Wednesday, September 13, 2017

√ Makalah Pemanasan Global

     MAKALAH
PEMANASAN GLOBAL
PENGARUH INDUSTRIALISASI TERHADAP BUMI DAN DAMPAKNYA TERHADAP KESEHATAN MANUSIA
 






Disusun oleh :
 Kharisma Ayu H                    (15/ XI MIA 8)
Sukmaningrum L.O       (25/XI MIA 8)
Waidatin Nur A             (29/XI MIA 8)
Widya Kurniati N                    (30/XI MIA 8)
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
SMA NEGERI 1 SRAGEN

DAFTAR ISI
       I.            BAB I Pendahuluan
1.     Latar belakang .............................................................  3
2.     Rumusan masalah........................................................ 4
3.     Tujuan.......................................................................... 4
4.     Manfaat penulisan .......................................................  4

    II.            BAB II Permasalahan
1.     Industri pemanasan global ...........................................  6
2.     Mekanisme Pemanasan Global ....................................  7               
3.     Dampak Pemanasan Global ........................................  7

 III.            BAB III Pemecahan Masalah
1.     Solusi Peminimalan ..................................................... 12

IV.            BAB IV Penutup
1.     Kesimpulan .................................................................  16
2.     Saran ...........................................................................  16
3.     Daftar pustaka ............................................................  17

   V.            Lampiran ..............................................................................  18



BAB I
PENDAHULUAN

1.     Latar Belakang
Di zaman yang serba modern ini, banyak dijumpai industri – industri yang bergerak dalam banyak sekali bidang. Industri tersebut bergerak dalam skala besar maupun kecil yang menampung banyak karyawan dengan latar belakang ekonomi yang berbeda. Mayoritas dari mereka mempunyai latar belakang ekonomi menengah ke bawah. Sehingga, dengan adanya industri tersebut sanggup menjadi penopang ekonomi bagi mereka yang membutuhkan.
Banyak negara maju dan negara berkembang yang menjadikan industri sebagai penyangga ekonomi terbesar bagi rakyatnya. Karena, industri mempunyai dampak yang sangat besar terhadap perekonomian dunia yang selalu mengalami siklus. Contohnya yakni Indonesia, yang menjadikan pula industri sebagai penopang ekonomi bagi rakyat yang menganggur dan miskin. Dengan adanya industri yang semakin besar, maka akan menyerap tenaga kerja yang banyak pula, sehingga pengangguran dan kemiskinan lambat laun akan berkurang, serta akan membuat negara, ibarat Indonesia menjadi negara industri dengan ikon rakyatnya makmur dan sejahtera tanpa pengangguran dan kemiskinan.
Selain menolong keadaaan, industri mempunyai bantuan yang besar dalam pemanasan global. Industri merupakan pemasok emisi gas rumah beling terbesar, selain kendaraan bermotor dan gas pembakaran lainnya (Industri menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global). Mengapa industri mempunyai bantuan besar dalam pemanasan global?
Seperti keadaan sekarang, kegiatan industri didominasi oleh pabrik – pabrik besar yang berproduksi setiap hari dengan sisa hasil pembakaran materi bakar fosil berupa gas  yang menimbulkan dampak besar terhadap perubahan iklim.
Menurut para peneliti, pembakaran materi bakar fosil pada industri telah melepas  dalam jumlah yang besar ke atmosfer. Akibatnya, emisi karbon yang dihasilkan tetap akan terus berdampak pada atmosfer bumi selama berabad – kurun ke depan. Tuduhan bahwa industri yakni penyumbang terbesar emisi gas rumah beling tidak terbantahkan lagi.
Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah kelompok peneliti yang konsen meneliti dan mengamati perihal banyak sekali hal yang berkaitan dengan perubahan iklim menyampaikan bahwa pemanasan global yang terus meningkat ini akan menimbulkan banyak sekali dampak negatif bagi kehidupan di muka bumi, terutama kelangsungan hidup manusia.
Sesuai dengan ilustrasi keadaan ibarat yang telah dipaparkan di atas, makalah ini diberi judul “Pengaruh Industrialisasi Terhadap Bumi dan Dampaknya Terhadap Kesehatan Manusia”.

2.     Rumusan Masalah
Rumusan problem dari penulisan makalah ini, sebagai berikut :
ü  Bagaimana dampak industrialisasi terhadap pemanasan global (perubahan iklim)?
ü  Bagaimana dampak adanya pemanasan global terhadap kesehatan manusia?
ü  Bagaimana solusi dalam meminimalkan pemanasan global?

3.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini, sebagai berikut :
ü  Untuk mengetahui dampak industri terhadap pemanasan global (perubahan iklim)
ü  Untuk mengetahui dampak pemanasan global terhadap kesehatan manusia
ü  Untuk mengetahui solusi dalam meminimalisir pemanasan global

4.     Manfaat Penulisan
Penulisan ini diharapkan sanggup bermanfaat secara teoritis maupun praktis.
a.       Manfaat teoritis
ü  Hasil penulisan ini diharapkan sanggup bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan pemanasan global.


b.      Manfaat praktis
ü  Hasil penulisan ini sanggup dijadikan pedoman maupun masukan dalam menangani informasi pemanasan global.
ü  Hasil penulisan ini sanggup dijadikan himbauan, masukan, dan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya menjaga bumi dan lingkungannya dari banyak sekali dampak yang ditimbulkan akhir adanya pemanasan global.




