memang lebih suka di rumah tetapkan untuk segera pulang, di jalanan yang sepi yang memang biasa saya lalui saya melihat lampu sepeda dari arah yang berlawanan, saya fikir itu orang indonesia alasannya yaitu di daerah saya tinggal banyak orang indonesia yang semuanya naik sepeda “wah kalau mas-mas orang jawa yang saya kenal saya bisa minta antar pulang ke rumah senior saya” dalam hati saya berkata alasannya yaitu saya biasanya menginap di rumah senior saya ketika weekend. Tapi dugaan saya salah alasannya yaitu sesudah berpapasan ternyata bukan orang indonesia. Saya melanjutkan perjalanan pulang dengan biasa saja, namun orang yang berpapasan dengan saya barusan sekarang sejajar dengan saya. Dia memulai pembicaraan dengan bertanya (saya arti kan percakapannya dengan mudah)
Dia: chotto kikitain desu..(bolehkah saya bertanya). Saya: nan desuka? (Iya, ada apakah?) Dia: kawairashii kara,, kekkon shite ! (Anda manis, menikahlah denganku) Dengan mimik muka kurang sopan. Saya: ee !!! Naniii,, kowaiiii (hah apa!!! Takuuuutt) dan eksklusif kabur. Dia: chotto matte .. Chotto matte (Terdengar teriakan dari arah belakang)
Pada waktu itu, jujur saya kaget dan takut melihat muka lelaki itu, alasannya yaitu takut dia mengejar saya putuskan berbelok ke toko orang brazil yang masih buka. Dengan tergesa-gesa dan masih takut, saya berniat meminjam hp pemilik toko untuk menelpon ke orang rumah(teman saya yang dirumah) untuk menjemput saya. Melihat saya ketakutan ibu pemilik toko bertanya kenapa? Saya hanya menjawab di sana ada lelaki ajaib dan saya takut. Dia memberitahu segerombolan orang-orang brazil yang ada di situ dan mereka meminta saya memperlihatkan tempatnya, saya menyampaikan bahwa saya tidak apa2, si ibu malah bilang ayo tunjukkan, nanti bukan kau saja yg di ganggu. Dengan terpaksa saya, seorang ibu2 juga 3 orang lelaki brazil menaiki kendaraan beroda empat mencari lelaki ajaib tadi, singkat dongeng kami menemukan lelaki ajaib itu, kendaraan beroda empat eksklusif di parkir dan ketika lelaki brazil keluar kendaraan beroda empat lelaki ajaib itu biasa saja, tetapi sesudah melihat saya keluar kendaraan beroda empat dia eksklusif memutar balik sepeda dengan mengangkatnya dan 3 lelaki brazil tadi eksklusif mendekap lelaki itu. Ibu2 tadi eksklusif menghakimi lelaki itu, dengan bahasa jepang yg lancar, apa yg kau lakukan, beraninya menganggu orang luar negeri di sini, kau gak punya ibu atau adik perempuan dll ternyata dia lelaki jepang. Ibu tadi malah berinisiatif menelpon polisi, saya hanya bisa menuruti si ibu. Selang beberapa menit 4-5 buah kendaraan beroda empat polisi tiba, saya di tanyai KTP, kronologi kejadian, olah TKP ke tempat kejadian, dll saya juga di suruh jujur apakah ada yg di sentuh atau tidak, saya jawab tidak. Akhirnya tanpa bisa menolak saya di bawa ke kantor polisi (kaya mimpi), saya di bawa ke ruangan yg hanya ada saya dan seorang bapak polisi (seperti yang biasa saya lihat di film2) di interogasi, dipindahkan ke ruangan lain dan di tanyai oleh bapak polisi yg berbeda dengan pertanyaan yang sama. Bapak polisi yg terakhir menulis laporan insiden dengan menanyai saya, pertanyaan yg paling engga banget berdasarkan saya, apakah di indonesia belum pernah ada lelaki yg berkata menyerupai itu? (Menikahlah denganku) kesannya tuh kaya saya gak pernah punya seseorang yg special hingga berkata menyerupai itu kepada saya .__.# tapi maksud si bapak mungkin apakah kata2 menyerupai itu tidak lazim di katakan di negara anda? Jelas tidak, masa iya orang gres ketemu ngajak nikah kan. saya sudah menahan kantuk dan rasa ingin pipis dari tadi, si bapak masih menulis laporan panjang, saya di tawari minum kopi oleh bapak polisi dengan senyum manis dari luar ruangan, saya bilang tidak apa2 (tidak usah maksud saya) dan terimakasih saja alasannya yaitu bahwasanya saya tidak minum kopi, si bapak malah bilang tidak usah malu2 alasannya yaitu ini kantor polisi (terus apa hubungannya? Dalam hati .. maksudnya di kantor polisi tidak usah aib gitu yah). sudah setengah 1 malam si bapak belum selesai juga menulis tangan laporannya, saya izin ke toilet dan sepulang dari toilet si bapak polisi membawakan saya banana ore (susu rasa pisang) tahu saja saya sukanya minum susu (dalam hati). Saya minum alasannya yaitu si bapak maksa harus di minum katanya :v
Pukul 1:30 malam laporan gres selesai, terakhir si bapak berpesan semoga saya hati2 dan lapor lagi kalau terjadi sesuatu, alasannya yaitu kami ingin orang luar negeri juga bisa tinggal dengan hening di jepang dan katanya lelaki jepang itu sudah 2x di tangkap dengan perkara yg sama. Sepeda yg dia bawa juga curian. Saya kaget dan bertanya apakah lelaki itu tinggal di daerah sini? Si bapak menjawab tidak perlu khawatir.
