Monday, June 11, 2018

√ Deep Vein Thrombosis ; Penyebab, Tanda-Tanda Dan Penanganan




Deep Vein Thrombosis (DVT) merupakan kondisi dimana terdapat sumbatan bekuan darah di dalam pembuluh yang letaknya dalam di tubuh, terutama pada ekstremitas bawah. DVT terjadi pada vena dalam terutama pada vena yang terletak pada betis, paha, dan pelvis.


Mengenal deep vein thrombosis


Deep Vein Thrombosis (DVT) merupakan kondisi dimana terdapat sumbatan bekuan darah di dalam pembuluh yang letaknya dalam di tubuh, terutama pada ekstremitas bawah.


Gumpalan darah yang terbentuk di dalam pembuluh vena disebut trombosis vena. DVT yang biasanya ditemukan di pembuluh dalam di kaki, biasanya ada pada pembuluh yang berukuran besar yang berada pada otot betis dan paha.


Gejala


Pada beberapa kondisi gejala deep vein thrombosis (DVT) mungkin tidak ditemukan, bila ada tanda-tanda sanggup berupa:



  • Nyeri dan pembengkakan pada salah satu kaki, lebih sering terjadi pada betis

  • Nyeri andal di area sumbatan

  • Hangat bila disentuh

  • Permukaan kulit menjelma merah, terutama pada kaki kepingan belakang di bawah lutut

  • DVT biasanya terjadi pada satu kaki, walaupun tidak selalu, nyeri memberat ketika kaki ditekuk.


Penyebab


Di dalam tubuh terdapat dua jenis vena, yang pertama yakni vena superfisial yang terletak bersahabat permukaan kulit dan vena dalam yang terletak dalam otot. DVT terjadi pada vena dalam terutama pada vena yang terletak pada betis, paha, dan pelvis.


Dinding pembuluh vena sangat tipis dan halus sehingga sanggup membantu pedoman darah menjadi lebih cepat dan bercampur dengan antikoagulan secara bebas yang mencegah terjadinya penggumpalan atau pembekuan darah.


Ketika pasien berada dalam posisi yang sama – imobilisasi – dalam waktu yang lama, pedoman darah tidak lancar dan darah tidak bercampur dengan antikoagulan sehingga meningkatkan risiko terjadinya koagulasi darah yang memicu terbentuknya trombus.


Pada kondisi lain yang disebut hiperkoagulasi, darah menjadi lebih kental, misalnya pada keadaan paska operasi dimana jaringan, debris, kolagen, maupun lemak dilepaskan ke sirkulasi dan menjadikan koagulasi darah.


Dan kondisi terakhir yakni kerusakan dinding vena yang sanggup disebabkan oleh stress berat ataupun tindakan operasi invasif dimana dokter melaksanakan retraksi pada jaringan lunak menyerupai ligamen, otot, dan tendon yang sanggup memicu koagulasi.


Faktor risiko


Setiap tahunnya  deep vein thrombosis (DVT) diderita oleh 1 dari 1000 orang, semua orang sanggup menderita DVT, tetapi menjadi lebih sering ketika orang tersebut menginjak umur 40 tahun. Faktor risiko termasuk:



  1. Individu dengan riwayat DVT atau emboli pulmoner

  2. Individu dengan riwayat keluarga dengan stroke, penyakit jantung koroner, infark miokard, acute/chronic limb ischemia(ALI/CLI), DVT, atau emboli pulmoner

  3. Individu dengan riwayat imobilisasi yang usang – sesudah bepergian jauh naik pesawat/kereta, atau pasien post-operasi

  4. Gangguan pembuluh darah dimana terjadi kerusakan pada dinding pembuluh darah yang menjadikan pembentukan gumpalan darah (trombus), sanggup terjadi pada individu dengan riwayat trauma

  5. Individu dengan riwayat hiperkoagulasi – trombofilia, Hughes syndrome, riwayat kemoterapi, riwayat radioterapi, dan kehamilan

  6. Obesitas atau overweight

  7. Konsumsi estrogen pada pil kontrasepsi atau hormone replacement therapy (HRT).


Faktor risiko yang paling memengaruhi terjadinya DVT yakni riwayat stress berat dan imobilisasi dalam waktu lama.