BAB II
PERMASALAHAN

Industri dan Pemanasan Global
Dewasa ini dunia sedang marak membicarakan informasi perubahan iklim yang terjadi di bumi.Perubahan iklim di dunia sejalan dengan pemanasan global yang terjadi akhir aktifitas insan di seluruh dunia.Aktifitas insan yang dimaksud yakni kegiatan industri yang merupakan salah satu penyebab utama pemanasan global. Mengapa? Karena kegiatan industri merupakan salah satu pemasok gas karbon dioksida sisa hasil pembakaran ke udara yang terbesar dan lambat laun akan merusak lapisan ozon yang merupakan selimut pelindung bumi dari paparan sinar UV.
Pemanasan global yakni kenaikan suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh peningkatan emisi karbon dioksida dan gas-gas lain yang dikenal sebagai gas rumah beling yang menyelimuti bumi dan memerangkap panas sehingga penyebabkan terjadi kenaikan suhu bumi dan menimbulkan banyak sekali macam dampak terhadap kelangsungan hidup makhluk hidup di bumi.
Pemanasan global merupakan salah satu krisis yang sedang dihadapi dunia.Fenomena dimana suhu bumi secara sedikit demi sedikit memanas hingga mencapai titik yang mengganggu keseimbangan global. Pemanasan global seiiring dengan perubahan iklim tentunya. Pemanasan global sanggup menjadikan kutub es di utara dan selatan mencair dan meningkatkan volume air laut. Hal ini bisa membanjiri garis pantai dunia dan menurunkan salinitas atau besarnya kadar garam lautan. Hal ini bisa mengganggu arus bahari yang mengatur suhu di seluruh dunia, yang menimbulkan perubahan drastis pada iklim setempat (perubahan iklim).
Adanya perubahan iklim terus menerus, akan membuat kelangsungan hidup insan di muka bumi menjadi terganggu.



Mekanisme Pemanasan Global oleh Gas Rumah Kaca.
Gas rumah beling  yang dihasilkan oleh sisa pembakaran industri akan memperlihatkan imbas ibarat rumah kaca, dimana di dalam ruangan beling lebih panas dibandingkan dengan luar ruangan, hal ini dikarenakan panas yang masuk keruangan secara radiasi terjebak oleh lapisan kaca.
1.      Mula-mula energy sinar matahari diradiasikan ke bumi, sinar matahari yang diradiasikan berupa sinar energy tinggi (UV), sinar tampak (VIS), energy rendah (IR). Radiasi sinar tersebut kemudian akan hingga kebumi dan sebagian akan dipantulkan (Sinar energy rendah), sebagian lagi akan diserap (Sinar energy tinggi dan sinar tampak).
2.      Bumi memilki lapisan pelindung yang dinamakan atmosfer, cuilan terpenting dari artmosfer guna melindungi dari radiasi UV yakni  (Ozone), sinar energi tinggi akan diubah menjadi sinar dengan panjang gelombang lebih panjang yaitu berupa Infra Red.
3.      Sinar matahari tampak dan infrared akan mencapai permukaan bumi, kemudian sebagian diserap, sebagian lagi dipantulkan, radiasi sinar IR lebih banyak dipantulkan dari pada sinar Vissible.
4.      Radiasi sinar IR yang dipantulkan akan kembali ke Atmosfer, akhir dari akumulasi CO2 dan gas rumah beling lainnya, radiasi sinar IR ini terjebak, lantaran lapisan gas rumah beling mempunyai sifat tidak sanggup ditembus oleh radiasi sinar gelombang panjang (IR).
5.      Akibatnya radiasi sinar IR akan terjebak di troposfer yang kemudian menimbulkan akumulasi energy panas, akumulasi energy panas inilah yang menimbulkan suhu permukaan bumi terus naik. Yang kemudian dinamakan Global Warming.