Terakhir saya di beri kartu nama si bapak, alarm pengaman (yg biasa di gantung di tas anak SD di sini) senter, juga pulpen dan pensil bergambar polisi (lumayan :3 buat kenang2an).
Saya di antar hingga depan pintu rumah, di jalan pak polisi bertanya, gres pertama ya ke kantor polisi? saya jawab iya pak, takut sama polisi? Tidak, saya tahu polisi jepang baik2. Arigatou kata si bapak dengan PD nya, aisshhhh 😐 . Pesan terakhir si bapak lain kali main lagi ke kantor polisi ya ! Hehe 😀 saya hanya tertawa. (memangnya kantor polisi salah satu tempat main yah)
Kesan saya.. Memang polisi jepang mukanya baik2, terus pelayanannya, super sekali ! Kasus menyerupai itu di tangani dengan sangat serius, mungkin kebanyakan orang berfikir itu hal sepele. Pagi harinya ketika saya menceritakan insiden tersebut kepada guru pembimbing saya, dia kaget katanya anak pendiam (kelihatannya) menyerupai saya bisa membela diri dan melaksanakan BAP sendiri di kantor polisi. Ya begitulah, mau bagaimana lagi.
Si Leader seram
Di tempat kerja saya ada beberapa leader orang jepang dari beberapa departemen bagian, ada salah satu leader yang “cowok banget” alasannya yaitu badannya telihat kotak-kotak alasannya yaitu sering fitnes mungkin dan aksesoris cincin, gelang serta kalung besar di lehernya, oh ya dia juga bertato. Seram alasannya yaitu imbas macho nya sungguh menguar. Aksesoris yang paling menarik yaitu gelang silver di tangannya, semenjak melihatnya saya sering bercanda ke sobat saya bahwa saya pengen gelangnya, dia sering menjawab “minta aja!” atau dengan berbisik “om, dia pengen gelangnya nih” tanpa terdengar si empunya , becandaan tersebut alhasil tersebar ke seluruh penghuni rumah bahwa saya ingin gelang si om. Konyol sekali bukan.
Singkat dongeng beberapa hari sebelum pulang ke indonesia, perusahaan mengadakan makan malam bersama dengan kami 8 orang dan semua leader serta petinggi administrasi lainnya. Suasana makan malam yang sangat sangat canggung, saya hanya menikmati masakan tanpa banyak bicara, ada sobat kami yang menjadi leader tim kami yang melayani dialog dengan pihak administrasi juga beberapa sobat lain yang aktif (kalau saya pasif).
Ketika saya sedang asik berebut masakan dengan sobat saya tiba-tiba salah satu sobat saya berkata.
“ya kan niy (memanggil saya) kau sudah usang pengen gelang nya?”
(saya menengok dan melihat leader tsb sudah sedang melepas gelangnya) haa saya kaget sekali, mengapa teman-teman saya se nekat itu di program makan malam kaku ini.
“haaahh boong,, “ saya reflek jawab begitu alasannya yaitu perasaan tidak enak.
“nih ambil aja buat kamu” kata si leader dengan ringan sekali.
Ya Allah tolong saya harus apa.. malu.. tidak enak.. takut alasannya yaitu dia angker (perasaan campur aduk) nolak tidak sopan,, nerima tidak enak
Akhirnyaaaa saya hanya bisa bilang “arigatou gozaimashita”.
Pengalaman konyol yang berbuah manis alasannya yaitu saya alhasil mendapatkan gelang silver yang saya mau berkat kekonyolan teman-teman saya.
