Tuesday, January 23, 2018

√ Bagaimana Efek Media Umum Terhadap Pemilu?


Pengaruh Media Sosial Terhadap Pemilu


Di abad globalisasi ketika ini, di mana semua serba teknologi sehingga sangat besar lengan berkuasa sekali terhadap kehidupan manusia. Perkembangan teknologi dan informasi yang sangat terkenal di lingkungan masyarakat ketika ini ialah Media Sosial. Saat ini media umum sudah menjadi kebutuhan primer (pokok) bagi semua orang. Jejaring media umum yang dipakai oleh masyarakat banyak jenisnya diantaranya facebook, twitter, instagram, whatsapp dan lain-lain.

Penggunaan media umum akan berdampak secara nyata bila ia dikelola secara cermat. Dengan media sosial manusia sanggup melaksanakan banyak hal dengan lebih gampang dan instan. Sejak hadirnya internet, dengan gampang mendapatkan mengakses banyak sekali informasi dari banyak sekali media sosial. Tak hanya informasi, media umum juga sanggup mendekatkan kita dengan keluarga dan sobat yang berada jauh dari kita (berkomunikasi). Selain hal tersebut, banyak juga orang-orang yang memanfaatkan media umum sebagai lahan mencari uang. Dengan memakai skill yang dimilikinya, sehingga sanggup memperoleh penghasilan (uang) dari media sosial. Mulai dari mengembangkan blog, website, jual beli online, endorse dan masih banyak lagi. Hal tersebut juga menjadikan banyak orang yang memakai media umum dari mengembangkan kelompok umur dan dari banyak sekali kalangan mulai dari rakyat biasa hingga para pejabat pemerintah. Sehingga dalam hal tersebut, media umum juga berperan dalam dunia politik, menyerupai ketika pelaksanaan pemilihan umum terkhususnya ketika ini yaitu pilpres 2019.

Semakin banyaknya pengguna media sosial, para calon pejabat pun tertarik untuk memanfaatkan sosial media. Sehingga banyak menganggapan media umum ini lebih efektif untuk dijadikan kawasan menarik simpati masyarakat. Para pelaku politik berlomba-lomba memberikan apa yang akan mereka lakukan bila mereka nantinya duduk di dingklik pemerintahan. Tidak cukup hingga disitu, para calon pejabat pun kerap menyeret banyak sekali artis dari kalangan papan atas guna memprosikan dirinya melalui akun-akun artis tersebut. Sehingga calon penjabat tersebu, sanggup mendongkrak kepopuleritasannya dari dari artis-artis atau akun media umum dengan jumlah pengikut yang banyak.

Selain itu, media umum sanggup dipakai untuk komunikasi dua arah. Dengan banyak sekali kemudahan yang ada di media sosial, masyarakat juga sanggup dengan gampang memberikan aspirasinya dengan mengirim pesan melalui kolom komentar akun dari para calon pejabat. Hanya dengan mengetik, masyarakat sudah sanggup memberikan pesan kepada calon pejabat tersebut. Sehingga masyarakat sanggup dengan gampang memakai haknya untuk menyuarakan pendapat. Dengan begitu, para calon pejabat juga akan mengetahui apa gotong royong jadwal yang diinginkan oleh masyarakat. Tak heran bila banyak pejabat yang terpilih ialah mereka yang aktif dalam media umum dibandingkan yang tidak aktif dalam media sosial. Masyarakat menganggap para pejabat tersebut lebih memerhatikan masyarakat.

Walaupun demikian terkadang media umum pun juga sanggup menjadi sisi negatif dari pilar demokrasi. Pertama, manakala pemberitaan yang dimuat media massa tidak menurut fakta dan sumber terpercaya sehingga gosip tersebut malah menjadi fitnah dan menimbulkan keresahan bagi masyarakat atau yang biasa dikenal dengan sebutan “HOAX”. Kedua, apabila kantor gosip media tersebut dikuasai oleh perorangan dan kelompok yang berusaha menjadikan media massanya menjadi laba bagi dirinya dan merugikan kepentingan masyarakat. Semisal ketika gosip tersebut sanggup merugikan dirinya maka beritanya tidak dimuat. Sedang ketika beritanya merugikan kelompok lain dan menguntungkan dirinya maka gosip tersebut disampaikan secara besar-besaran. Media massa kesudahannya menjadi alat kekuasaan bagi yang memilikinya tetapi tidak menjadi media yang berperan bagi kepentingan masyarakat. Ketiga, apabila media massa tidak peka dan sensitif terhadap nilai–nilai masyarakat maka media justru akan memicu konflik sosial dan kerusuhan karena adanya pemberitaan dari media massa yang memicu terjadinya hal tersebut.

Melalui sosial, oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab (oknum yang tidak suka dengan lawan pejabat) juga sanggup menyebarkan wangsit dan gagasan radikal, menebar kebencian, dan merusak perdamaian. Mereka memanfaatkan media umum untuk menyebarkan isu-isu yang tidak benar semoga pejabat yang mereka dukung sanggup meraih kemenangan dalam pemilu. Kehadiran internet dan media umum sanggup meningkatkan partisipasi masyarakat terkait dengan isu-isu publik. Kondisi ini mengakibatkan tugas media sebagai pilar ke-empat demokrasi semakin terancam.  Melalui  Facebook dan Twitter, masyarakat sanggup menggalang kekuatan sendiri untuk menolak kebijakan pemerintah yang dirasakan bertentangan dengan hati nurani masyarakat. 

Maka sanggup dikatakan sosial media sangat besar lengan berkuasa terdapat pemilu. Sehingga hal yang perlu kita lakukan ialah lebih berhati-hati dalam mendapatkan informasi di media sosial. Kita dilarang cepat percaya terhadap suatu isu sebelum isu tersebut terbukti kebenarannya.

Sumber http://dikaayurahma.blogspot.com