Dampak Pemanasan Global terhadap Kesehatan Manusia
Saat pemanasan global terjadi dan iklim di bumi menjadi lebih panas, para ilmuwan
memprediksi akan banyak orang meninggal lantaran gelombang panas ibarat yang terjadi
pada animo panas Eropa pada tahun 2003 yang lalu, dimana tercatat sekitar 35.000 orang
meninggal dunia. Selain itu, iklim yang panas ini membuat wabah penyakit yang biasa
ditemukan di tempat tropis semakin meluas dan kemungkinan sanggup berpindah tempat ke
tempat yang dulunya hirau taacuh dan subtropis ibarat Eropa dan Amerika.
Pemanasan global
dengan segala kompleksitas permasalahannya telah diuraikan dengan jelas.
Namun, secara spesifik akhir pemanasan global tersebut sanggup diidentifikasi dampak eksklusif terhadap kesehatan insan secara umum, yaitu :
1.      Sesuai teori Blum (1974), bahwa di antara keempat faktor yang mempengaruhi
derajat
/ status kesehatan individu maupun masyarakat, maka faktor lingkungan
memperlihatkan bantuan terbesar terhadap terjadinya penyakit pada manusia. Perubahan
cuaca dan iklim dunia akhir pemanasan global secara eksklusif sanggup mempengaruhi kondisi lingkungan tempat insan tinggal. Curah hujan yang tinggi bisa menstimulasi pertumbuhan vektor yang tak terkendali beberapa penyakit nanah menular seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria. Saat ini, 45% penduduk dunia tinggal di daerah yang rawan terhadap nyamuk pembawa penyakit malaria dan persentase ini akan semakin meningkat menjadi 60% jikalau suhu meningkat.
Berdasarkan data epidemiologis Depkes RI Tahun 2005, semua tempat di wilayah Indonesia ketika ini sudah termasuk tempat endemis DBD dan Incidence Rate paling tinggi berada di daerah perkotaan ibarat Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, dan kota besar lainnya di Indonesia.
Malaria ini menjadi endemik di 106 negara dan mengancam sebagian besar populasi
penduduk dunia, terutama di negara berkembang ibarat Asia dan Afrika.
Hal yang
paling mengkhawatirkan dari malaria ini lantaran benalu ini sudah resisten (tidak mempan
lagi) disembuhkan dengan banyak sekali macam obat dan sangat sulit dikendalikan penyebarannya. Di Indonesia, penyakit malaria ini sering mewabah di Sumatera dan Papua yang menjadi sangat rawan terhadap endemic malaria. Saat suhu rata-rata di Sumatera dan Papua naik di antara , suhu tersebut merupakan suhu ideal bagi perkembangan vektor malaria, dalam hal ini nyamuk Anopheles betina.
Wabah demam berdarah juga akan melanda di seluruh dunia ketika iklim menjadi lebih
hangat, terutama di Amerika dan di wilayah subtropis lainnya. Saat curah hujan mulai
meningkat dan semua tempat di seluruh belahan bumi ini menjadi lebih hangat,
penyebaran penyakit demam berdarah akan semakin meluas. Menurut
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, 3.5 milyar orang pada tahun
2085 berisiko terkena demam berdarah yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedesaegepty. Di Indonesia penyakit ini terbukti telah memakan korban yang tidak kenal usia yang kerap terjadi setiap tahun ketika animo hujan tiba.
2.      Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatnya risiko terjadinya ajal akibat stress panas (heatstroke) pada manusia, ibarat yang sanggup kita saksikan ketika musim haji di Saudi Arabia yang kebetulan bersamaan dengan terjadinya musim panas dan wilayah benua Afrika.
3.      Meningkatnya suhu bumi akan semakin meningkatkan insidensi penyakit-penyakit alergi (hipersensitivitas) lantaran udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, sporamold, dan serbuk sari tanaman. Padahal penyakit alergi merupakan penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan sehingga sanggup meningkatkan biaya kesehatan dan perawatan kesehatan masyarakat akhir penyakit tersebut.
4.      Meningkatnya insidensi penyakit penyakit tropikal khas lainnya ibarat demam kuning (yellow fever), encephalitis, dan meningitis. Penyakit-penyakit tersebut sangat rawan terjadi pada usia belum dewasa sehingga secara eksklusif pemanasan global merupakan ancaman konkret bagi kesehatan belum dewasa usia balita.
5.      Selain penyakit penyakit yang telah disebutkan di atas, banyak ilmuwan memprediksikan akan muncul banyak sekali penyakit gres yang tidak diketahui sebelumnya dan belum ada obatnya ibarat SARS, aviant influenza (flu burung), aviant malaria, banyak sekali macam flu yang mematikan, atau bahkan Ebola.
Jika banyak sekali wabah penyakit ini muncul secara mendadak ibarat yang terjadi pada tahun 1918 saat influenza muncul di dunia, sekitar 40 juta orang meninggal. Dengan demikian sebagian populasi penduduk dunia terancam punah, apalagi di era globalisasi ini dimana orang bisa berpindah / migrasi dari satu negara ke negara lainnya tanpa mengenal ruang dan waktu, maka penyebaran
banyak sekali wabah penyakit akan semakin sulit untuk dikendalikan.
Selain paparan di atas, National Institutes of Health (NIH) telah mempelajari dampak iklim global terhadap kesehatan insan dalam sebuah perspektif kesehatan insan perihal perubahan iklim. Dalam perspektif tersebut NIH menguraikan kategori konsekuensi dari perubahan iklim bagi kesehatan manusia.
Beberapa penyakit yang ditimbulkan dari imbas pemanasan global ini yakni asma dan penyakit pernapasan, kanker, penyakit kardiovaskular dan stroke, penyakit bawaan masakan dan gizi, imbas perkembangan manusia, kesehatan mental dan gangguan yang berafiliasi dengan stres, penyakit saraf, vectorborne dan penyakit zoonosis (infeksi yang ditularkan antara binatang vertebrata dan insan atau sebaliknya), penyakit yang ditularkan melalui air, dan morbiditas terkait cuaca.
Penyakit – penyakit tersebut kini rawan menjadi penyebab ajal umat insan di muka bumi selain ajal akhir tragedi alam.
Dari sumber yang berbeda yaitu myhealthnewsdaily yang dikutip dari http://sains.kompas.com/ disebutkan bahwa imbas dari pemanasan global salah satunya yakni perubahan iklim. Ternyata, perubahan iklim selain berdampak jelek pada lingkungan, juga berdampak jelek bagi kesehatan. Berikut sejumlah dampak jelek perubahan iklim terhadap kesehatan :
1.      Buruk untuk jantung
Pemanasan global membuat suhu udara bertambah panas, sehingga sanggup menimbulkan penambahan polusi. Kenaikan tingkat polusi ini yang berefek jelek pada jantung. Selain itu, penelitian juga menerangkan suhu yang lebih tinggi dan kerusakan ozon sanggup membuat kesehatan jantung memburuk. Hal ini dikaitkan suhu udara yang tinggi dengan penurunan denyut jantung. Denyut jantung yang rendah sanggup meningkatkan resiko serangan jantung. Para peneliti juga menyampaikan suhu yang lebih tinggi sanggup membuat badan lebih sensitif terhadap racun.
2.      Lebih gampang terkena alergi
Studi memperlihatkan alergi meningkat di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, yang kemudian dikaitkan dengan meningkatnya kadar karbon dioksida dan suhu yang lebih panas. Alergi yang dimaksudkan sanggup merupakan reaksi terhadap serbuk bunga (pollen) yang diproduksi lebih banyak lantaran suhu yang bertambah panas. Namun sebuah studi juga menyampaikan sensitivitas terhadap serbuk bunga juga meningkat. Perubahan iklim juga menambah panjang animo berbunga sehingga berakibat lebih jelek terhadap alergi.


