Aneurisma aorta sanggup terjadi di beberapa lokasi menyerupai aorta torakal di dada atau aorta abdominal di perut. Penyakit ini dapat terbentuk dalam waktu yang usang tanpa ada tanda-tanda apapun. Jika berkembang dalam waktu singkat atau terjadi ruptur, tanda-tanda sanggup muncul secara tiba-tiba.
Mengenal aneurisma aorta
Aorta merupakan pembuluh darah paling besar di badan manusia, walaupun aorta mempunyai dinding yang tebal dan kuat, pada beberapa kondisi, dindingnya sanggup melemah dan menimbulkan dilatasi yang disebut aneurisma aorta.
Diagnosis aneurisma aorta ditegakkan jikalau dilatasi dinding aorta lebih dari 1.5 kali ukuran normal. Kondisi menyerupai ini biasanya tidak menjadikan tanda atau tanda-tanda yang spesifik kecuali dikala terjadi ruptur. Aneurisma aorta sanggup terjadi di beberapa lokasi menyerupai aorta torakal di dada atau aorta abdominal di perut.
Sedangkan aneurisma pada pembuluh darah lain sanggup terjadi pada pembuluh darah di otak atau yang disebut cerebral aneurysm, arteri popliteal di kaki, arteri mesenterika di usus, dan arteri splenik di ginjal.
Penyebab
Genetik merupakan salah satu yang berperan dalam terbentuknya aorta, menyerupai pasien dengan Marfan Syndrome, Loeys-Dietz Syndrome, ataupun Ehler-danlos Syndrome. Penyebab lain dari aneurisma aorta termasuk tekanan darah tinggi dalam jangka waktu panjang (hipertensi kronik), infeksi, atherosklerosis (terbentuknya plak di arteri), kolesterol tinggi, ataupun trauma.
Aneurisma aorta terbentuk sebagai jawaban dari trauma, infeksi, atau kelainan pada elastin dan kolagen pada dinding aorta.
Gejala
Aneurisma aorta sanggup terbentuk dalam waktu yang usang tanpa ada tanda-tanda apapun. Jika aneurisma berkembang dalam waktu singkat atau terjadi ruptur, tanda-tanda sanggup muncul secara tiba-tiba.
Gejala tersebut termasuk nyeri tajam pada dada, perut, atau punggung dengan karakteristik menyerupai ditusuk-tusuk atau disayat-sayat, sesak, sulit menelan, batuk, keringat dingin, pusing, mual, muntah, bunyi serak, berdebar-debar alasannya laju nadi yang cepat, dan turunnya tekanan darah. Nyeri atau rasa baal pada kaki juga sering ditemui jikalau terjadi kompresi oleh aneurisma terhadap serabut saraf.
Diagnosisis
Diagnosis aneurisma aorta sanggup ditegakkan dengan investigasi penunjang menyerupai foto rontgen, echocardiography, CT scan, maupun USG.
Pada masalah aneurisma aorta abdominal, dokter sanggup menemukannya dikala melaksanakan investigasi fisik dimana ditemukan massa berdenyut yang menonjol (bulging) di atas pusar yang lalu dikonfirmasi dengan USG ataupun investigasi radiologi lainnya.
Faktor Risiko
Faktor risiko termasuk usia di atas 65 tahun, merokok, C-reactive protein yang tinggi, homosistein yang tinggi, kolesterol tinggi, menderita hipertensi, sifilis, riwayat penyakit jantung koroner, dan kehamilan.
Pencegahan
Pencegahan sanggup dilakukan dengan mengontrol tekanan darah dengan tidur cukup, diet rendah garam, berhenti merokok, mengontrol kolesterol dengan diet rendah lemak.
Pada beberapa kasus, tetrasiklin dan doksisiklin dikatakan sanggup dijadikan sebagai obat pencegah aneurisma alasannya mempunyai properti yang menginhibisi metallopretinase dan sanggup menstabilkan kolagen dalam tubuh.
Penanganan
Terapi pembedahan merupakan terapi definitif untuk pasien dengan aneurisma aorta. Teknik pembedahan terbuka atau endovaskular. Pengambilan keputusan pembedahan didasarkan pada risk-benefit ratio, dimana risiko ruptur aneurisma ditimbang apakah lebih tinggi dibandingkan risiko tindakan pembedahan itu sendiri.
