MEMAHAMI HAKIKAT SAINS
( PRODUK ILMIAH, PROSES ILMIAH, DAN SIKAP ILMIAH )
SERTA KONSEP DASAR SAINS
A. Pengertian Sains
Ilmu pengetahuan alam atau sains (science) diambil dari kata latin Scientia yang arti harfiahnya yaitu pengetahuan, tetapi kemudian berubah menjadi khusus Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains. Sund dan Trowbribge merumuskan bahwa Sains merupakan kumpulan pengetahuan dan proses. Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains yaitu istilah yang dipakai yang merujuk pada rumpun ilmu benda-benda alam dengan hukum-hukum yang niscaya dan umum, berlaku kapanpun di manapun (Vardiansyah, 2008 :11). Sains sebagai proses merupakan langkah-langkah yang ditempuh ilmuwan untuk melaksanakan penyelidikan dalam rangka mencari klarifikasi perihal gejala-gejala alam. Sedangkan Kuslan Stone menyebutkan bahwa Sains yaitu kumpulan pengetahuan dan cara-cara untuk mendapat dan mempergunakan pengetahuan tersebut.
Ilmu pengetahuan alam sendiri berasal dari kata sains yang berarti alam. Menurut Suyoso Sains merupakan pengetahuan hasil kegiatan insan yang bersifat aktif dan dinamis tiada henti-hentinya serta diperoleh melalui metode tertentu yaitu teratur, sistematis, berobjek, bermetode dan berlaku secara universal. Menurut Abdullah, Sains merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh atau disusun dengan cara yang khas atau khusus, yaitu dengan melaksanakan observasi, eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan demikian seterusnya saling berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain.
Dari pendapat di atas maka Sains merupakan pengetahuan dari hasil kegiatan insan yang diperoleh dengan memakai langkah-langkah ilmiah yang berupa metode ilmiah dan didapatkan dari hasil eksperimen atau observasi yang bersifat umum sehingga akan terus di sempurnakan dan saling berkaitan atau antara satu cara dengan cara yang lain terkait.
Pendapat Nash perihal ilmu pengetahuan alam diperkuat oleh pendapat Einstein (Nash, 1963) yang menyampaikan bahwa “Science is the attempt to make the chaotic diversity of our sense experience correspond to a logically uniform system of thought. In this single experiences must be correlated with the theoretic structure in such a way that the resulting coordination is unique and convicing” (Ilmu pengetahuan intinya berasal dari pengalaman-pengalaman eksklusif yang masih butuh Pembuktian. Pengalaman-pengalaman itu mesti disusun kembali dengan kerangka pemikiran yang logis serta dikaitkan dengan teori yang terstruktur baik sehingga kebenarannya sanggup meyakinkan dan sanggup diterima). Ilmu pengetahuan alam dipandang sebagai a logically uniform system of thought, atau ilmu pengetahuan alam merupakan suatu pola pikir dan seragam “A logically uniform system of thought” ini yaitu metode ilmiah.
Bernal (Bernal, 1969) dalam bukunya “science in History” menyampaikan untuk menjawab pertanyaan “apa manfaat dan arti dari pengetahuan alam “ternyata para ilmuwan menunjukkan tanggapan yang berbeda. Perbedaan arti “apa arti ilmu pengetahuan alam itu?” baik dari para ilmuwan yang berbeda maupun ilmuwan dari masa ke masa. Menurut perkembangannya. Pada awal pengembangannya, ilmu pengetahuan alam diartikan sebagai pengetahuan, atau pengetahuan umum yang berisi apa saja yang diketahui manusia. Kemudian berkembang lagi menjadi pengetahuan ilmiah yang rasional dan obyektif. Adapun latar belakang pekerjaan insan itu memang sanggup mensugesti pandangannya terhadap sesuatu. Artinya suatu obyek yang sama akan diartikan sangat berlainan oleh orang yang mempunyai latar belakang pekerjaan yang berbeda.
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris, kata sains berasal dari kata science yang berarti ”pengetahuan”. Science kemudian berubah menjadi social science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan sosial (IPS) dan natural science yang dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan ilmu pengetahuan alam (IPA). Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai: systematic and formulated knowledge dealing with material phenomena and based mainly on observation and induction (yang diartikan bahwa ilmu pengetahuan alam didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan induksi).
Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai a piece of theoretical knowledge atau sejenis pengetahuan teoritis. Sains merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari fenomena alam. Sains didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan perihal objek dan fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuwan yang dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan memakai metode ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa Sains merupakan cabang pengetahuan yang dibangun berdasarkan pengamatan dan pembagian terstruktur mengenai data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi daypikir matematis dan analisis data terhadap gejala-gejala alam. Dengan demikian, pada hakikatnya Sains merupakan ilmu pengetahuan perihal tanda-tanda alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan aturan yang teruji kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah.