3.      Peristiwa alam ekstrim
Pemanasan global sanggup meningkatkan terjadinya insiden alam ekstrim, ibarat banjir dan angin puting-beliung besar, tsunami sehingga memperbanyak angka kematian. Selain itu dengan semakin meningkatnya insiden alam ektrim, maka semakin banyak masyarakat yang kehilangan tempat tinggal. Hal ini membuat daya tahan badan biasanya melemah dan gampang terkena penyakit.
4.      Kekeringan
Perubahan iklim membuat animo kemarau lebih panas dan kering sehingga kekeringan lebih banyak terjadi. Padahal air salah satu unsur yang penting untuk menunjang kesehatan. Dengan berkurangnya air, maka terjadi gangguan kesehatan. Air juga berkhasiat untuk pertanian yang menghasilkan pangan. Karena kekeringan, pangan sulit diproduksi dan menimbulkan kesehatan terganggu.
5.      Pertumbuhan bakteri
Pemanasan global juga sanggup meningkatkan pertumbuhan basil berbahaya di laut. Debu dari tanah yang tertiup ke bahari meningkatkan kadar besi ke bahari dan membuat basil berkembang biak semakin subur. Sebuah studi di American Association untuk Advancement of Science menyampaikan debu memicu pertumbuhan vibrio, yaitu basil bahari yang menimbulkan gastroenteritis dan penyakit menular pada manusia.
6.      Penyebaran penyakit
Peningkatan panas dan curah hujan yang diakibatkan perubahan iklim membuat penyakit lebih gampang untuk menyebar. Terutama penyakit yang disebabkan oleh basil yang bertumbuhannya dipengaruhi cuaca dan suhu udara. Seperti malaria, kemungkinannya lebih tersebar ke daerah-daerah gres dipicu oleh suhu udara yang meningkat. Curah hujan juga diduga sebagai faktor yang menimbulkan penyakit yang ditularkan melalui air gampang menyebar. Terutama penyakit yang dibawa oleh serangga.