Untuk pembedahan pada aneurisma aorta abdominal, berdasarkan protokol yang berlaku, sanggup dilakukan operasi elektif dikala diameter aneurisma sudah lebih dari 5 cm (2 inchi). Pada pasien berusia 60-75 tahun, direkomendasikan untuk dilakukan tatalaksana secara farmakologi pada aneurisma dengan diameter kurang dari 5.5 cm.
Pengobatan farmakologi diberikan untuk aneurisma kecil atau untuk pasien geriatri – berusia di atas 60 tahun. Obat farmakologi (dengan obat-obatan) bertujuan mengontrol tekanan darah biar tidak tinggi, walaupun tidak secara pribadi menyembuhkan aneurisma tetapi mencegah perluasan dilatasi aorta.
Obat yang cocok sanggup berupa obat-obatan hipertensi golongan ACE inhibitor atau angiotensin II receptor blocker (ARB). Secara farmakologi juga sanggup diberikan beta-blocker untuk mengatur laju nadi dan statin untuk menurunkan kolesterol.
– Pembedahan terbuka (Open Sugery)
Open surgery dimulai dengan insisi yang membuka penggalan aorta yang berdilatasi, dilanjutkan dengan masuknya synthetic graft yang berbentuk menyerupai selang untuk menggantikan aorta yang berdilatasi.
Synthetic graft tersebut dijahit dengan tangan ke penggalan aorta yang normal biar kantung anuerisma tertutup oleh graft. Risiko teknik menyerupai ini termasuk paraplegia dan cedera pada saraf tulang belakang (korda spinalis).
– Endovascular Aneurysm Repair (EVAR)
Terapi endovascular merupakan teknik alternatif yang tidak seinvasif open surgery. Teknik ini dilakukan dengan meletakkan endovascular stent melewati insisi kecil pada kedua kaki ke aorta.
Risiko maut EVAR relatif rendah dengan masa rawat inap yang pendek. Hasil yang lebih baik ditemukan pada pasien dengan masalah aneurisma tanpa komplikasi atau aneurisma yang terdapat pada aorta descendan.
Komplikasi
1. Ruptur aorta
Ketika kondisi aneurisma aorta tidak ditangani dengan baik, komplikasi yang paling parah terjadi jawaban ruptur: pendarahan dalam yang masif, sanggup diawali dengan nyeri pada dada atau punggung, diikuti laju nadi yang tinggi, lemah, pusing, syok hipovolemik, dan hilang kesadaran.
Kolaps pada sistem kardiovaskular mempunyai risiko maut yang sangat tinggi. Teknik pembedahan belum tentu sanggup memperbaiki kembali pembuluh darah jikalau sudah terjadi ruptur, oleh alasannya itu kebanyakan pembedahan dilakukan secara elektif.
2. Diseci aorta
Selain ruptur, sanggup juga terjadi diseci aorta yaitu terbentuknya robekan pada dinding aorta yang sanggup terjadi pada penggalan dinding yang lemah. Darah sanggup masuk ke dalam robekan dan memisahkan lapisan pada dinding aorta.
Pada pasien dengan diseci aorta, tanda-tanda yang paling sering ditemui yaitu nyeri tajam menyerupai disayat. Darah keluar dari sirkulasi sanggup menjadikan penurunan kesadaran, stroke, kerusakan saraf, atau kerusakan organ bahkan kematian.
3. Regurgitasi aorta
Regurgitasi aorta terjadi dikala katup aorta di jantung mengalami kebocoran yang terjadi pada aneurisma aorta asenden dimana anuerisma tersebut mendistorsi gerakan katup aorta sehingga terjadi malfungsi. Pada kondisi menyerupai ini, pasien mengalami sesak nafas, nyeri dada, berdebar-debar, aritmia jantung, dan bahkan gagal jantung.
4. Penggumpalan darah
Penggumpalan darah sanggup terbentuk pada aorta yang berdilatasi, alasannya ajaran darah terganggu sehingga terdapat area dimana darah stagnan dan membentuk gumpalan darah. Gumpalan darah di aorta ini sanggup lepas dan menjadi emboli yang sanggup berpindah ke organ lain di badan yang sanggup menimbulkan iskemia ataupun stroke jikalau hingga ke otak.
Semoga bermanfaat!
Baca juga:
- Eklampsia ; Gejala, Diagnosis dan Penanganan
- Hemofilia ; Gejala Penyebab dan Penanganan
- Melanoma ; Penyebab, Gejala dan Penanganan
Gunakan fitur ‘Tanya Dokter’ untuk chat dokter seputar penanganannya. GRATIS! Download aplikasi Go Dok di sini.
FS/JJ/MA
Referensi
Sumber https://www.go-dok.comm