Berawal dari seorang penerjemah amatiran
Sepulang dari jepang saya tetapkan untuk mencari kerja dengan mengirimkan beberapa lamaran ke beberapa perusahaan, salah satu lamaran saya kirimkan dengan tujuan eksklusif kepada branch manager sebuah perusahaan (ternyata perusahaan recruitment) dan saya di panggil untuk interview. Isi lamaran saya sederhana, saya menuliskan bahwa pernah tinggal di jepang selama 3 tahun dan menjelaskan kemampuan bahasa jepang yang (tidak seberapa) yang saya miliki juga ketertarikan untuk bekerja dengan orang jepang.
Pada ketika di panggil, dia memuji isi lamaran saya cantik (karena kata penutupnya saya ambil dari beberapa sumber). Beliau juga bertanya kenapa saya menujukan surat lamarannya eksklusif atas nama dia? Saya jawab alasannya yaitu saya lihat di web perusahaannya. Terakhir dia juga bertanya saya mau bekerja di perusahaan dia atau di carikan kerja alasannya yaitu ini perusahaan recruitment. Akhirnya saya minta di carikan kerja saja.
Saya memulai karir (entah bisa di sebut karir atau bukan alasannya yaitu gres semenjak 2015) saya sebagai penerjemah dari start awal saya di interview dengan hanya menyebutkan, saya tidak mempunyai pengalaman sebagai penerjemah namun saya suka bekerja bersama dengan orang jepang, juga dengan start penawaran honor terserah perusahaan.
Akhirnya saya di terima di perusahaan saya yang pertama, saya mencar ilmu melaksanakan pekerjaan penerjemah dengan banyak belajar, kata-kata gres juga penerjemahan yang baik semoga tersampaikan, menguasai keadaaan yang bermacam-macam (meeting, darurat, santai, dll). Pada suatu ketika, ada kondisi di mana seorang driver melapor bahwa mobilnya menabrak seekor kambing di jalan dan kambingnya harus di bayar segera. Dengan kondisi yang tergesa-gesa tiba-tiba kosa kata kambing menghilang dari ingatan saya, alasannya yaitu saya harus segera memberikan terjemahan semoga si orang jepang mengerti saya melapor dengan menerjemahkan kambing dengan “mbeee mbeeee mbeee” menirukan bunyi kambing. Sial nya bunyi binatang dalam bahasa jepang dan indonesia berbeda… saya terus menjiplak bunyi kambing hingga menciptakan si orang jepang galau sambil terus berusaha mengingat kata kambing, sesudah saya berhasil merefresh otak saya alhasil “Yagi” teriak saya dalam bahasa jepang dan dia mengerti. Ya Allah kuatkanlah memori otak saya semoga tidak terjadi menyerupai ini lagi.
Di perusahaan kedua tempat saya bekerja, ketika itu saya gres masuk belum seminggu mencar ilmu memahami kondisi perusahaan dengan sedikit-sedikit mengenal produk yang di buat dan proses pembuatannya, alasannya yaitu produk yang di produksi berbeda dengan perusahaan sebelumnya maka saya harus mencar ilmu dari nol. Dalam masa kurang dari seminggu, ketika itu hari kamis, tiba- tiba saya di seret di masukan kesebuah ruang meeting berisi sekitar 30 orang jepang dan indonesia dengan presiden administrator yang telah bangun dan berbicara entah semenjak kapan. Saya di beri instruksi untuk menterjemahkan apa yang dia ucapkan. Wajah saya otomatis pucat alasannya yaitu tidak tahu harus berbicara apa (waktu pembiasaan yang kurang dari seminggu, saya belum tahu apa-apa ihwal perusahaan dan belum lagi membiasakan diri mencerna logat bicara orang jepang yang bebeda-beda dan penggunaan kata yang tidak selalu baku) ya Allah kalau saya bisa keluar atau gali lubang mungkin sudah saya lakukan. Si presdir berhenti bicara yang artinya saya harus menerjemahkan penuturan beliau, saya harus berfikir sehat dan sadar,, alhasil saya terjemhkan pembicaraan dia sesuai yang saya tangkap pada dasarnya meminta maaf alasannya yaitu keterlambatan kedatangan material produksi.
Tidak berhenti di situ, tiba-tiba layar laporan PPT di tampilkan dengan full kanji (karakter jepang), Ya Tuhan cobaan apalagi ini. Otak saya benar-benar blank (karena harusnya bahan terjemahan di terjemhkan dulu di awal dengan dukungan kamus untuk huruf yang tidak terbaca) namun jangan kan begitu, saya malah tidak diperlihatkan materinya paling tidak sebelum meeting. Si orang jepang memperlihatkan instruksi lagi semoga saya menerjemahkan, saya tetap berusaha menjelaskan apa yang saya pahami dari bahan tsb juga penuturan pak presdir. Sungguh pengalaman yang menciptakan saya shock.