BAB III
PEMECAHAN MASALAH

Solusi dalam Meminimalkan Pemanasan Global
Telah kita ketahui bahwa pemanasan global sangat berdampak pada kelangsungan hidup manusia, salah satanya dari segi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan pun tidak tanggung – tanggung ibarat yang dijelaskan di atas. Untuk mengatasi hal itu, diharapkan langkah – langkah pasti semoga sanggup meminimalkan dampak yang ditimbulkan oleh pemanasan global.
Pemanasan global sanggup diminimalkan dengan cara sikap kita sehari – hari. Selain itu, keberhasilan solusi pemanasan global tidak terlepas dari peraturan dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah dalam mengurangi dampak pemanasan global.
Berikut ini langkah – langkah yang sanggup diterapkan dalam kehidupan sehari – hari dalam mengurangi dampak pemanasan global.
1.      Konservasi lingkungan, dengan melaksanakan penanaman pohon dan penghijauan di lahan – lahan kritis. Tumbuhan hijau mempunyai tugas dalam proses fotosintesis, dalam proses ini tumbuhan memerlukan karbondioksida dan menghasilkan oksigen. Akumulsi gas – gas karbon di atmosfer sanggup dikurangi.
2.      Menggunakan energi yang bersumber dari energi alternatif, guna mengurangi penggunaan energi materi bakar fosil. Emisi gas karbon yang terakumulasi ke atmosfer banyak dihasilkan oleh pembakaran materi bakar fosil. Kita mengenal bahwa paling banyak mesin kendaraan dan industri digerakkan oleh mesin yang memakai materi bakar fosil. Karena itu, diupayakan sumber energi lain yang kondusif dari emisi gas – gas ini, contohnya energi matahari, air, angin, bioenergi, energi geothermal.
Di tempat tropis yang kaya akan energi matahari diharapkan muncul teknologi yang bisa memakai energi ini, contohnya dengan kendaraan beroda empat tenaga surya, listrik tenaga surya. Sekarang ini sedang dikembangkan bioenergy, antara lain biji tumbuhan jarak (Jathropa sp.) yang menghasilkan minyak.
3.      Daur ulang dan efisiensi energi. Penggunaan minyak tanah untuk menyalakan kompor di rumah, menghasilkan asap dan jelaga yang mengandung karbon. Karena itu sebaiknya diganti dengan gas. Biogas menjadi hal yang baik dan perlu dikembangkan, contohnya dari sampah organik.
4.      Upaya pendidikan kepada masyarakat luas dengan memperlihatkan pemahaman dan penerapan atas prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Dimensi manusia
Manusia berperan sebagai pengguna, perusak, dan pelestari alam. Manusia harus diberi kesadaran akan pentingnya alam bagi kehidupannya. Alam mempunyai keterbatasan dibanding kemampuan insan dalam mengeksploatasi alam. Manusia memanfaatkan alam guna memperoleh sumber masakan dan kebutuhan sosial lainnya, tetapi disadari atau tidak tindakannya sanggup berakibat kerusakan factor factor ekologis. Karena itu insan harus menyadari bahwa ia dan perilakunya yakni cuilan dari alam dan lingkungan yang saling mempengaruhi.
b.      Penegakan aturan dan keteladanan
Pelanggaran atas tindakan insan yang merusak lingkungan harus menerima ganjaran. Penegakan aturan lingkungan menjadi cuilan yang penting guna menjaga kelestarian lingkungan, dan memberi imbas jera bagi yang melanggar. Penegakan aturan tidak memandang strata sosial masyarakat. Selain itu yakni panutan dan ketokohan seseorang memegang peranan penting. Mereka yang mempunyai pemahaman yang lebih baik (berpendidikan) terhadap lingkungan hidup hendaknya berperan memberi teladan dan sikap lingkungan yang baik pula kepada masyarakat. Misalnya, kita masih menemukan masalah tugas beberapa abdnegara pemerintah dibalik kerusakan hutan, baik dengan memperlihatkan modal maupun sumbangan bagi perambah hutan.
c.       Keterpaduan
Seluruh elemen masyarakat harus mendukung upaya pelestarian lingkungan dan sumber daya alam serta penegakan hukumnya. Upaya ini harus dilakukan secara komprehensif dan lintas sektor. Misalnya, untuk mengatasi emisi gas gas rumah beling akhir peningkatan jumlah kendaraan di Kota Jakarta, harus di atas secara bersama dengan tempat sekitar ibarat Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang. Karena pekerja yang memakai kendaraan bermotor setiap hari masuk ke Kota Jakarta bermukim di empat kota tersebut. Demikian halnya mengatasi banjir di Kota Gorontalo, misalnya, tidak sanggup diatasi dengan perbaikan kemudahan lingkungan dan membina kesadaran penduduk kota, tetapi secara menyeluruh dengan masyarakat di wilayah lain (hulu dan DAS) yang memberi bantuan terhadap tragedi banjir. Masyarakat dan pemerintah tempat terdekat ibarat Kabupaten Bone Bolango dan Kabupaten Gorontalo turut bertanggung jawab dalam upaya penanggulangan banjir di Kota Gorontalo. Secara geografis, terdapat tempat pedoman sungai dimana dua sungai besar yang melewati dan bermuara di kota ini. Karena itu musibah dan kerusakan lingkungan tidak sanggup dipilah berdasarkan wilayah administratif semata, tetapi bersifat area geografis ekologis.
d.      Mengubah pola pikir dan sikap
Faktor faktor lingkungan fisik, mahluk hidup lain dan insan mempunyai tugas masing masing dalam lingkungan hidup. Manusia sebagai mahluk yang diberi kemampuan logika harus bisa memandang kepentingan hidupnya terkait dengan kehidupan mahluk hidup lain beserta insiden proses-proses alam. Sikap dan sikap insan terhadap alam cepat atau lambat memberi berdampak pada lingkungan hidupnya. Peduli terhadap lingkungan intinya merupakan sikap dan sikap bawaan manusia. Akan tetapi munculnya ketidak pedulian insan yakni pikiran atau persepsi yang berbeda-beda ketika insan berhadapan dengan problem lingkungan. Manusia harus memandang bahwa dirinya yakni cuilan dari unsur ekosistem dan lingkungannya. Naluri untuk mempertahankan hidup akan memberi motivasi bagi insan untuk melestarikan ekosistem dan lingkungannya.
e.       Etika lingkungan
Kecintaan dan kearifan kita terhadap lingkungan menjadi filosofi kita perihal lingkungan hidup. Apa pun pemahaman kita perihal lingkungan hidup dan sumber daya, kita harus bersikap dan berperilaku cerdik dalam kehidupan. Dalam wujud budaya tradisional, kearifan lokal melahirkan budbahasa dan norma kehidupan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungannya. Selama masyarakat masih menghormati budaya tradisional yang mempunyai budbahasa dan nilai moral terhadap lingkungan alamnya, maka konservasi sumber daya alam dan lingkungan menjadi hal yang mutlak. Dalam kehidupan masyarakat demikian, budbahasa lingkungan tidak tampak secara teoretik tetapi menjadi pola hidup dan budaya yang dipelihara oleh setiap generasi. Etika lingkungan akan berdaya guna jikalau muncul dalam tindakan konkret dalam kehidupan sehari-hari.