Diagnosis


Pemeriksaan penunjang digunakan untuk menegakkan diagnosis penyakit deep vein thrombosis(DVT), sanggup dilakukan:



  1. D-dimer test: dilakukan dengan pengambilan darah untuk mendeteksi adanya sumbatan darah (trombus) yang sudah dihancurkan oleh plasmin dan beredar di dalam pedoman darah. Semakin tinggi nilai dari tes ini, berarti semakin banyak fragment trombus yang ditemukan. D-dimer dikatakan tidak akurat pada pasien dengan riwayat operasi, trauma, maupun pada pasien hamil

  2. Ultrasonografi (USG): digunakan untuk mendeteksi adanya trombus/sumbatan pada pembuluh darah, kadang disertai dengan Doppler dimana sanggup dilakukan pula evaluasi terhadap kecepatan pedoman darah di dalam pembuluh. Doppler sangat membantu dalam identifikasi ketika pedoman darah melambat atau bahkan tersumbat sepenuhnya, yang mungkin disebabkan adanya sumbatan/trombus

  3. Venogram: investigasi ini dilakukan bila investigasi D-dimer dan USG tidak sanggup mengonfirmasi diagnosis DVT. Pada investigasi memakai venogram, cairan kontras diinjeksikan pada vena di kaki. Cairan kontras ini sanggup mengalir ke seluruh kaki dan sanggup dideteksi dengan memakai sinar X, sehingga sanggup ditemukan citra menyerupai sekat hitam di pembuluh darah pada lokasi sumbatan.


Pencegahan


Pada populasi berisiko DVT, sanggup dilakukan pencegahan dengan berhenti mengonsumsi obat kontrasepsi, atau memakai compression stocking saat perjalanan jauh atau pada pasien post-operasi tulang/tulang belakang yang membutuhkan imobilisasi dalam waktu lama.


Selain itu, sanggup juga dilakukan kiat pencegahan DVT berupa: berhenti merokok, makan sehat rendah lemak tinggi serat, olah raga teratur minimal 150 menit/minggu yang dilakukan 3-4x/minggu, menurunkan berat badan pada pasien obesitas.


Dan bila sudah mempunyai berat tubuh ideal, selalulah menjaganya supaya tetap ideal. Pada individu yang akan perjalanan jauh (> 6 jam naik pesawat) disarankan untuk minum banyak air, melaksanakan olahraga kaki ringan dengan melaksanakan gerakan fleksi dan ekstensi, serta berjalan sebentar setiap jam.


Penanganan


Penanganan deep vein thrombosis (DVT) termasuk dengan konsumsi obat antikoagulan yang mengurangi koagulasi darah sehingga darah menjadi lebih encer. Penggunaan obat antikoagulan sanggup mengurangi pembentukan trombus atau mencegah pembesaran trombus yang sudah ada.


Obat antikoagulan yang digunakan pada perkara DVT sanggup berupa heparin atau warfarin. Heparin biasanya yang diberikan terlebih dahulu, lantaran bekerja cepat dalam mencegah pembesaran sumbatan. Setelah heparin diberikan, warfarin diresepkan sebagai pencegahan sekunder pembentukan trombus di dalam tubuh.


Komplikasi


Kondisi ini sanggup menjadikan nanah dan nyeri yang muncul di kaki yang sanggup berujung pada komplikasi berupa emboli pulmoner. Dimana kondisi ini merupakan kondisi yang mengancam nyawa lantaran emboli – gumpalan darah yang lepas dari trombus di kaki – sanggup terbawa pedoman darah dan menyumbat pembuluh darah di paru-paru.


Komplikasi berupa emboli pulmoner sanggup terjadi pada 1 dari 10 orang dengan DVT apabila tidak ditatalaksana sebagaimana mestinya. Gejala emboli pulmoner sanggup berupa sesak nafas yang memberat perlahan maupun secara tiba-tiba, nyeri dada yang memberat pada ketika inspirasi, dan jatuh mendadak – sinkop.


Semoga bermanfaat!


 


Baca juga:



Segera chat dokter untuk tanya jawab seputar permasalahan kesehatan Anda, pribadi dari Smartphone. GRATIS! Download aplikasinya di sini.


FS/JJ/MA



Referensi




Sumber https://www.go-dok.comm