B. Hakikat Sains
Sains dalam arti sempit telah dijelaskan di atas merupakan disiplin ilmu yang terdiri dari physical sciences (ilmu fisik) dan life sciences (ilmu biologi). Yang termasuk physical sciences yaitu ilmu-ilmu astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika, sedangkan life science meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi. Carin (1985) mendefinisikan Sains sebagai sistem pengetahuan alam semesta melalui pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan eksperimen. Sementara itu Hungerford dan Volk (1990) mendefinisikan Sains sebagai, (1) proses menguji informasi yang diperoleh melalui metode empiris, (2) informasi yang diberikan oleh suatu proses yang memakai training yang dirancang secara logis, dan (3) kombinasi antara proses berfikir kritis yang menghasilkan produk informasi yang sahih.
Berdasarkan pendapat tersebut sanggup disimpulkan bahwa Sains merupakan suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam bentuk kumpulan konsep, prinsip, teori dan hukum. Sains sanggup dipandang sebagai produk yaitu sebagai ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah, dan sanggup juga dipandang sebagai proses yaitu sebagai pola berfikir atau metode berfikirnya. Sedangkan perilaku yang diharapkan dalam metode ilmiah berupa perilaku ilmiah yang antara lain berupa hasrat ingin tahu, kerendahan hati, jujur, objektif, cermat, kritis, tekun, terbuka, dan penuh tanggung jawab.
Berdasarkan kurikulum 1994 untuk SD, Sains yang mulai diberikan di kelas II lebih bersifat menunjukkan pengetahuan yang dimulai dari pengamatan-pengamatan mengenai pelbagai jenis dan perangai lingkungan alam serta lingkungan buatan. Sains untuk belum dewasa didefinisikan oleh Paolo & Marten (dalam Iskandar, 1996) sebagai: (1) mengamati apa yang terjadi, (2) mencoba memahami apa yang diamati, (3) mempergunakan pengetahuan gres untuk meramalkan apa yang akan terjadi, dan (4) menguji ramalan-ramalan di bawah kondisi-kondisi untuk melihat apakah ramalan tersebut benar. Dengan demikian pengajaran Sains di kelas III SD sudah membuka kesempatan untuk memupuk rasa ingin tahu anak didik secara ilmiah.
Sains berupaya membangkitkan minat insan supaya mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya perihal alam seisinya yang penuh dengan diam-diam yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir diam-diam alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi yaitu lebar. Namun dari waktu jarak tersebut semakin usang semakin sempit, sehingga semboyan ” Sains hari ini yaitu teknologi hari esok” merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan sekarang Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), mirip mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).
Sains membahas perihal gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Winaputra, 1992 : 122) bahwa Sains merupakan ilmu yang berafiliasi dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen. Pada hakikat ini, Sains atau sains ada empat macam yaitu sebagai produk, proses, perilaku dan teknologi. Adapun penjelasannya sebagai berikut.
1. Sains sebagai Produk
Sains sebagai produk yang meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori. Pada tingkat dasar sains dibedakan menjadi tiga, yaitu ilmu biologi (life science) yang mempelajari perihal kehidupan makhluk hidup meliputi anatomi, fisiologi, zoologi, citologi, embriologi, mikrobiologi contohnya yaitu siswa mempelajari perihal salah satu sifat air yang sanggup mengalir dari daerah tinggi ke daerah yang lebih rendah dan mendeskripsikan cara penggunaan air secara baik dan benar di sekolah maupun di rumah. Ilmu fisik (physical sciences) yang mempelajari perihal astronomi, kimia, geologi, mineralogi, meteorologi, dan fisika. Sedangkan ilmu bumi, mempelajari perihal benda-benda langit dan bumi. Dengan mempelajari ketiganya yaitu ilmu biologi, ilmu fisik, dan ilmu bumi siswa sanggup melestarikan, melindungi dan mempergunakannya secara bijaksana berkaitan dengan lingkungan sekitar.
2. Sains sebagai Proses
Sains sebagai proses, disini Sains tidak dipandang sebagai kata benda, kumpulan pengetahuan atau fakta untuk dihafalkan tetapi sebagai kata kerja untuk mencapai sesuatu. Siswa tidak hanya sebagai pendengar saja tetapi keaktifan siswa dan guru sebagai fasilitator yang menciptakan kelas menjadi lebih menyenangkan dan kondusif. Contohnya yaitu siswa mempelajari air tidak hanya menghafalkan, tetapi siswa mempelajarinya melalui pengetahuan awal yaitu pengamatan dan percobaan, mengumpulkan data dari pengukuran dan menghitung jumlah penggunaan air di sekolah setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap tahun ajaran. Mendiskusikan dengan siswa lain sehingga pengetahuan gres diperoleh dari kesulitan tanpa menghafalkan yang belum tentu sanggup diingat terus.