BAB V
PENUTUP

1.     Kesimpulan
Pertumbuhan industri yang semakin pesat di zaman modern ini mempunyai dampak positif maupun negatif dalam kehidupan manusia. Dampak positif diantaranya sanggup menolong keadaan. Artinya, industri yang digadang – gadang sebagai sektor penopang perekonomian terbesar sanggup mengurangi pengangguran dan kemiskinan yang terjadi di suatu negara, Indonesia salah satunya.
Sehingga, untuk mengentaskan pengangguran dan kemiskinan secara besar – besaran, berarti industri akan semakin ditingkatkan. Padahal dalam satu industri saja mempunyai bantuan besar dalam meningkatkan pemanasan global. Apalagi industri yang semakin digalakkan lagi, menjadikan bumi sebagai target sempurna objek pemanasan global.
Adanya pemanasan global berdampak pada kelangsungan hidup manusia, salah satunya dari segi kesehatan. Dampak yang ditimbulkan sangat drastis. Pasalnya, dampak tersebut menyerang siapa saja, hingga alhasil menimbulkan kematian. Tentunya hal itu akan besar lengan berkuasa terhadap SDM yang semakin menipis.
Dampak besar adanya pemanasan global sanggup diminimalkan dengan langkah konkret yang sanggup diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Misalnya, menanam pohon di lokasi yang tandus, tidak berlebihan dalam memakai materi bakar, mendaur ulang barang bekas serta efisiensi energi, dan yang paling penting penanaman kesadaran pentingnya menjaga lingkungan.

2.     Saran
Dengan upaya meminimalkan dampak pemanasan global yang diterapkan dalam kehidupan sehari – hari, akan menjadikan dampak tidak terlalu berarti dalam kelangsungan hidup insan di muka bumi. Dimulai dengan langkah kecil tapi pasti, akan membuahkan hasil yang akan mengurangi dampak pemanasan global, terutama dari aspek kesehatan manusia.
Daftar Pustaka
3.     
3.     
KOMPAS.com - Perubahan iklim membawa dampak besar terhadap kesehatan manusia, kehidupan sosial, dan lingkungan tempat tinggal kita. Manusia terancam kekurangan air bersih, sumber-sumber makanan, dan tempat tinggal yang layak huni. Demikian kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di dalam rilisnya.
Antara tahun 2030 - 2050, perubahan iklim diduga akan menimbulkan kenaikan angka ajal sebesar 220 ribu jiwa per tahun akhir malanutrisi, diare, dan udara panas.
Pemanasan global
Selama lebih dari 50 tahun, kegiatan manusia, terutama pembakaran fosil, ibarat kerikil bara dan minyak bumi, telah melepas sejumlah besar karbon dioksida dan emisi gas lainnya. Gas-gas ini kemudian terperangkap di bawah lapisan atmosfer dan menimbulkan pemanasan global.
Dalam 130 tahun terakhir, dunia telah menghangat sekitar 0,85 derajat C. Tiga dekade terakhir ini atau terhitung semenjak 1850, bumi menjadi lebih panas dari sebelumnya.
Akibatnya, lapisan es bumi mencair, permukaan bahari naik, dan pola presipitasi berubah. Alhasil, insiden cuaca ekstrem menjadi lebih intens dan sering.