Diperusahaan ketiga, sesudah interview di sebuah kafe tempat minum kopi, si jepang mendapatkan saya bekerja dan sorenya saya eksklusif di undang makan malam bersama di sebuah restaurant korea. Sungguh ajaib sekali, saya bahkan belum mulai bekerja namun sudah mendapatkan permintaan makan malam. Saya mengendarai motor matic saya ke restaurant tersebut dan di sambut di pintu masuk restaurant. Ketika masuk ada 2 orang jepang yang menginterview saya tadi siang seorang kakek dan lelaki cerdik balig cukup akal juga satu orang china yang lebih muda dan sangat fasih berbicara bahasa jepang, kami makan dengan di awali celotehan si lelaki cerdik balig cukup akal yang meyebutkan saya keren alasannya yaitu mengendarai motor matic. Si kakek bercerita dia mendapatkan saya bekerja alasannya yaitu saya terlihat memperhatikan ketika dia menjelaskan sesuatu pada saay interview, dia juga bilang bahwa saya sobat ngobrol yang enak.(dalam hati, yakali lagi interview terus saya cuekin kan)
Si jepang cerdik balig cukup akal dengan jujur menyampaikan dia mendapatkan saya alasannya yaitu saya kawai.(sejenis lucu atau imut kali ya) mungkin mata dia bermasalah. Obrolan kami berlanjut dengan terus melanjutkan makan, mereka makan dengan minum soju dan tampaknya telah mabuk, si cowo china baik sekali alasannya yaitu menenangkan saya semoga tidak usah takut (dia membaca ekspresi saya yang agak tidak nyaman).
Si jepang cerdik balig cukup akal menanyakan apa yang saya cari dalam hidup? Uang yang banyak bukan?
Saya jawab tidak juga, saya hanya mencari uang sesuai dengan kebutuhan saya (karena saya kuliah sambil bekerja), dia tertawa (whatt ada yang lucu dengan balasan saya?) saya menerangkan muka (Whattt?) dia bilang “kamu bohongkan, apalagi yang insan cari selain uang dalam hidupnya?” saya jawab “mungkin tidak semua orang menyerupai itu alasannya yaitu saya fikir uang tidak bisa di bawa mati jadi saya mencari uang sesuai dengan kebutuhan saya di dunia.” Dia semakin tertawa dan bilang bahwa balasan saya menyerupai buku teks pelajaran. Ya Ampunn .. oarang macam apa ini.. dialog selanjutnya apapun yang keluar dari lisan saya dia bilang dari buku teks lagi kan. Mungkin dia mabuk 😀
Mungkin saya bukan orang cerdik balig cukup akal di mata mereka
Saya sekarang bekerja di perusahaan pembuat knalpot sepeda motor yang familiar di indera pendengaran masyarakat indonesia, orang jepangnya ada 7 orang dengan pekerjaan yang sama saya berinteraksi dengan mereka. Sifat dan perilaku orang jepangnya berbeda-beda, ada yang bicaranya pelan, keras, tidak jelas, kalem, gondrong, dll bahwasanya alasan berpengaruh saya tetap bekerja sebagai penerjemah yaitu alasannya yaitu saya mempunyai ketertarikan tersendiri dengan huruf dan cara berfikir mereka yang telah saya teliti semenjak awal bekerja bersama, mereka unik dalam beberapa hal menarik untuk di ketahui dan kadang tak terbaca. (karena orang jepang sebagian banyak yaitu tipe tersirat yang tidak memberikan sesuatu secara terbuka apa adanya, melainkan memikirkan perasaan si peserta informasi).
Usia saya ketika ini 25 tahun lebih, namun setiap orang jepang yang pertama ketemu saya selalu bilang saya menyerupai anak Sekolah Menengan Atas malah kadang SMP. (saya pernah di tegur tamu seorang presdir ketika selesai menerjemahkan meeting, dia menegur presdir saya di depan saya eksklusif “dia bekerja sebagai penerjemah?” “iya” jawab presdir saya. “saya fikir anak SMA” jawabnya).
Pada suatu hari si A berkata (S= saya)
A : yang paling baik dan kau suka di sini siapa? Di antara semua orang jepang? S : biasa aja semuanya. A : kalau si B gimana? (si B itu jepang paling ribet alasannya yaitu suka minta ini itu) S : biasa aja. Sambil tetap berusaha terlihat biasa saja A : (berbicara dengan jepang yang lainnya) mungkin nomer dua yang dia benci itu saya alasannya yaitu saya selalu dingin sama dia (nunjuk saya). S : dihh engga ah biasa aja (PD amat sih loo dalam hati)
Saya pergi dan mereka tertawa melihat ekspresi saya (entah apa yang salah)