3. Sains sebagai Sikap
Sains sebagai perilaku yaitu memotivasi siswa untuk membuatkan pentingnya mencari tanggapan dan klarifikasi rasional perihal fenomena alam dan fisik serta melibatkan dalam acara pembelajaran. Apabila sains diajarkan berdasarkan cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang menunjukkan kesempatan berpikir kritis. Hal ini dihadapkan pada suatu duduk kasus mirip sanggup dikemukakan suatu duduk kasus atau perumusan duduk kasus kemudian memecahkannya. Siswa dalam memecahkan duduk kasus pada mata pelajaran Sains dengan bahan Air diajarkan menemukan, mencari dan menyidik sendiri perihal cara penggunaan air dengan mengajukan pertanyaan, mendengarkan pendapat orang lain, bekerjasama dalam kelompok, membaca buku dan mencari reverensi perihal air.
C. Pembelajaran Sains di Sekolah Dasar
Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) Sains di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh akseptor didik dan menjadi pola dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan akseptor didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru. Usman Samatowa mengemukakan empat alasan sains dimasukan dikurikulum SD yaitu:
1. Bahwa sains berfaedah bagi suatu bangsa
Kesejahteraan materiil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, alasannya yaitu sains merupakan dasar teknologi, sering disebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Seperti air dipakai untuk kincir air dan PLTA yang akan menguntungkan insan di dalam kehidupan sehingga bangsa akan mengalami kemudahan dalam mengatasi masyarakatnya.
2. Bila Sains diajarkan berdasarkan cara yang tepat
Sains merupakan suatu mata pelajaran yang menunjukkan kesempatan berpikir kritis contohnya diajarkan dengan mengikuti metode menemukan sendiri dengan dihadapkan pada suatu masalah. Dalam mengemukakan suatu masalah, siswa diminta untuk mencari dan menyidik mirip berpikir perihal bagaimana air sanggup dibersihkan sehingga layak untuk digunakan, berapa banyak air yang dipakai sebuah keluarga dalam satu hari, seminggu, sebulan, bahkan setahun.
3. Sains diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan siswa
Sains bukan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka tetapi lebih pada mencari sendiri atau praktek mencari informasi secara mandiri. Pembelajaran diarahkan pada pemahaman siswa perihal bahan air dengan percobaan-percobaan yang sederhana mirip cara mengolah air dengan benar dari yang tidak layak menjadi layak dipakai untuk kehidupan makhluk hidup.
E. Bidang Sains Dan Metode Penerapanya
Secara teori, sains tidak berfokus pada satu bidang saja melainkan sains sanggup di katakana sebagai Ilmu pengetahuan yangberisikan sanggup di artikan dalam banyak sekali macam bidang misalkan dalam bidang pendidikan dan bidang social
Dalam bidang pendidikan misalnya, Sains sanggup di gunakan sebagai media dalam menciptakan riset atau sebuah penelitian. Contohnya Siswa akan menciptakan sebuah penelitihan perihal microba atau kuman yang terkandung dalam susu kedelai, di situ siswa sanggup menerapkan metode sains dengan cara mengambil sampel dan menelitinya memakai Microscope.
Dalam bidang social, sains sanggup di jadikan sebagai mata pencaharian Misalkan dalam perjuangan pembuatan tape, di situ pedagang sanggup menerapkan ilmu sains perihal proses pembuatan tape atau proses fermentasi.
Penerapan sains dalam kehidupan sehari-sehari tentu sangat bermanfaat dan tentu akan sanggup membantu dalam menlakukan aktifitas baik aktifitas berguru mengajar atau dalam aktifitas yang lain. Ada pun metodenya dalam banyak sekali bidang mempunyai metode yang tidak sama tergantung jenis bidangnya .
D. Kesimpulan
Pada hakikatnya, IPA merupakan ilmu pengetahuan perihal tanda-tanda alam yang dituangkan berupa akta, konsep, prinsip dan aturan yang teruji kebenarannya dan melalui suaturangkaian kegiatan dalam metode ilmiah.
Sains sanggup di terapkan dalam banyak sekali macam bidang utamanya pada bidang pendidikan dan bidang social. dan masing-masing bidang proses penerapanya tidak sama.
Daftar Pustaka
Hamalik, Oemar. 2001. Sains dan kehidupan. Jakarta: Bumi Aksara
Mergendoller,J.R,dkk. 2000.hakikat ilmu alam. Journal Of Education Research.
Iskandar, S.M. (1996). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Depdikbud Dikti.
Sumber http://dikaayurahma.blogspot.com