Dampak pemanasan global terhadap kesehatan
Meski pemanasan global memberi beberapa laba lokal, ibarat lebih sedikit ajal akhir cuaca hirau taacuh dan peningkatan produksi masakan di beberapa tempat, secara keseluruhan imbas kesehatan akhir perubahan iklim cenderung sangat negatif.
Perubahan iklim memengaruhi determinan sosial dan lingkungan kesehatan, kita semua kekurangan udara dan  air minum yang bersih, tidak cukup produksi pangan menimbulkan banyak kelaparan dan harga melambung tinggi, serta semakin sedikit lingkungan hidup yang layak untuk ditinggali.
Pada akhirnya, semua ini memicu timbulnya bermacam-macam penyakit, mulai dari malanutrisi, sakit kulit, hingga gangguan napas, menurunnya tingkat kesuburan, hingga kelainan perkembangan otak pada bayi.
Suhu ekstrem
Suhu panas yang ekstrem berkontribusi eksklusif terhadap tingkat ajal akhir penyakit jantung dan pernapasan khususnya di kalangan orang tua, demikian kata WHO. Saat insiden gelombang panas tahun 2003 di Eropa, misalnya, dilaporkan ada lebih dari 70.000 orang tewas.
Temperatur yang tinggi juga meningkatkan kadar ozon dan polutan lain di udara yang memperburuk penyakit jantung dan pernapasan.
Serbuk sari (polen) dan alergen udara  juga meningkat di cuaca panas yang ekstrem. Hal ini sanggup memicu asma, yang memengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia. Peningkatan suhu yang sedang berlangsung diduga kuat akan semakin meningkatkan beban kesehatan ini.
Bencana alam dan variabel curah hujan
Secara global, jumlah musibah yang berafiliasi dengan cuaca dilaporkan naik hingga tiga kali lipat semenjak tahun 1960-an. Setiap tahun, tragedi ini menimbulkan lebih dari 60.000 kematian, terutama di negara-negara berkembang.
Naiknya permukaan bahari dan insiden cuaca ekstrim akan semakin menghancurkan tempat tinggal kita, kemudahan medis dan layanan penting lainnya.
Lebih dari separuh  populasi dunia hidup di wilayah yang hanya berjarak 60 km dari laut. Mereka akan terpaksa pindah, dan pada gilirannya, risiko banyak sekali imbas kesehatan akan semakin tinggi, termasuk gangguan mental dan penyakit menular.
Naiknya variabel curah hujan, air hujan dan air tanah yang mengandung asam akhir polusi, secara eksklusif memengaruhi suplai air higienis di seluruh dunia.

Kurangnya air higienis terbukti sanggup meningkatkan risiko penyakit diare, yang membunuh sekitar 760.000 belum dewasa berusia di bawah usia 5 tahun, setiap tahun. Dalam masalah ekstrim, kelangkaan air menimbulkan kekeringan dan kelaparan.
Pada simpulan kurun ke-21, perubahan iklim cenderung meningkatkan frekuensi dan intensitas kekeringan dalam skala regional dan global.
Frekuensi dan intensitas banjir juga meningkat, begitupun dengan curah hujan yang ekstrim. Banjir mencemari persediaan air tawar, meningkatkan risiko penyakit yang terbawa air, dan membuat tempat berkembang biak bagi serangga pembawa penyakit ibarat nyamuk dan tikus.
Banjir juga menimbulkan luka-luka fisik dan mental yang tidak terhitung, rumah-rumah rusak, mengganggu pasokan medis, masakan dan pelayanan kesehatan.
Meningkatnya suhu dan variabel curah hujan,  cenderung menurunkan produksi masakan pokok di banyak daerah. Hal ini akan meningkatkan prevalensi gizi buruk, yang hingga ketika ini menimbulkan 3,1 juta ajal setiap tahun.
Pola infeksi
Kondisi iklim sangat memengaruhi tingkat penyebaran penyakit dan memperpanjang animo penularan penyakit. Misalnya, perubahan iklim diproyeksikan akan secara signifikan memperluas  wilayah hidup siput penyebab penyakit  schistosomiasis di Cina.
Penyebaran penyakit malaria juga sangat dipengaruhi oleh iklim. Ditularkan melalui nyamuk Anopheles, setiap tahunnya malaria membunuh sekitar 600 ribu orang, terutama di Afrika.
Nyamuk Aedes penyebab demam berdarah juga sangat sensitif terhadap cuaca. Studi ilmiah membuktikan, penyebaran penyakit malaria semakin meluas akhir perubahan iklim yang terjadi kini ini.
Mengukur imbas kesehatan
Mengukur imbas kesehatan dari perubahan iklim, tidak bisa menghasilkan angka yang pasti tapi kita bisa memperkirakannya.
Namun demikian, berdasarkan WHO, dengan mempertimbangkan hanya sebagian dari dampak kesehatan yang mungkin terjadi, dan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta kemajuan teknologi kesehatan, sanggup disimpulkan bahwa perubahan iklim  akan menimbulkan kenaikan angka ajal yaitu  sekitar 250.000 jiwa akan hilang  pertahun antara tahun 2030-2050, dengan perincian:
-          38.000 lantaran gelombang panas dan ini lebih banyak terjadi pada orang tua.
-          48.000 lantaran diare.
-          60.000 lantaran malaria.
-          95.000 ajal anak – anak lantaran malnutrisi.




SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA

Bumi kita semakin panas. Dampak pemanasan global yang dahsyat akhir ulah insan sedang kita rasakan sekarang. Oleh lantaran itu, kita harus melaksanakan sesuatu untuk meminimalkan dampak itu. Sekarang juga! Karena kalau tidak atau terlambat melakukannya, kehidupan insan akan terancam kehancuran.
Para industrialis hendaknya menyadari bahwa dalam era pasar dan kesadaran lingkungan global kini ini, teknologi dan produk yang ramah lingkungan yakni suatu keniscayaan. Produk dan teknologi yang merusak lingkungan lambat laun akan ditinggalkan.
Selain itu, sebetulnya masyarakat industri mempunyai kepentingan ekonomi untuk mencegah dampak negatif pemanasan global yang lebih luas terhadap ekonomi global. Karena, ibarat yang disebutkan dalam Laporan Stern (2007), perubahan iklim akhir pemanasan global bisa menurunkan konsumsi per kapita global 20%. Ini artinya daya beli dan undangan masyarakat global terhadap produk-produk industri dan perdagangan akan menurun. Oleh karenanya, kita berharap para teknolog industri terus membuat teknologi gres yang sanggup menyelamatkan manusia, lingkungan, dan ekonomi global dari kehancuran.
Dampak pemanasan global
Pemanasan global sanggup berdampak luas terhadap kehidupan manusia. Di antara dampak itu yakni mencairnya es di kutub utara dan selatan, dan lantaran itu, meningginya permukaan bahari global. Selain itu, terjadi perubahan dalam jumlah dan pola curah hujan yang sanggup menimbulkan banjir dan kekeringan. Akibat yang lain yakni perubahan cuaca yang ekstrem, kepunahan spesies tertentu, perubahan pola pertanian, dan peningkatan jenis vektor pembawa penyakit.
Efek negatif lainnya yakni kelangkaan air di belahan bumi tertentu, dan sebaliknya, kenaikan curah hujan yang ekstrem di belahan bumi lainnya. Temperatur yang panas juga berakibat jelek pada kesehatan (McMichael AJ et al. 2006). Selain itu, perubahan cuaca akhir pemanasan global akan berdampak pada meningkatnya kematian, pengungsian penduduk, dan kerugian ekonomi yang signifikan. Dampak tersebut akan semakin parah di cuilan dunia yang kepadatan penduduknya tinggi (IPCC Report 2007).
Pemanasan global juga berdampak jelek terhadap ekonomi dan keamanan global. Dalam Laporan Stern yang populer disebutkan bahwa perubahan iklim yang ekstrem akhir pemanasan global sanggup menurunkan produk domestik bruto global 1%, dan dalam skenario terburuk, konsumsi per kapita global sanggup turun 20% (The Stern Review 2006). Sedangkan dampak terhadap keamanan internasional di antaranya yakni meningkatnya kompetisi antarnegara terhadap sumber daya alam, migrasi masal, perubahan wilayah negara akhir kenaikan permukaan laut, dan konflik bersenjata, bahkan potensi konflik senjata nuklir.
Ramah lingkungan
Melihat dampak pemanasan global yang sangat jelek terhadap kemanusiaan dan lingkungan, sudah saatnya kita membuat dan memakai teknologi yang ramah terhadap lingkungan. Data menunjukkan, pemanasan global terus meningkat semenjak dimulainya revolusi industri pada tahun 1850-an. Hal ini menerangkan bahwa ada kekerabatan positif antara teknologi yang dipakai oleh insan dan peningkatan gas rumah beling antropogenik di atmosfer. Oleh lantaran itu, perlu terus diciptakan dan dipakai teknologi yang efisien yang sanggup meminimalkan pengeluaran gas rumah beling ibarat karbon dioksida (CO2).
Teknologi tersebut harus bisa mengurangi sebesar mungkin imbas negatif kegiatan insan terhadap kehidupan manusia, lingkungan, dan sumber daya alam. Demi kelangsungan hidup manusia, perlu terus diciptakan teknologi industri yang memungkinkan penggunaan sumber daya alam dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).
Di lain pihak, kita harus terus mengupayakan penemuan dan penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan. Sudah saatnya kita meninggalkan atau setidaknya mengurangi penggunaan materi bakar karbon, ibarat minyak, bensin, dan kerikil bara. Peningkatan gas rumah beling dan segala dampak negatifnya sangat bergantung pada penggunaan materi bakar karbon ini. Oleh lantaran itu, penggunaan energi alternatif yang ramah lingkungan ibarat energi sinar matahari, gelombang laut, udara, air, dan biofuel harus terus dikampanyekan.
Akan tetapi, penggunaan energi alternatif tersebut tentunya juga harus menguntungkan secara ekonomis. Di sinilah pentingnya penemuan teknologi yang sanggup memanfaatkan sumber energi secara efisien.
Namun demikian, penciptaan dan pemanfaatan teknologi industri yang efisien dan ramah lingkungan tidak akan optimal tanpa tugas pemerintah. Dengan banyak sekali instrumen kebijakannya, pemerintah harus terus mendorong diciptakan dan dimanfaatkannya teknologi itu.
Selain itu, pemerintah sebaiknya memperlihatkan insentif hemat yang memadai bagi penemu, pemroduksi, dan pengguna teknologi dan produk teknologi yang ramah lingkungan. Insentif tersebut, misalnya, memperlihatkan potongan pajak bagi pengguna teknologi dan produk yang ramah lingkungan. Sistem insentif lainnya, contohnya, memperlihatkan peringkat dan sertifikasi bagi pemanfaat teknologi, materi baku, energi, dan produk teknologi yang ramah lingkungan.
Sebaliknya, pemerintah juga sanggup menerapkan sistem disinsentif ekonomi, contohnya melalui pajak lingkungan atau pajak karbon bagi pengguna teknologi, produk, dan energi yang merusak lingkungan.

Oleh : Roby Arya Brata*)

*) Penulis, seorang Climate Leader penerima pembinaan Al Gore’s Climate Reality Project, Melbourne 25 – 27 Juni 2014.  

Sumber http://waidatinatin.blogspot.com